The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Lanjut bermain



Sambil menyeringai, tanpa peringatan Hedrick menempelkan ujung besi panas itu ke perut Natasya atau lebih tepat ke arah pusatnya.


"AAAHHHH ! ! !" pekik Natasya mengisi ruangan begitu besi panas itu membakar kulitnya.


"Uuuuhhh.... Bukankah itu cantik," ujar Hedrick sambil melihat hasil mahakaryanya.


"Sangat cantik," puji Veeno.


"Hiks... Hiks... Kalian gila! Kalian orang-orang tidak waras!! Dasar bajingan!!" caci maki Natasya dengan air mata mengalir di pipinya menahan sakit.


Seperti tidak memperdulikan ritihan kesakitan korban mereka, Hedrick terus menempelkan ujung besi tersebut ke bagian tubuh Natasya yang lain. Veeno juga tidak mau ketinggalan. Dengan mengunakan batang besi berbentuk berbeda, ia ikut menunjukan kebolehannya dalam menyiksa orang.


"ARGH..... Hentikan itu! Sakit....!!"


Natasya berteriak sejadi-jadinya berulang kali. Kini sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka bakar berbagai bentuk. Ada yang berbentuk persegi, segitiga, lingkaran dan bintang.


"Mulutnya terlalu berisik," kata Veeno kemudian. Ia melempar tongkat besi itu kesembarang arah. Suara yang dihasilkan begitu nyaring terdengar.


"Tenang, aku sudah meminta Tina membawakan sesuatu. Selagi kita menunggu, bagaimana kalau menghiasi tubuhnya dengan tindik? Bukankah gadis zaman sekarang suka menindik tubuh mereka?" saran Hedrick yang ikut melemparkan tongkat besi yang ada di tangannya.


"Tidak hanya para gadis, kulihat banyak juga dari kalangan remaja laki-laki dan orang dewasa menindik tubuh mereka. Tapi kita tidak punya alat tindik."


"Siapa yang butuh alat tindik jika kau punya..." Hedrick menghampiri lemari dan mengambil salah satu mesin pertukangan. "Staples elektrik."


"Ah, rupanya itu alat tindik. Aku kira untuk papan," ujar Veeno bertingkah bodoh.


"Apa lagi yang mau kalian lakukan? Aku mohon lepaskan aku. Hiks... Hiks... Tidak cukup puas kah kalian menyiksaku seperti ini?" pinta Natasya sambil terus memohon.


"Puas? Seharusnya kau berpikir dulu. Apa penyebabnya kau bisa berada disini?" tanya Hedrick dengan lirikan tajam.


"Penyebab?"


Natasya teringat atas semua yang ia lakukan pada Hedrick. Ia pikir dapat berbuat sewena-wena hanya semata-mata memiliki kekuatan ayahnya yang melindunginya. Namun ia ternyata salah. Karna sikapnya inilah ia telah menyinggung seseorang yang sepatutnya tidak ia singgung sejak awal.


"Baiklah kalau begitu aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyinggumu paman Hedrick. Aku mohon lepaskan aku. Aku janji tidak akan berani melakukannya lagi," dengan air mata memabasahi pipinya Natasya sadar atas kesalahan yang ia perbuat tapi di dalam hatinya. "Tck! Kalian berdua harus membayar atas penghinaan ini. Lihat saja nanti! Setelah aku berhasil keluar dari tempat ini aku pastikan kalian menekap di balik jeruji sampai membusuk!!"


Hedrick mengetahui ketidaktulusan dalam kalimat permintaan maaf tersebut. Dengan raut wajah tanpa ekspresi ia mengarahkan Staples elektrik itu lalu menembakannya ke arah Natasya. Isi Staples elektrik tersebut menancap di dada Natasya.


"Aw! Kenapa kau masih menembak ku dengan alat itu?!!" bentak Natasya dengan nada tinggi.


"Karna kau memanggilku dengan sebutan “paman“. Itu terdengar menjijikan saat kau menyebutkannya. Ketahuilah kita tidak sedekat itu."


Hedrick kembali menembakan Staples ke sekujur tubuh Natasya. Walau Staples itu tidak terlalu menyebabkan luka yang parah namun tetap saja sakit. Apalagi begitu menancap di tato Natasya, oh maksudnya luka bakar akibat besi panas sebelumnya.


"Aw! Itu sakit tahu! AHH!! Hentikan! Aku rasa otakmu itu memang sudah tidak waras!! Sebaiknya kalian cepat lepaskan aku."


"Kalau tidak kenapa?"


"Papaku pasti datang menangkap kalian! Sampai saat itu tiba kalian akan tamat!!"


"Fftt... Hahaha..." tawa Hedrick dan Veeno sangking lucunya.


"Apa? Apanya yang lucu?!!"


"Kau yang lucu!" tunjuk Hedrick tepat ke wajah Natasya. "Bagaimana bisa papamu itu datang dan menangkap kami? Dia saja tidak tahu kau ada disini."


"Mengetahui aku hilang, papa tentunya akan segera mencari ku. Aku yakin papa sedang menuju kesini dengan sekelompok anggota polisi! Tamat lah riwayat kalian!!" teriak Natasya.


"Oh... Aku jadi takut," ujar Veeno namun senyumnya tetap mengerikan.


"Sudah seharusnya. Sebaiknya kalian cepat lepaskan aku. Aku janji akan memberi keringanan agar hukuman kalian tidak terlalu berat. Paling kalian cuman akan menekap di balik jeruji besi seumur hidup."


"Jika dia sudah berkata demikian, apa boleh buat."


"Dasar makhluk bodoh! Kalian pikir aku mau melakukannya. Akan kubuat kalian menderita lebih parah dari yang kalian lakukan padaku!" batin Natasya. Ia kira sudah berhasil menipu Hedrick dan Veeno.


Tok! Tok! Tok!


Baru hendak menurunkan Natasya tiba-tiba pintu diketuk. Hal itu membuat Veeno mengurungkan niatnya dan lebih membuka pintu terlebih dahulu.


"Siapa?" tanya Veeno sambil memutar knop pintu lalu membuka nya. "Ternyata Tina."


"Maaf mengganggu tuan muda. Saya disini cuman ingin mengantarkan barang yang diminta," Tina menyodorkan kotak kecil berwarna coklat.


"Oh, aku sudah lama menunggu nya."


"Ma-maafkan saya telah membuat anda lama menunggu," Tina segera membungkuk minta maaf pada Veeno.


"Tidak apa. Jangan diulangi lagi. Pergilah."


"Baik. Terima kasih atas kemurahan hatinya. Saya undur diri."


"Raut wajah Wanita itu sepertinya sangat ketakutan. Tapi itu tidak penting. Apa sebenarnya yang diberikan wanita itu?" pikir Natasya.


Veeno menutup kembali pintu. Ia berbalik sambil membuka kotak kecil yang diberikan Tina. "Senar pancing dan jarum jahit medis? Untuk apa ini?"


"Kau bilang tadi dia terlalu berisik. Jadi kenapa tidak kau jahit saja mulutnya."


"Aku pikir kau akan memberikan ku selotip tapi cara ini aku lebih menyukainya."


"Tidak! Bukankah tadi kalian mau melepaskan ku? Kenapa sekarang..."


"Kau kira trik bayi itu akan mempan pada kami?" potong Hedrick. "Namun sebenarnya kami memang berniat melepaskan mu setelah ini."


"Benarkah?"


"Iya. Melepaskan mu dari kehidupan ini tepatnya."


"?!" Natasya tersentak kaget mendengar itu. Dia tak dapat membayangkan akan mati hari ini.


"Sekarang sebaiknya kau jangan banyak bergerak. Biarkan aku menjahit mulut kecilmu itu rapat-rapat."


Melihat jarum yang semakin mendekat membuat Natasya meronta-ronta. Hedrick harus turun tangan tubuh dan kepala Natasya agar tidak terlalu banyak bergerak. Sedangkan Veeno mulai menusukkan jarum medis itu ke bibir Natasya. Setiap jahitan diiringi dengan aliran darah membasahi senar pancing tersebut. Natasya sama sekali tidak dapat berteriak lagi. Mulutnya sungguh terasa sakit dan perih. Hanya ada air mata yang mengalir untuk mengekspresikan rasa sakit yang ia rasakan.


"Selesai," kata Veeno sambil menyekat keringat di dahinya. Tangannya kini bernodah merah. "Dengan begini kita bisa melanjutkan permainan dengan tenang."


"Kau benar sekali. Aku mau melanjutkan menindiknya," Hedrick kembali menggapai mesin Staples dan mulai memberi tindikan pada kedua daun telinga Natasya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε