The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Satu persatu tewas



Tapi mereka dibuat histeris lagi begitu menyadari kalau tangan tersebut milik salah satu teman mereka, Nevan.


"Nevan! Hiks... Hiks..." pekik Amel diiringi air mata.


"Oh... Jadi namanya Nevan. Sangat disayangkan dia mati begitu cepat."


Tidak sampai disitu Amel, Aurel dan Tobby kembali dikagetkan dengan kemunculan laki-laki lain dari balik tenda. Dengan tubuh berlumuran darah bahkan sampai ke wajahnya, Veeno berjalan mendekat sambil meneteng kepala Nevan. Ia lalu melemparkan kepala tersebut ke arah teman-temannya yang sempat mematung sesaat. Mereka merasa tak percaya. Baru beberapa menit yang lalu mereka bersenda gurau tapi sekarang... Satu teman mereka sudah tidak bernyawa.


"Ka-kau membunuhnya," ujar Tobby dengan tubuh gemetar.


"Jangan khawatir, kalian juga akan ikut bersamanya ke alam sana. Max."


Guk! Guk!


Max menggonggong sambil memperlihatkan taringnya yang basa dan tajam. Menyadari kalau mereka bukanlah tandingan kedua orang dihadapan mereka ini, Tobby menarik tangan Amel dan Aurel pergi sejauh mungkin meninggal semua barang-barang mereka. Lebih baik kabur terlebih dahulu dari pada harus mati karna memilih lawan yang salah. Hedrick dan Veeno tersenyum melihat mangsa mereka berlari ketakutan. Dengan berbekal pedang yang masing-masing Hedrick dan Veeno bawa, mereka mengejar Tobby, Amel dan Aurel.


Hampir lima menit berlari dari kejaran psychopath gila, Tobby, Amel, dan Aurel mendapati sebuah goa. Tanpa berpikir panjang lagi mereka segera masuk kesana untuk bersembunyi sambil beristirahat mengumpulkan tenaga. Dengan nafas yang terengah-engah Amel menyandarkan tubuhnya di dinding goa. Ia memeluk kedua lututnya dengan air mata telah mengalir deras dari sebelah matanya. Ia terlihat sangat trauma mengetahui pacarnya telah tewas terpenggal oleh orang yang tidak dikenal. Kenapa situasi seperti ini terjadi pada mereka?


"Hiks... Hiks... Nevan..." tangis Amel terseduh-seduh.


"Jangan bersedih lagi Amel. Selama kita bisa kabur dari kejaran orang-orang gila itu, kita pasti bisa membalaskan dendam Nevan. Kita laporkan mereka pada polisi. Dengan begitu mereka berdua akan ditangkap atas tidak pembunuhan dan akan mendapat hukuman yang setimpal," kata Aurel mencoba menenangkan hati temannya itu.


"Hiks... Hiks... Kami baru berpacaran sebulan ini tapi kenapa dia harus pergi. Huaaah..........ahh......" tangis Amel malah semakin menjadi.


"Sut! Diam! Kecilkan suaramu Amel! Apa kau mau mereka mendengar kita?" bentak Tobby sedikit meninggikan suaranya. Ia saat ini tengah mengawasi sekitar di pintu goa.


Seketika Amel terdiam lalu mengerutkan dahinya. "Kau menyuruhku diam? Apa kau lupa, kau lah yang sejak awal memutuskan berkemah di hutan ini! Kalau bukan karna kau, Nevan... Dia... Dia tidak akan mati!!"


"Kau menyalahkan aku? Bukankah kau sendiri ikut membujuk pacarmu itu agar mau berkemah disini?!!"


"Oh, iya aku memang membujuknya tapi hanya sebatas hutan ini. Kau lah yang memaksa kami masuk ke area telarang itu!"


"Kenapa kau cuman menyalahkan aku dimana kau juga terlibat didalamnya?!!"


"Sudah cukup kalian berdua!" lerai Aurel. "Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya kita pikirkan cara agar bisa selamat dari dua psychopath itu. Aku tidak mau mati disini! Hiks... Hiks..."


"Sudah, sudah Aurel. Jangan menangis. Maafkan aku," Tobby menarik Aurel kedalam pelukannya.


"Aku mau pulang. Hiks... Hiks..."


"Mau pulang? Bagaimana kau kami mengatar kalian?"


Tobby, Aurel dan Amel dibuat tersentak kaget begitu mendengar suara tersebut dari dalam goa. Terlihat Hedrick telah berdiri disana dengan sorot mata tajam membunuh. Pedang yang ada ditangannya tampak mengkilat saat terkena cahaya. Dengan tubuh gemetar Tobby, Aurel dan Amel melangkah mundur perlahan menuju pintu keluar. Namun Veeno telah menunggu disana sambil menyeringai jahat.


"Kalian tidak akan bisa kemana-mana," kata Veeno.


"Apa mau kalian sebenarnya?!" tanya Tobby.


"Tentu saja membunuh kalian semua," jawab Hedrick.


"Siapa suruh kalian masuk ke wilayah kami. Apa kalian tidak mendengar rumor tentang “barang siapa yang memasuki area terlarang, maka mereka tidak akan kembali lagi"?" sambung Veeno kemudian.


"Kalian telah melanggar peringatan tersebut. Jadi jangan salahkan kami kalau kalian harus mati disini."


"Tobby!" teriak Aurel dan Amel secara bersamaan.


"Per-gi-lah..." ucap Tobby sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tidak! Hiks... Hiks... Tobby!!!" pekik Aurel tak kuasa menahan tangis. Sekarang ia merasakan perasaan yang sama dengan Amel, kehilangan orang yang dicintainya.


"Pengorbanan yang sungguh mengharukan," ujar Veeno sambil menendang tubuh Toby yang sudah tak menyawa.


"Benarkah? Kenapa aku tidak terharu sama sekali?" kata Hedrick.


"Sama."


"Hahaha......." tawa Hedrick dan Veeno menggema di dalam gua. Benar-benar terdengar sangat menyeramkan.


"Aku mohon, jangan bunuh kami. Tolong bebaskan lah kami," pinta Amel memohon. Ia berharap kedua orang di depannya ini mau membiarkan mereka hidup.


"Jika kalian bersedia bersujud dan mencium kakiku ini mungkin aku..."


"Tidak!" potong Aurel dengan tegas. "Aku tidak sudi melakukan itu biarpun kalian membebaskan ku. Kalian telah membunuh pacarku. Kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian!"


"Siapa bilang kami mau membebaskan kalian? Yang mau aku kata tadi, mungkin kami akan membiarkan mayat kalian tetap utuh."


"Tapi karna kalian tidak sudi melakukannya, jadi jangan salahkan kami membuat mayat kalian habis tak bersisa. Max!" panggil Hedrick.


Entah datang dari mana tiba-tiba Max melompat lalu menerkam bahu Aurel dari belakang. Aurel berteriak sekencang-kencangnya akibat gigitan tersebut. Cukup lama Max menancapkan taringnya sambil mengoyok daging dan tulang Aurel sebelum akhirnya Max melepaskan gigitannya. Darah merah terang telah membasahi punggung Aurel. Ia terduduk lemas sambil mencengkram bahunya yang renyak untuk menutupi pendarahannya.


"Keterlaluan kalian! Tega sekali kalian berdua melakukan ini pada kami! Apa salah kami?!!" bentak Amel yang berjongkok di sebelah Aurel.


"Apa aku harus mengulanginya lagi? Sudah ku bilang 'kan, kalian itu masuk area terlarang tanpa izin. Barang siapa yang berani masuk ke wilayah kami, mereka harus mati," jelas Veeno lebih tegas.


"Tapi karna kalian para gadis, jadi kami akan membiarkan kalian untuk menikmati sisa hidup kalian yang tidak berarti itu secara perlahan-lahan."


"Dasar kalian tidak berperasaan! Manusia macam apa kalian ini?!! Dasar manster! Argh!!!" pekik Amel begitu ujung pedang Hedrick merobek bibirnya sampai ke telinga.


"Berisik! Kau itu banyak omong ya," kata Hedrick sambil mendorong tubuh Amel sampai terguling di tanah lalu menginjak dada Amel agar ia tidak bisa berdiri.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε