The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
bermain dengan putri bos



Dengan mengunakan mobil van hitam, mereka mengikuti mobil sport merah yang baru saja keluar dari salah satu rumah teman Natasya. Salah satu temannya itu mengadakan pesta di rumahnya dan tentu Natasya tidak mau melewatkan pesta tersebut. Bersama pacarnya ia menghadirkan pesta itu. Namun malam yang menggembirakan tersebut harus berakhir karna ayahnya hanya mengizinkan keluar sampai jam 21.30. Dan ini sudah lewat dari jam yang dijanjikan. Itu sebabnya mobil yang dikendarai pacar Natasya melaju sangat kencang. Tidak apa bos, biarkan karyawan mu yang setia ini menggatikanmu memberi hukuman. Dijamin hukuman ini pasti dapat membuat putrimu tidak akan mengulangi kesalahan nya lagi sampai kapanpun.


Veeno menancap gas memotong laju mobil di depannya. Sampai di persimpangan mereka berhasil memberhentikan mobil tersebut. Dengan menggunakan topeng putih, Hedrick dan Veeno keluar dari mobil lalu menarik paksa Natasya keluar dari mobil pacarnya. Terjadi perlawanan namun itu tidak berlangsung lama. Natasya berhasil dilumpuhkan. Hedrick memukul bagian belakang lehernya sampai ia pingsan. Sedangkan Veeno mengurus remaja satunya yang hendak menelpon polisi. Veeno merenggut hp boca itu lalu menghempaskanya sampai hancur berkeping-keping. Dengan tubuhnya yang gemetar ketakutan bocah itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus rela dipukul sampai ia tidak sadarkan diri. Tubuh bocah itu ditinggalkan begitu saja tergeletak di samping mobilnya. Hedrick dan Veeno menancap gas pergi meninggalkan lokasi. Tujuan mereka sekarang Vila.


...⚛⚛⚛⚛...


Natasya terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Setelah pandangannya membaik ia melirik ke kanan dan kirinya. Ruangan minim cahaya, pengap dan bau begitu asing. Dia tidak dapat berbuat apa-apa karna saat ini tangannya terikat sangat kuat sampai ia bahkan tidak dapat merasakan telapak tangannya lagi. Natasya berusaha duduk dengan susah payahnya. Serasa tenaganya cukup puli ia mencoba bangkit dan hendak menghampiri pintu. Namun tubuhnya masih sangat lemah. Lututnya tidak kuat menyangga berat badannya. Hal hasil ia terjatuh tersungkur ke lantai. Tak berselang lama Hedrick dan Veeno masuk ke ruangan itu. Suara pintu dibuka membuat Natasya mengangkat kepalanya.


"Ah... Rupanya kau sudah bangun," ujar Hedrick sambil berjongkok di depan Natasya.


"Siapa kau?"


"Hehe... Pertanyaan yang lucu sekali," Hedrick menjepit kedua pipi Natasya dan memaksanya melihat wajahnya lebih dekat. "Tidakkah kau ingat denganku?"


"Kau?! Salah satu karyawan papa, Hedrick!" kata Natasya setelah mengenali siapa pria dihadapannya.


"Tidak pantas bagi bocah sepertimu menyebut namaku secara langsung!"


Dengan geram Hedrick membenturkan kepala Natasya ke lantai. Darah seketika mengalir di pelipisnya.


"AAHH ! ! !" pekik Natasya kesakitan.


Veeno menjambak rambut Natasya sampai ia terduduk lalu menyandarkan tubuhnya ditembok. Dengan nafas terengah-engah Natasya menatap benci pada Hedrick.


"Ingatlah baik-baik dengan otak kecilmu itu. Aku jauh lebih tua darimu. Sebagai tatakrama yang baik kau seharusnya memanggilku Mr. Gardner. Mengerti?"


"Tck! Untuk apa kau mengingatkanku soal tatakrama? Aku adalah putri dari bosmu, Mr. Adams. Kau itu cuman karyawan rendahan papaku!"


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi sebelah kiri Natasya. Sangking kuatnya tamparan tersebut sampai membuat sudut bibi Natasya mengeluarkan darah.


"Benar-benar tidak ada sopan santun. Sungguh sangat berbeda dengan Mr. Adams. Apa benar kau itu putri kandungnya? Sepertinya ia terlalu memanjakanmu."


"Berani sekali kau menamparku! Aku akan melaporkan hal ini pada papaku. Kau pasti akan dipecat dan dijebloskan ke penjara atas tindak penculikan serta penganiayaan!!" bentak Natasya dengan ancaman.


"Hahaha... Gadis kecil ini benar-benar lucu sekali," tawa Veeno begitu kerasnya. "Bagaimana bisa kau melaporkan hal ini pada papa mu? Memangnya kau pikir kami akan melepaskan mu begitu saja?"


"Sudah aku katakan kalau dia ini bodoh. Dia terlalu dimanja membuat ia tumbuh menjadi gadis sombong. Kau memang kaya nona, tapi otakmu itu miskin," Hedrick mendorong dahi Natasya ke belakang menggunakan satu jarinya.


Natasya mengeretakan giginya dengan kesal. "Apa yang kalian mau kan dariku?!! Apa kalian ingin memeras papaku? Memintanya sejumlah tebusan. Katakan saja berapa jumlahnya, papaku pasti akan memberikannya pada kalian."


"Kami tidak butuh uang. Kami cuman ingin bersenang-senang denganmu, nona Natasya," kata Hedrick sambil bangkit berdiri. "Veeno, apa kau ingin bermain sebentar dengannya? Aku akan menunggu di luar."


"Siapa yang kau panggil gadis ingusan?!! Dasar laki-laki jelek!" bentak Natasya mencaci Veeno.


Tanpa peringatan Veeno tiba-tiba mencengram leher Natasya lalu mengangkatnya sampai kakinya melayang di udara. Natasya berusaha memberontak melepaskan diri namun itu hal yang sia-sia.


"Jangan kata-kata mu gadis kecil. Aku bisa membuatmu mati lebih cepat," Veeno melepaskan cengkeramannya.


"Uhuk! Uhuk!" Natasya terbatuk-batuk sambil mencari udara.


"Baiklah jika begitu," kata Hedrick kemudian. "Bagaimana kalau kita mulai saja? Veeno, hal apa yang disukai gadis remaja saat ini?"


"Entahlah, mungkin tato?"


"Tato... Sepertinya bagus juga. Kita hiasi kulit mulusnya ini dengan tato merah membara."


"Ide yang bagus. Aku akan siapkan tungku perapiannya."


Veeno bergegas mengumpulkan kayu bakar dan memasukannya ke dalam tungku perapian. Sedikit percikan bensin... Tidak deh, satu liter saja Veeno tuangkan ke tumpukan kayu bakar tersebut. Kemudian Veeno melemparkan satu batang korek api yang telah dinyalakan. Bom! Setitik api kecil seketika berkobar hebat melahap tumpukan kayu yang telah dilumuri bensin itu. Veeno tersenyum puas. Ia menghampiri lemari penyimpanan dan mengambil beberapa batang besi dengan ujungnya memiliki bentuk bermacam-macam. Veeno memasukan seluruh ujung besi tersebut ke dalam bara api sambil terus menambahkan kayu agar nyala api semakin besar. Bulir keringat tampak di dahinya akibat terlalu dekat dengan hawa panas. Tapi itu tidak mengapa karna ia suka melakukan permainan ini. Sambil menunggu besi berubah warna menjadi merah, Hedrick mengangkat tubuh Natasya lalu menggantungkannya di kait besi diantara ikatan tali di kedua tangannya. Kini Natasya tergantung dengan kaki tidak menapak di lantai lagi.


"Alat pembuat tatonya sudah siap," kata Veeno sambil membawa salah satu batang besi yang telah di panaskan.


"A-apa yang hendak kalian lakukan?" Natasya begidik ngeri melihat ujung besi yang tampak merah menyala-nyala.


"Membuatkan mu tato sayang. Jangan takut ini cuman sakit sedikit."


Hedrick merobek baju Natasya sampai Natasya hanya mengenakan branya saja. Terlihat kulit Natasya yang begitu mulus dengan dada naik turun mengikuti setiap hembusan dan tarikan nafasnya. Setelah Hedrick menerima batang besi tersebut yang diberikan Veeno. Ia sedikit meniup-niup ujung besi yang masih memancarkan cahaya merah akibat pembakaran dengan suhu tinggi.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε