The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Kunci untuk memecahkan kode



Apa yang Hedrick lakukan sendari tadi rupa-rupanya bukanlah bentuk dari rasa kasihan tapi melainkan awal dari penderitaan korbannya. Semenit berlalu dari Angela menelan pil tersebut, tiba-tiba...


"AAAHH ! ! !" teriak Angela seketika mengisi ruangan. "Sakit! Sekujur tubuhku sakit sekali! A-apa yang terjadi. Stt... AAH!"


Angela meringkuk kesakitan. Entah mengapa tiba-tiba sekujur tubuhnya diserang rasa sakit yang hebat. Itu bahkan lebih parah dari cambukan Veeno. Rasanya seperti batangan besi dihantamkan ke tubuhnya secara bertubi-tubi sampai membuat tulang-tulangnya remuk, atau puluhan pedang ditusukan ke sekujur tubuhnya tanpa henti. Angela terus berteriak kesakitan diringin suara tangis yang memilukan.


"Astaga?! Apa yang terjadi padamu? Sepertinya aku salah memberi obat," kata Hedrick pura-pura tidak tahu. Ia membaca lebel yang ada pada botol obat di tangannya.


"Hei, bukankan ini racun yang sedang aku kembangkan? Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Veeno seketika merebut botol obat tersebut.


"Aku mendapatkannya dalam lemari penyimpanan di ruang koleksi tadi. Aku tidak tahu kalau itu racun. Maaf ya nona cantik," Hedrick menatap tajam pada Angela sambil menyeringai.


"Berengsek! Argh... Ternyata kau itu sama saja seperti dia! Kalian berdua adalah iblis," bentak Angela disela-sela rasa sakit yang dideritanya.


"Kaulah yang terlalu bodoh. Kau pikir aku akan merasa kasihan karna kau wanita berparas cantik? Aku malah lebih suka melihatnya menderita," bisik Hedrick di telinga Angela, lalu ia berdiri.


"Alah, kau berkata seperti itu karna kau sudah memiliki Felicia, iya 'kan?" celoteh Veeno mengejek.


Bugk!


Dengan raut wajah kesal Hedrick memukul perut Veeno menggunakan sikunya. Karna pukulan tersebut membuat Veeno meringkuk kesakitan sambil memengangi perutnya.


"Kau kejam sekali pada kakakmu ini," kata Veeno masih menahan sakit.


"Kaulah yang semakin menjengkelkan."


"Kenapa... Argh! Kalian melakukan ini padaku? Sstt... Apa salahku?!!" tanya Angela dengan nada tinggi.


"Salahmu? Tidak ada. Anggap saja kau sedang sial," jawab Veeno.


"Jadi nikmatilah perderitaan terakhirmu ini. Setelah itu kau akan bebas, dalam arti kematian."


"AAH!! Kalian pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal suatu hari nanti! AHH... Sakit sekali! Kenapa kalian tidak langsung membunuhku saja dari pada menyiksaku seperti ini?!!"


"Membunuh mu itu sangat mudah tapi itu terlalu manusiawi."


"Tapi Hedrick, kenapa kali ini kau malah menggunakan racun?" tanya Veeno sedikit penasaran karna mereka jarang menggunakan racun setiap kali bermain bersama korban mereka.


"Kau bilang ingin membuat seni sama seperti namanya, Angel-a. Sebagai seorang angel tentu dia harus tampil cantik layaknya angel yang turun dari langit. Akan sangat tidak benar jika angel dipenuhi luka dan jahitan serta memar. Maka dari itu aku menggunakan racun mu. Alasan lainnya, kulihat dia sangat lemah. Jika kita mengunakan sayatan atau pukulan, dia pasti tidak akan berteriak sekencang ini," jelas Hedrick.


"Oh, jadi itu alasannya. Kebetulan sekali aku memang membutuhkan tikus percobaan untuk racun yang sedang kuteliti ini."


"Dasar gila! Psychopath! Bajingan kalian berdua! Berdebah!!!" teriak Angela sejadi-jadinya mencaci-maki Hedrick dan Veeno.


"Berteriaklah semau mu. Kami tidak akan kemana-mana sampai kau meregang nyawa," kata Hedrick sambil menarik kursi yang ada di pojokan.


Angela terus berteriak kesakitan sambil mengeliat seperti cacing kepanasan. Sementara Hedrick dan Veeno cuman memperhatikannya sambil mengobrol santai. Hampir satu jam Angela merasakan penderitaan tersebut. Ia mati karna bunuh diri dengan cara membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Hedrick dan Veeno sudah menduga hal itu akan terjadi. Bagi seseorang yang meminum racun tersebut sudah dipastikan lebih memilih bunuh diri dari pada menahan rasa sakit yang teramat sangat menyiksa. Dengan cara mengakhiri hidupnya barulah mereka dapat bebas dari penderitaan tersebut.


Menyadari kalau mangsa mereka telah tewas, Hedrick dan Veeno mengangkat tubuh Angela lalu membaringkannya di meja kayu. Seluruh pakaian Angela dilepas sampai tidak ada sehelai kain pun menutupinya. Tubuh Angela lalu dibersihkan dari sisa darahnya yang menempelnya menggunakan air hangat. Setelah itu untuk menutupi bekas memar dan luka di tubuh Angela, mereka menggunakan cat semprot berwarna keperakan. Cat tersebut di semprotkan keseluruhan tubuh Angela kecuali rambutnya. Selesai mengecat tubuh Angela, barulah mereka mendandaninya menggunakan kostum angel lengkap dengan sayapnya yang telah disiapkan jauh-jauh hari. Kini Angela tampak seperti seorang angel sungguhan yang jatuh dari langit karna sayapnya patah.


Seperti yang sebelum-sebelumnya, Hedrick dan Veeno berangkat ke kota tepat tengah malam. Dengan karya seni baru yang siap dipamerkan, mereka memilih tempat yang lebih mencolok dari pertunjukan sebelumnya. Disepakati halaman depan sebuah universitas menjadi pilihan terbaik. Untuk menghindari kecurigaan dari para penjaga universitas, Veeno merusak setiap kamera pengawas yang mengarah ke halaman depan. Sementara Hedrick melumpuhkan dua penjaga yang ada di pos keamanan di pintu gerbang. Barulah setelah itu mereka meletakan jasat Angela tepat di bawah patung kebanggaan universitas. Tubuh Angela dibaringkan dengan sayapnya terbentang dan menutupi hampir sebagian tubuh Angela. Jika dilihat sekilas, mayat Angela sama sekali tidak terlihat seperti mayat. Ia jauh lebih mirip seperti patung gisp yang diukir sedemikian rupa mirip layaknya angel.


...⚛⚛⚛⚛...


"Pak!" panggil salah satu petugas polisi. Ia terlihat tergesa-gesa masuk ke ruangan kepala kepolisian.


"Ada apa? Apa ada korban lagi?" tanya kepala polisi tersebut sedikit kesal karna masalah pembunuhan yang tidak kunjung selesai.


"Tidak. Saya ingin menyampaikan kabar baik dari tim yang bertugas memecahkan kode. Mereka berhasil memecahkan kode pertama dan saat ini mereka sedang memecahkan kode selanjutnya," jelas petugas itu terengah-engah.


"Benarkah? Antar saya kesana sekarang!"


Mereka bergegas pergi ke tempat dimana petugas pemecah sandi berada. Sampai sana terlihat beberapa orang tengah sibuk memecahkan kode yang lain dari semua kasus pembunuhan berantai tersebut.


"Bagaimana hasilnya? Apa isi kode tersebut?" tanya kepala polisi tersebut.


"Iya, pak. Seperti yang anda lihat kami sedang berusaha memecahkan kode yang lainnya. Kami telah menemukan kunci untuk memecahkan kode ini. Sebenarnya ini sangat sederhana dan tidak sengaja terpikirkan. Setelah mengamati lebih seksama kami menyadari kalau pelaku cuman menggunakan angka dan beberapa tanda baca tertentu. Yang menjadi pertanyaan, kenapa si pelaku tidak menggunakan huruf atau simbol lainnya? Itu karna si pelaku cuman menggunakan satu tombol ganti lambang pada Keyboard smartphone."


"Tombol ganti lambang?"


"Seperti yang kita tahu kalau keyboard pada smartphone memiliki tombol yang diperuntukan untuk menampilkan lambang, tanda baca dan angka. Menekan satu kali tombol ini maka akan muncul tanda baca dan angka yang diinginkan dan jika menekan satu kali lagi maka akan memunculkan lambang lainnya," jelas petugas polisi itu sambil menunjukan keyboard pada hpnya.



.


.


.


.


.


.


ξκύαε