
"Mr. Hedrick, Mr. Veeno, mohon maafkan kami."
Amy dan Tina seketika langsung bersujud di lantai. Mereka tidak tahu-menau mengapa tiba-tiba Felicia bisa bertanya soal itu. Mereka takut disalahkan dan dituduh telah memberitahu Felicia telah membocorkan rahasia.
"Kenapa kalian berdua minta maaf? Ini semakin membuatku curiga," kata Felicia kemudian.
"Amy, Tina, berdirilah!" perintah Veeno.
Dengan wajah masih tertunduk, Amy dan Tina perlahan berdiri.
"Jawab pertanyaan ku dengan jujur Hedrick. Apa kalian sungguh pembunuh berantai itu? Aku menonton berita di tv kalau korban kali ini bernama Elly, nama yang sama dengan wanita yang kau ajak tempo hari."
"Itu semua benar. Kami lah si pembunuh berantai itu," kata Hedrick tiba-tiba membuat semua orang kaget.
"Hedrick. Apa kau yakin soal ini?" tanya Veeno sedikit berbisik.
"Ja-jadi kalian sungguh para pembunuh sadis itu," tanpa sadar Felicia mundur perlahan dengan tubuh gemetar. "La-lalu, apa kau juga akan membunuh kami?"
"Menurutmu?" Hedrick berjalan mendekati Felicia sampai Felicia tidak bisa mundur lagi karna dinding di belakangnya.
"Kau mau apa? Menjauh lah dariku!"
Hedrick membungkukan badannya lalu berbisik di telinga Felicia. "Tenanglah. Jika aku ingin membunuh mu, memangnya kau pikir masih sempat menanyakan pertanyaan aneh itu? Sudah pasti aku telah melakukan sejak lama, bukan?" Hedrick menegakan tubuhnya lalu berbalik. "Sebaiknya buang saja jauh-jauh pikiran anehmu itu. Pembunuh berantai. Yang benar saja."
Hedrick naik ke lantai dua meninggalkan Felicia yang masih terdiam diri. Veeno lekas mengikuti temannya itu. Mereka berdua pergi menuju ruang koleksi yang ada di lantai tiga, tempat dimana mereka menyimpan bagian-bagian tubuh dari korban-korban mereka. Semuanya terawetkan dengan sangat baik dalam toples kaca.
"Tidak terasa sudah sebanyak ini. Haruskah kita membeli rak penyimpanan baru?" kata Hedrick memulai pembicaraan. Ia mengusap salah satu toples yang paling besar. Toples itu berisi kepala seorang gadis.
"Bukankah itu korban pertama kita?"
"Iya. Karna dia kita bisa saling kenal dan menjadi sahabat sampai sekarang."
"Siapa menduga kita akan mengejar target yang sama."
Pertemuan awal Hedrick dan Veeno sewaktu mereka masih kelas dua SMA. Waktu itu mereka memantau target yang sama, seorang gadis seuumuran dari sekolah berbeda. Alasan Hedrick mengincar gadis itu tentu karna wataknya yang sombong dan suka membully gadis lain. Sementara Veeno, ia cuman memilih secara acak demi tujuan mengincar organ tubuhnya saja. Hedrick dan Veeno dipertemukan saat memulai aksi penculikan gadis tersebut. Awalnya terjadi sedikit pertentangan karna saling rebutan mangsa tapi setelah mengetahui tujuan mereka berbeda, Hedrick malah menyarankan, bagaimana kalau mereka berkerja sama? Siapa sangka ide tersebut langsung disetujui Veeno. Sejak saat itu persahabatan keduanya semakin erat apa lagi ditambah mereka sama-sama memiliki masa kecil yang kelam.
"Aku kira kau akan memberitahu Felicia tadi," kata Veeno memengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku tidak berniat berbohong padanya tapi aku juga tidak bersedia memberitahu kebenaran ini. Biarlah ia mau bagaimana menanggapi kalimat ku barusan."
"Sebaiknya kita jauh lebih hati-hati membawa korban lagi kesini. Felicia itu gadis yang pintar. Lambat laun dia pasti tahu."
"Biarkan saja dia tahu dengan sendirinya. Ngomong-ngomong, apa kita jadi menampilkan karya seni lagi dengan wanita mu? Kau belum mengenalkan dia padaku."
"Tentu saja. Aku juga sudah tidak sabar. Bagaimana kalau sekarang saja?"
"Boleh. Aku rasa waktunya pas jika kita mulai dari sekarang," Hedrick melirik jam tangannya.
Mereka berdua beranjak dari ruang koleksi pergi turun ke ruang bawah tanah tempat dimana Angela disekap. Sampai disana Hedrick mendapati seorang wanita cantik berkulit putih dengan rambut pirang keperakan jatuh menutupi wajahnya sedang tergantung dengan tangan serta kakinya terikat. Disekujur tubuhnya tampak jelas luka lebam dan memar yang membiru akibat cambukan. Angela, nama wanita itu tertunduk lemah. Ia baru sedikit mengangkat wajahnya saat mendengar pintu dibuka. Mata kehijauan tersebut tanpa sebam karna menangis.
"Bagaimana?" tanya Veeno meminta pendapat Hedrick tentang wanitanya.
"Lumayan. Dia seperti peri," puji Hedrick.
"Jangan panggil Veeno jika tidak bisa menarik hati pada gadis cantik," kata Veeno sedikit menyombongkan dirinya.
"Veeno... Aku mohon... Lepaskan aku," kata Angela begitu pelan sangking lemahnya.
"Bersabarlah sayang, kami pasti akan melepaskan mu. Kau tenang saja."
"Dia terlihat sangat lemah. Apa yang telah kau lakukan padanya?" tanya Hedrick.
"Sungguh sangat disayangkan kulit putih bersih ini harus lecet karna permainan mu, Veeno," Hedrick mengelus bahu Angela sampai ke pahanya yang putih mulus itu.
"Siapa kau? Apa kau juga akan menyiksaku sama seperti dia? Aku mohon ampuni aku, tuan. Bebaskan aku dari tempat ini. Aku tidak kuat lagi. Hiks... Hiks..."
"Cup... Cup... Berhentilah menangis. Jangan sama aku dengan dia yang begitu tega menyakiti wanita secantik dirimu."
"Hei!" protes Veeno. "Dasar perayu handal," gerutunya pelan.
Hedrick mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Angela lalu menyelipkan helaian rambutnya di telinganya sampai wajah cantik Angela terlihat jelas.
"Aku akan melepaskan mu," kata Hedrick kemudian.
"Sungguh? Kau akan melepaskanku?" ada sedikit cahaya di wajah Angela saat mendengar kalimat tersebut.
"Tentu saja."
Hedrick mengeluarkan belatinya lalu memotong tali yang melilit pergelangan tangan Angela. Diakibatkan tubuh Angela yang sangat lemah, ia tak mampu berdiri dengan kedua kakinya. Ia terjatuh begitu saja seperti helaian kain usam.
"Ah!"
"Kau tidak apa-apa?" Hedrick berjongkok di depan Angela dan membantunya duduk.
"Tidak apa."
"Hedrick, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membebaskan dia?" tanya Veeno tak percaya atas apa yang dilakukan temannya satu ini.
"Memangnya kenapa?" tanya Hedrick balik tanpa melirik Veeno.
"Tapi, bukankah kita mau..."
"Veeno, sebagai seorang pria kau seharusnya tidak melukai wanita," potong Hedrick.
Veeno semakin dibuat tak mengerti dan kaget "Apa?! Kau makan apa siang ini Hedrick? Kenapa cara bicaramu jadi aneh begitu? Apa kau demam?" ia lalu meletakan telapak tangannya di dahi Hedrick.
"Kau yang sakit," dengan sedikit kesal Hedrick menepis tangan Veeno. Ia mengeluarkan botol kecil putih dari saku jasnya. Botol itu berisi sebuah pil kafsul. Hedrick memberikan pil tersebut pada Angela. "Makanlah pil ini. Itu akan membantumu mempercepat penyembuhkan semua lukamu."
"Terima kasih," Angela menerima pil itu dan langsung menelannya.
"Aku tak percaya apa yang kau lakukan ini Hedrick. Apa karna Felicia kau malah jadi berubah?"
"Ssutt..."
Hedrick meletakan jarinya di bibirnya sambil melirik Veeno. Lirikan mata itu seketika membuat Veeno mengerti. Itu tandanya Hedrick sedang mengisyarakan untuk diam dan perhatikan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε