
"Si pelaku menggunakan angka dan tanda baca ini sebagai kode. Dengan huruf Q W E R T Y U I O P merupakan angka satu sampai nol dan sisa huruf lainnya berupa lambang dan tanda baca. Kami menggunakan kunci ini untuk memecahkan kode tersebut dan akhirnya berhasil," sambungnya.
"Jadi, apa isi kode pertama?"
"Isinya “Saya suka wanita cantik dengan mata biru“," kata petugas polisi itu sambil menyodorkan selembar kertas hasil penyelesaian dari kode pertama.
"“Saya suka wanita cantik dengan mata biru“?" ulang kepala polisi tersebut dengan tanda tanya. "Apa maksudnya? Seingatku korban pertama bermata coklat."
"Mungkin itu sebuah teka-teki?" kata detektif menebak-nebak.
"Lanjut ke kode kedua."
"Kode kedua “Tato mawar merah muda berduri“."
"“Tato mawar merah muda berduri“," ulang detektif tersebut. "Tato. Kemungkinan besar yang dimaksud gambar tato yang diukir di kulit manusia. Apa ada diantara korban yang memiliki tato mawar merah muda berduri di tubuh mereka?"
"Sayangnya sampai sekarang tidak ada satupun korban yang memiliki tato ditubuhnya," jelas salah satu petugas polisi.
"Apa mungkin para si pelaku itulah yang memiliki tato tersebut?"
"Kecil kemungkinan mereka malah mengekspos ciri-ciri mereka sendiri. Itu sama saja minta ditangkap," kata detektif itu menyangkal pikiran salah satu rekannya.
"Pak, kami sudah selesai memecahkan kode ketiga dan kode keempat," ujar petugas polisi yang bertugas memecahkan kode. Ia meletakan dua lembar kertas di atas meja.
"“Oops, kode sebelumnya salah“," baca petugas polisi itu pada kode ketiga.
"AAH!! Mereka sengaja mempermainkan kita!" geram kepala polisi sambil menepak meja.
"Kode keempat isinya “Kami kembali“. Kode ini ditemukan pada korban yang dilumuri semen. Waktu itu lebih dari tiga minggu sejak kejadian korban ketiga. Sepertinya mereka tidak ada di kota selama tiga minggu itu," pikir sang detektif.
"Hah... Bagaimana dengan kode kelima dan keenam?"
"Kode keenam hampir selesai," jawab salah satu petugas pemecahan kode.
"Ini kode kelima nya, pak."
"Hmp! “Sepasang kekasih selingkuh satu sama lain" isi kode ini tidak berarti apa-apa sama sekali."
"Cuman kode ini yang ditulis dengan darah korbannya. Sepertinya kode ini dibuat secara sepontan hanya untuk memberi kesan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh mereka."
"Kenapa anda terpikirkan seperti itu, detektif?" tanya kepala polisi.
"Karna jika dilihat dari kode sebelumnya, semua kode dicetak pada selembar kertas dan memiliki makna yang sama sekali tidak mengarah pada korban dimana kode tersebut ditemukan," jelas sang detektif.
"Apapun itu yang jelas mereka sengaja membuat kita berputar-putar. Tidak ada petunjuk sama sekali yang mengarah ke si pelaku kejahatan. Semuanya mereka lakukan dengan sangat rapi dan bersih. Mereka bukanlah pembunuh biasa. Paling tidak mereka telah melakukan kejahatan sebelum kasus ini terjadi."
"Apa mungkin mereka pembunuh bayaran? Dan mereka memanfaatkan target mereka untuk mencari tambahan uang dengan menjual organ tubuh korban-korbannya."
"Pak! Ada laporan dari universitas," teriak salah satu petugas polisi sambil menerobos masuk ke ruangan begitu saja.
"Laporan apa?"
"Telah ditemukan mayat perempuan di halaman depan universitas tersebut," jelas petugas polisi itu membuat semua orang diruangan tersebut kaget.
"Apa?! Bagaimana bisa itu terjadi? Ini sudah hampir jam 11 siang."
"Iya. Kenapa baru sekarang orang-orang menyadari kalau ada mayat di tempat seramai itu?"
"Apa tidak ada satupun orang yang curiga para pembunuh itu meletakan mayat ditengah-tengah keramaian? Mengingat mereka selalu melakukan pekerjaan kotor mereka pada malam hari dan mayat korban ditemukan paginya."
"Tidak. Menurut kesaksian dari beberapa mahasiswa, mayat tersebut memang telah ada sejak pagi hari. Mereka tidak menyadari kalau sebenarnya itu mayat karna mereka mengira itu merupakan sebuah patung gips."
"Sial! Baru saja kita berhasil memecahkan kode yang ada, mereka malah mulai beraksi lagi. Dasar para pembunuh sialan! Detektif, ayok pergi ke lokasi kejadian. Kita lanjutkan membahas kode ini lagi nanti."
"Baik, pak."
Kepala polisi dan detektif itu berangkat menuju universitas yang dimaksud. Sampai disana telah ramai orang yang ingin melihat investigasi tersebut. Sudah ada beberapa petugas polisi yang memang telah diperintahkan untuk memeriksa mayat perempuan itu. Awalnya mereka tidak mengira kalau apa yang ada di bawah patung kebangaan universitas ternyata mayat perempuan. Namun setelah diteliti lebih seksama itu memang mayat dengan tubuh tertutup cat semprot. Setelah pemeriksaan, mayat tersebut dievakuasi untuk investigasi lebih lanjut dan dilakukan otopsi serta memcaritahu identitas korban.
...⚛⚛⚛⚛...
Empat hari berlalu. Hedrick dan Veeno kembali ke vila hanya untuk bersantai menikmati kesejukan suasana hutan. Udara di kota terasa panas akhir-akhir ini walau sudah hampir memasuki musim gugur. Kedatangan Hedrick dan Veeno ini tidak diketahui oleh Felicia. Saat mereka datang Felicia sedang tidur siang sambil memeluk Daisy yang terbaring disebalahnya. Hedrick cuman melirik keduanya sekilas lalu pergi menyusul Veeno ke kolam berenang. Hari panas-panas seperti ini memang enak menghabiskan waktu berenang di kolam.
Jam 14.20 Felicia terbangun dari tidurnya. Ia menggosok matanya sambil menguap. Ia bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati agar Daisy tidak ikut terbangun. Karna terlalu asik bermain bersama Daisy, ia sampai tertidur, Felicia baru ingat kalau ia belum makan siang hari ini. Ia turun ke bawah dan meminta Tina menjaga Daisy sebentar selagi ia makan siang. Dengan cepat Tina menjalankan perintah tersebut. Ia lekas pergi ke kamar dimana Daisy berada. Sampai di kamar, Tina tidak segera masuk dikarenakan ia mendapati Hedrick ada di kamar tersebut. Ia melihat Hedrick tengah mengusap lembut rambut Daisy.
Hedrick baru saja selesai berganti pakaian setelah berenang sesaat ia melihat Felicia tergesa-gesa turun ke bawah. Mengetahui Daisy tinggal sendirian di kamar membuat Hedrick langsung ke sana. Karna sentuhan hangat dari telapak tangan Hedrick membuat Daisy tiba-tiba terbangun dan menangis. Biarpun raut wajah Hedrick tetap tenang namun dalam hati Hedrick dibuat bingung bagaimana cara menenangkan Daisy yang menangis. Semua tugas yang berhubungan dengan mengurus bayi biasanya Hedrick serahkan pada Tina dan Amy. Namun kali ini tidak ada siapa-siapa di kamar dan Hedrick tidak mungkin meninggalkan Daisy sendirian dalam keadaan menangis.
"Cup... Cup... Jangan menangis Daisy. Sebentar lagi ibumu akan kembali."
Hedrick mencoba menghibur Daisy dan berharap Daisy kembali tertidur namun itu sepertinya tidak berhasil. Daisy malah semakin menangis dengan kencang.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan? Pekerjaan lembut seperti ini sama sekali tidak cocok untukku."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε