The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Persalinan Felicia



Di pagi hari yang kelabu. Setelah mandi dan berpakaian Felicia merasakan sakit yang tajam menusuk punggungnya namun dengan cepat menghilang. Tak berapa lama rasa sakit itu kembali dengan jeda beriringan. Ia megusap punggunya sambil mengatur nafas lalu berbalik mengelus perutnya. Ia baru sadar kalau perutnya saat ini sudah sangat turun tapi ia tidak terpikir akan melahirkan dalam jangka waktu dekat. Tidak mau dipusingkan soal itu Felicia lebih memilih menghabiskan sarapannya yang telah diantar Tina. Sambil menghibur diri dengan menonton acara di tv, ia menyadarkan tubuhnya di tempat tidur.


Sewaktu Tina datang untuk mengambil piring, Felicia meminta dibuatkan teh hangat. Tina segera memenuhi permintaan tersebut. Berbeda dengan Sara, Tina dan Amy memperlakukan Felicia sebagai nona di vila itu. Mereka telah merawat Felicia sejak Hedrick membawa Felicia ke vila. Dan bahkan mereka juga ikut membantu Felicia melahirkan bayi-bayinya. Keakraban mereka telah terjalin sejak lama. Tak jarang mereka sesekali ngobrol santai seperti teman wanita. Andai Felicia tidak nekat waktu itu mungkin ia tidak akan dikurung dalam kamar dengan tangan dirantai.


Sore hari menjelang malam rasa sakit yang dialami Felicia semakin menjadi dan keinginan pergi ke toilet semakin sering ia rasakan. Ini karna bayinya terus turun mencari jalan lahirnya. Felicia mengelus perutnya yang terasa kencang berulang kali sambil mengatur nafas untuk meredakan rasa sakit yang menjalar sampai ke pinggan. Tidak ada satupun orang tahu kalau ia sudah mengalami kontraksi saat ini. Ia sebisa mungkin menyembunyikan ekspresi kesakitan nya sewaktu Tina atau Amy masuk ke kamarnya hanya untuk mengantar makanan atau pakaian dan bersih-bersih. Tapi kali ini ia tidak mampu menyembunyikan rasa sakitnya sewaktu Amy datang mengantarkan makan malam.


"Aduuuh.... Perutku sakit sekali," rintih Felicia sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Miss. Felicia, saya datang mengantarkan makan malam," kata Amy begitu masuk ke kamar tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat Felicia yang tampak meringis kesakitan. "Miss. Felicia, anda kenapa?"


Amy buru-buru meletakan nampan berisi makanan yang dibawanya di atas meja lalu bergegas menghampiri Felicia.


"Perutku sakit sekali Amy. Aduuh..."


Amy sedikit menekan perut Felicia dengan lembut. "Perut anda sangat kencang. Sepertinya ada sedang mengalami kontraksi. Saya akan hubungi Mr. Hedrick untuk secepatnya datang ke sini."


"Tidak!" cengat Felicia. "Jangan memanggilnya. Aku tidak mau jika ia tahu aku akan melahirkan malam ini. Bayiku bisa ia renggut lagi."


"Tapi..."


"Aku mohon," pinta Felicia dengan sangat.


Amy tak punya pilihan lain. "Hah... Baiklah. Aku akan memanggil Tina dan menyiapkan perlengkapan untuk persalinanmu. Kami akan membantumu melahirkan. Jangan khawatir. Sebaiknya anda makanlah sedikit agar kuat menjalani proses persalinan."


Amy bergegas keluar menemui Tina dan memberitahu kabar ini. Biarpun sudah sering menghadapi masalah seperti ini tapi tetap saja Tina kalang-kabut menyiapkan perlengkapan yang diperlukan. Sedangkan Amy segera menghubungi Hedrick untuk memberitahu hal ini. Ia harus memberitahukannya walaupun Felicia melarang. Kehadiran sang ayah sangat penting pada masa kelahiran bagi si bayi dan sang ibu. Juga, Hedrick akan marah besar jika ia tidak diberitahu.


Kriiiing........


Hp Hedrick berbunyi saat ia sedang berada di pesta. Veeno mengajaknya menghadiri pesta yang diadakan salah satu rekan kerjanya. Hedrick mengangkat telpon tersebut setelah tahu telpon itu berasal dari Amy.


"Hallo. Amy, ada apa?" tanya Hedrick.


"Mr. Hedrick, bisa anda secepatnya datang ke vila? Miss. Felicia mau melahirkan," jelas Amy tanpa basa-basi.


"Apa?! Baiklah, baiklah. Aku akan segera kesana."


Hedrick lekas mematikan telponnya dan mengantongi hpnya. Melihat raut wajah temannya itu yang seketika berubah dan tampak tergesa-gesa hendak pergi membuat Veeno sedikit penasaran. Hal apa yang baru saja Hedrick terima sampai harus meninggalkan pesta ini?


"Ada apa Hedrick?" tanya Veeno.


"Kucingku mau melahirkan. Aku harus pulang. Maaf ya, aku harus bergegas. Sampai jumpa."


Hedrick lekas pergi meninggalkan Veeno yang masih belum mengerti maksud perkataan temanya itu.


"Kucing? Sejak kapan Hedrick memelihara kucing?"


Hedrick menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi. Berkat keahlian berkendaranya membuat ia dapat dengan mudah menyalip kendaraan yang di depannya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Hedrick sampai di vila. Dengan masih mengenakan toxedonya ia berlari menuju kamar Felicia. Tampak Felicia telah berbaring dalam posisi siap melahirkan.


"Ba-bagaimana bisa kau ada disini?" Felicia cukup kaget melihat kehadiran Hedrick.


"Itu tak penting. Aku akan membantumu melahirkan."


Hedrick melepaskan toxedonya lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Sebelum itu ia melemparkan anak kunci pada Amy untuk melepaskan rantai yang mengikat kedua pergelangan tangan Felicia. Kemudian ia berjongkok di depan Felicia lalu memeriksa perkembangan persalinannya.


"Tidak! Menjauh lah dariku! AAH..... Aku tidak butuh bantuan mu. Huf.... Huf.... Aku bisa melakukannya sendiri!" teriak Felicia disela-sela ia mengejan dan menarik nafas.


"Ennnggggkh.........."


Felicia mengejan sekuat tenaga saat kontraksi melanda. Amy membantu menyekat keringat yang membasahi dahi Felicia. Kontraksi datang lagi dan membuat ia kembali mengejan.


"Ennnggghh! AAHHH....... Sakit sekali! Huff... Huf..." rintih Felicia. Ia mencengkram kuat seprei sambil kembali mengejan. "Hmmmggh......!"


"Bagus. Aku sudah bisa melihat kepalanya. Berusahalah lebih kuat."


"Nnnggggkhh...!! Arghh.....!!"


"Berjuanglah Miss. Felicia. Anda pasti bisa," kata Tina memberi semangat.


"Hah.... Hah... Sakit. Ini sangat menyakitkan. ARGH......!!! Hmmmmmph......."


Felicia terus berusaha mengejan mengeluarkan kepala sang bayi. Sesekali ia mengatur nafasnya dan kembali mengejan lagi. Setelah usaha yang cukup lama kepala bayi berhasil keluar sempurna. Felicia dapat istirahat sebentar mengumpulkan tenaga. Sementara itu Hendrick membersikan kepala bayi dan memeriksa apakah ada tali pusar yang melilit leher sang bayi. Serasa semuanya aman Hedrick memperbolehkan Felicia untuk mengejan kembali.


"Enngggkh.....! Huff... Huff.... AAAHH!!!"


Wajah Felicia sampai merah akibat mengejan sekuat tenaganya namun bahu bayi belum kunjung keluar.


"Argh......!! Hiks... Hiks... Nnggkh..... Sakit."


"Ayok berjuanglah Felicia," kata Hedrick memberi semangat.


"Nngggkh..... Huff... Huff... Arggh.... Tidak. Aku tidak kuat lagi," rintih Felicia. Ia tidak sanggup mengejan lagi.


"Jangan menyerah Miss. Felicia," Amy ikut memberi semangat.


"Iya. Sudah sejauh ini," sambung Tina.


"Ngg! Ha... Ha... Aku tak bisa. Sakit... Hiks... Hiks..."


Persalinan Felicia kali ini mamang sangat sulit dari persalinannya yang lain karna tubuh bayi yang berbobot lumayan besar. Hedrick tidak bisa tinggal diam. Jika terus seperti ini ibu dan bayinya bisa tidak selamat.


"Tina, tekan perut Felicia ke bawah. Aku akan berusaha menariknya," perintah Hedrick.


"Baik."


"Apa?! Tidak... Jangan! ARGHH!!!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε