The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Perhatian



"Apa kau sudah selesai?" tanya Felicia sambil sedikit mengintip dari sela-sela jarinya.


"Kenapa kau harus menutup wajahmu? Apa kau masih malu melihat tubuhku?"


"Hm!" Felicia memalingkan mukanya sambil mendengus kesal tapi ia tidak bisa menyangkal hal itu. "Sekarang aku akan mengobati lukamu."


"Tidak perlu. Cuman luka kecil saja, nanti sembuh sendiri," Hedrick kembali membaringkan tubuhnya di sofa yang lain.


"Tidak bisa begitu! Luka seperti ini harus segera diobati, kalau tidak bisa infeksi. Jangan terus menolak!"


Felicia benar-benar bertindak tegas kali ini. Mau tidak mau Hedrick harus menurutinya. Felicia membuka kotak obat dan mulai mengobati luka Hedrick. Ternyata tidak hanya satu, masih ada beberapa luka kecil akibat pecahan kaca di sekujur tubuh Hedrick dan kaki kirinya terkilir. Dengan hati-hati Felicia membersikan semua lukanya lalu memperbannya.


"Sstt..." Hedrick refleks mendesit saat Felicia membersikan luka di kepalanya.


"Ups, maaf," Felicia lanjut mengobati luka Hedrick dengan lebih hati-hati. "Sebenarnya apa yang terjadi? Sudah tahu badai begini tapi kau tetap nekat datang ke vila."


"Aku..." Hedrick merasa ragu mengatakan alasannya yang sebenarnya. "Apa aku harus memberitahu mu jika aku ingin datang ke vilaku sendiri?"


"Tidak juga sih. Tapi kau terlihat bodoh jika datang kesini hanya untuk sekedar berkunjung. Kau tahu sedang terjadi badai di luar sana. Kenapa kau tidak duduk diam saja di rumah? Dengan begitu kau tidak akan berakhir mengalami kecelakaan."


"Kau..." kata-kata Hedrick terputus saat telapak tangan Felicia menyentuh dahinya.


"Tubuhmu sedikit panas. Sepertinya kau demam. Kau harus minum obat penurun panas sebelum demammu bertambah parah."


"Aah! Aku bukan anak kecil!"


Hedrick menepis tangan Felicia dan hendak bangkit berdiri. Namun tiba-tiba kepalanya diserang rasa pusing yang hebat. Hal itu membuat Hedrick kembali terduduk di sofa dan kepalanya jatuh dipundak Felicia.


"Makanya dengarkan omonganku. Sudahlah, jangan banyak bergerak. Sebaiknya kau istirahat saja."


"Dingin sekali," gumang Hedrick pelan.


Mendengar itu Felicia merangkulkan tangannya mendepap Hedrick dalam pelukannya. Dibiarkannya Hedrick bersandar pada tubuhnya mencari kehangatan. Felicia membelai rambut Hedrick berulang-ulang. Lama-kelamaan Hedrick pun tertidur. Nafas Hedrick benar-benar terasa panas saat berhembus ditekuk serta leher Felicia.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku malah memperlakukan dia seperti ini? Bukankah seharusnya aku membencinya?" Felicia menatap wajah Hedrick yang tertidur dalam pelukannya. "Hihi.... Tapi aku tidak bisa membantah kalau dia sungguh tampan. Ada kesenangan tersendiri saat melihat ia tidur seperti ini."


"Kakak... Tiffany," ngigau Hedrick dalam tidurnya.


Felicia sedikit dibuat tersentak begitu mendengarnya. "Kakak? Seingatku Hedrick hidup sendirian. Siapa kak Tiffany yang ia sebutkannya ini?"


"Bagaimana keadaan Mr. Hedrick, Miss. Felicia?" tanya Amy yang baru datang menghampiri dengan membawa semangkuk sup dan teh hangat.


"Dia sudah tertidur sebelum minum obatnya. Hah... Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia pikirkan? Kenapa ia mau menerjang badai hanya sekedar untuk datang ke vila ini?"


"Oh, itu mungkin karna berita perkiraan cuaca yang menyatakan akan ada topan malam ini. Saya rasa Mr. Hedrick khawatir pada anda."


"Apa? Tidak mungkin karna itu."


"Tidak mengherankan. Setiap ada badai Mr. Hedrick akan selalu datang ke vila. Di hujan deras seperti ini air terjun disebelah sering kali meluap dan menyebabkan banjir. Tahun lalu juga begitu. Mr. Hedrick bahkan rela datang tengah malam saat mendapat kabar sungai disebelah meluap dan menyebabkan longsor kecil. Mungkin karna ia takut terjadi longsor seperti dulu makanya dia datang."


"Apa benar sampai segitunya?"


Felicia tidak tahu-menau soal longsor itu sebab ia masih disekap di kamar. Namun tahun lalu ia memang perna merasakan guncangan seperti gempa bumi dan dengan cepat menghilang. Felicia tidak terlalu mengkhawatirkan soal itu. Jika memang benar ada gempa bumi atau bencana alam lainnya, dia tidak mengharapkan Hedrick datang untuk menyelamatkannya.


"Iya. Mr. Hedrick mungkin dingin dan tidak berperasaan tapi saya yakin dia adalah pria yang baik. Karna masa lalu nya yang kelam membuat ia jadi seperti ini," Amy menatap redup pada Hedrick.


"Tunggu, apa? Kak Tiffany? Dari mana anda tahu?"


"Hedrick tadi baru saja memanggil kak Tiffany dalam tidurnya."


"Saya tidak terlalu tahu tapi Mr. Veeno pernah cerita sedikit tentang masa lalu Mr. Hedrick. Kak Tiffany adalah kakak kandung Mr. Hedrick. Secara Mr. Hedrick sudah kehilangan ibunya sejak ia bayi, kak Tiffany inilah yang merawatnya. Tapi kakaknya meninggal dunia disaat umurnya baru 12 tahun. Semenjak kematian kakaknya inilah Mr. Hedrick menjadi seperti sekarang. Baginya hatinya telah hilang ikut terkubur bersama jazad kakaknya," jelas Amy.


"Ternyata begitu. Aku baru tahu sekarang. Tidak aku sangka ternyata kau memiliki seorang kakak yang begitu kau sayangi. Kepergiannya pasti sangat berat diterima olehmu. Hoam... Aku benar-benar... Belum mengengenal dirimu... Yang sebenarnya."


Felicia menguap karna diserang rasa kantuk yang berat. Karna tidak dapat bergerak Felicia terpaksa tidur sambil masih mendekap Hedrick. Amy berlalu pergi mengambil selimut lalu menyelimuti keduanya. Setelah itu ia kembali ke kamarnya sendiri sehabis membereskan kotak obat dan memasukan pakaian Hedrick yang basa ke keranjang.


...⚛⚛⚛⚛...


Besok paginya Hedrick terbangun lebih dulu dari Felicia. Kepalanya masih sedikit pusing saat ia mencoba duduk. Hedrick baru sadar kalau semalam ia tertidur di pangkuan Felicia. Melihat wajah manis Felicia yang tertidur membuatnya melamun sesaat.


"Apa semalaman aku tertidur di pangkuannya? Kenapa ia mau? Hah... Terkadang aku aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan?"


"Ah, Mr. Hedrick. Ternyata anda sudah bangun. Saya sudah membuatkan sup jamur. Apa anda ingin sarapan?" sapa Tina yang kebetulan lewat.


"Jam berapa sekarang?"


"07.30"


"Apa? Rupanya sudah sesiang itu. Astaga, aku tak akan sempat sampai ke kota. Belum lagi pohon tumbang masih menutupi jalan."


"Sebaiknya anda tidak perlu pergi kerja hari ini Mr. Hedrick. Kesehatan anda belum pulih sepenuhnya. Saya sudah memberitahu Mr. Veeno soal anda mengalami kecelakaan semalam. Ia telah memintakan cuti untuk anda."


"Kau cuman bilang aku mengalami kecelakaan saja, 'kan?" tanya Hedrick sambil melirik tajam pada Tina.


"Anda 'kan memang cuman mengalami kecelakaan?" kata Tina yang tidak mengerti maksud Hedrick.


"Baguslah kalau Tina tidak tahu aku demam. Setidak dia tidak akan memberitahu Veeno soal ini. Bocah itu bisa mengejekku habis-habisan," batin Hedrick. "Lupakan. Oh, iya. Bawakan saja supnya ke kamarku."


"Baik, Mr. Hedrick," Tina berlalu pergi kembali ke dapur.


Hedrick beranjak dari sofa hendak menuju kamarnya. Tapi sebelum itu ia membetulkan selimut Felicia lalu menepuk-nepuk pelan kepalanya.


"Terima kasih."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε