
Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa telah seminggu dari persembahkan pertunjukan mereka. Untuk sekarang mereka belum menemukan target yang cocok. Hedrick maupun Veeno masih mencoba mencari disela-sela pekerjaan mereka yang menumpuk. Beberapa hari ini mereka memang disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Hedrick mendapat tugas merancang sebuah iklan dari sebuah perusahaan milik keluarga Hatcher yang bergerak di bidang produk minuman beralkohol. Perusahaan ini sedang meluncurkan produk terbaru mereka dan ingin menyebarluaskannya ke masyarakat. Sebab itu mereka meminta perusahaan biro periklanan untuk merancang sebuah iklan yang unik agar produk mereka cepat dilirik. Terpilihlah Hedrick sebagai perancang iklan tersebut karna Hedrick sering memiliki ide-ide tak biasa disetiap rancangannya.
Bersama Anita, wakil dari Mr. Adams, Hedrick akan mengunjungi kediaman Hatcher untuk membahas tentang rancangan iklan yang diinginkan. Mr. Adams sengaja mengutus langsung sekretarisnya untuk menghadiri pertemuan itu karna kerja sama ini sangat penting. Keluarga Hatcher merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di ibu kota. Suatu kehormatan besar keluarga Hatcher mau menggunakan jasa periklanan mereka untuk mempromosikan produk terbaru di kota tersebut. Pertemuan itu telah di jadwalkan jam 09.30 ini. Hedrick dan Anita bergegas berangkat menuju lokasi dengan persiapan yang matang.
Sampai dikediaman Hatcher, sebuah rumah mewah tiga lantai dengan halaman depan begitu luas. Seorang penjaga menyambut mereka dan mempersilakan masuk. Bagian dalam dari rumah itu tak kalah berkelasnya. Semua furnitur merupakan barang antik yang bernilai jutaan dolar. Hedrick cukup terkesan dengan keindahan rumah tersebut. Ia jadi bertanya-tanya bagaimana penampakan kediaman utama keluarga Hatcher jika rumah di kota ini saja sudah semewah ini?
"Kediaman keluarga Hatcher ini memang sungguh luar biasa. Mr. Hatcher sepertinya penggemar barang antik. Semua furnitur di rumah ini semuanya barang antik," ujar Hedrick sambil masih mengagumi bagian rumah tersebut.
"Apa kau tidak tahu? Mr. Hatcher memang seorang kolektor barang antik. Dia bahkan memiliki bangunan khusus untuk menyimpan seluruh koleksi barang antik yang ia dapat dari penjuru dunia."
"Wow... Barang antik di rumah ini saja sudah sangat mengangumkan. Koleksi Mr. Hatcher di kediaman utamanya pasti lebih menakjubkan lagi."
"Berhentilah memikirkan soal itu. Lebih baik gunakan otakmu untuk mencari ide pembuatan iklan dari produk minuman beralkohol perusahaan Hatcher. Bos akan memberi kita bonus jika kita berhasil memuaskan Mr. Hatcher."
"Sendari tadi juga aku telah memikirkan iklan tersebut. Jika Mr. Hatcher memiliki kesenangan tersendiri terhadap barang antik, aku sedikit mendapatkan ide untuk iklan ini."
"Benarkah? Aku ingin sekali mendengarnya," kata seorang pria yang datang menghampiri Hedrick dan Anita. "Saya Mr. Hatcher. Saya sempat mendengar kalau anda mendapatkan ide untuk perancangan iklan produk minuman beralkohol. Bisa tolong anda jelaskan bagaimana caranya anda menggabungkan konsep minuman beralkohol dengan barang antik? Secara keduanya tidak memiliki kesamaan sama sekali."
"Siapa bilang? Mr. Hatcher, minuman beralkohol telah ditemukan jauh sebelum masehi bahkan lebih tua dari sejumlah barang antik di ruangan ini. Sejarahnya sangat panjang dan telah menemani peradaban manusia dari seluruh penjuruh dunia. Sebagian negara terkenal bahkan memiliki minuman beralkohol khas mereka sendiri. Berkat perkembangan teknologi yang pesat membuat produk-produk seperti minuman beralkohol ikut mengalami perubahan. Sebagian besar orang lebih memilih mencari konsep baru untuk memperkenalkan produk mereka. Tapi, saya akan memilih konsep sejarah dari minuman alkohol pertama. Ini mungkin terdengar terlalu kuno dan tidak modern namun bagi orang-orang yang mengerti tentang sejarah minuman ini akan sangat tertarik dengan produk anda. Contohnya seperti barang antik di sekitar kita ini. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai barang yang tidak menarik dan ketinggalan zaman namun bagi anda yang seorang pencinta barang antik pasti memiliki pendapat berbeda. Benar bukan, Mr. Hatcher?"
"Hahaha... Hebat. Hebat sekali anak muda," kata Mr. Hatcher sambil tepuk tangan. "Baru mendengar sekilas idemu itu sudah membuatku sungguh tertarik. Aku begitu menyukai penggabungan produk ini dengan kegemaran ku dalam mengoleksi barang antik. Sepertinya aku akan memilih rancangan iklan kalian untuk mempromosikan produk minuman ini. Mari kita membahasnya lebih jauh dan juga saya akan mempersilakan kalian untuk mencicipi minuman tersebut."
"Kerja bagus Hedrick. Tidak salah Mr. Adams mempercayakan rancangan iklan ini padamu," puji Anita sambil berbisik.
"Aku tidak mau mengecewakan kepercayaan bos padaku. Dan aku harap bos menepati janjinya memberikan bonus itu," balas Hedrick berbisik.
"Dasar kau ini. Mendengar kata uang saja otakmu langsung jalan, ya."
"Siapa yang tidak suka diberi uang. Orang kaya saja masih berbondong-bondong mencari uang. Manusia itu tidak perna puas akan sesuatu."
Anita terdiam memahami kalimat Hedrick yang terakhir. Memang benar manusia itu tidak perna puas akan sesuatu. Selagi mereka bisa melampaui apa yang telah mereka capai maka mereka akan melakukannya. Tapi kenapa kalimat yang Hedrick ucapan malah menggambarkan sisi jahat manusia? Anita tidak mau begitu lama dipusingkan oleh kalimat tersebut. Lebih baik ia fokus pada perbincangan mereka bersama Mr. Hatcher. Keberhasilan dari perbincangan ini akan sangat menguntungkan perusahaan biro periklanan tempat mreka berkerja.
"Saya begitu menyukai rancangan iklanmu. Saya sangat menantikannya," kata Mr. Hetcher sambil menjabat tangan Hedrick.
"Saya akan berusaha memberi yang terbaik. Terima kasih telah mempercayakan produk anda pada kami."
"Kita berbisnis."
Mr. Hatcher berbalik menyalami Anita dan mengucapkan kalimat terima kasih juga atas kesepatakan kerja sama tersebut. Hedrick tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka. Matanya lebih tertuju pada foto anak laki-laki di ruangan itu.
"Aku seperti merasa mengenal bocah dalam foto itu, tapi dimana ya?" pikir Hedrick
Hedrick mencoba mengingat-ingat wajah anak laki-laki tersebut sampai ia tidak sadar kalau sendari tadi Mr. Hatcher memperhatikan dirinya.
"Apa yang anda lihat Mr. Gardner?" tanya Mr. Hatcher sambil mengikuti arah pandangan Hedrick.
Hedrick langsung tersadar dan memutar pandangannya. "Ah, tidak Mr. Hatcher. Saya cuman merasa perna melihat anak laki-laki yang ada di foto itu. Tapi sepertinya saya salah mengenali orang."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε