The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Mengakhiri liburan



"Oh, cuman terkilir sedikit. Bukan apa-apa. Monica sudah membantuku mengobatinya."


"Apa karna aku?"


"Em... Tidak juga."


"Jadi apa kita harus membalas pria itu? Dia telah berani mencari gara-gara dengan kita. Tidak mungkin kita duduk diam dan membiarkannya begitu saja."


"Tidak perlu pusingkan soal membalas dendam. Aku sudah melakukannya."


"Benarkah? Kapan kau melakukan itu?"


"Semalam. Disaat aku berkelahi dengannya secara bersamaan aku menusukan jarum beracun yang tersembunyi dibalik cincinku ini. Racun itu tidak akan langsung membunuhnya. Tapi ia akan menyiksanya perlahan-lahan sampai akhirnya Mr. Geraldo mati."


"Kau tidak memberi tahuku kalau kau mempunyai cincin yang dapat menyembunyikan jarum beracun."


"Kau juga tidak bertanya."


Setelah merasa agak mendingan Veeno pergi ke kamar mandi. Air dingin yang membasahi sekujur tubuhnya membantu menyegarkan dirinya. Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka pergi ke ruang makan untuk makan siang. Disana telah ada Monica, Poppy, Hazel, Lily yang telah menunggu mereka. Ted datang tak lama kemudian bersama dua temannya yang lain. Tidak ada percakapan berarti diantara mereka. Kejadian semalam meninggalkan kenangan yang sedikit lucu terutama dibagian Hedrick mempermainkan Mr. Geraldo. Menurut penuturan Hedrick, ia sebenarnya sengaja kalah berulang kali dari Mr. Geraldo. Ia sudah tahu sejak awal kalau Mr. Geraldo berbuat curang disetiap permainannya. Jadi Hedrick sengaja kalah berulang kali hanya untuk membuat Mr. Geraldo percaya bahwa ia dapat menang tanpa harus menggunakan trik sekalipun. Yang Hedrick tidak terduga ternyata Mr. Geraldo malah dengan bodohnya mempertaruhkan semua chipnya. Tentu Hedrick tidak akan melewatkan kesempatan emas itu. Semua orang di meja tersebut tertawa dan menyayangkan kebodohan Mr. Geraldo setelah mendengar pengakuan Hedrick.


Sisa hari-hari di kapal persiar tersebut Hedrick dan Veeno lalui tanpa ada ganguan lagi. Walau sempat kabar menghilangnya Ricardo dan seluruh pengawalnya mencuat naik. Tapi Hedrick dan Veeno tidak terlalu merisaukan hal itu. Tidak ada bukti pasti hilangnya Ricardo dan pengawalnya berkaitan dengan mereka. Semua cctv yang ada di kapal telah diperiksa. Hanya ada beberapa rekaman terakhir cctv yang menangkap wajah Ricardo berserta pengawalnya tapi rekaman tersebut tidak terlalu berguna. Paling yang membuat mereka curiga adalah, kenapa cctv yang mengarah ke ruang penyimpanan jetski mati? Me mereka mencoba memeriksa tempat tersebut namun tidak ditemukan petunjuk sama sekali. Kasus ini semakin menjadi misteri. Komandan kapal memutuskan untuk meminta polisi menyelidiki kasus ini setibanya mereka di daratan. Untuk sekarang ruang penyimpanan jetski dan kabin Ricardo berserta pengawalnya di tutup demi kepentingan penyelidikan polisi nanti.


Lima hari setelah kejadian di casino, Mr. Geraldo ditemukan meninggal di kabinya. Menurut hasil pemeriksaan dokter di kapal tersebut Mr. Geraldo meninggal karna sakit. Sudah beberapa hari ini dia memang mengeluh sakit disekujur tubuhnya, nafas terasa sesak dan hilangnya kemampuan untuk menelan makanan. Dokter juga dibuat binggung dengan gejala penyakit yang Mr. Geraldo derita. Namun mereka tidak terpikir kalau penyebab sebenarnya ialah Mr. Geraldo telah diracuni. Tidak ditemukan zat mencurigakan di dalam tubuh Mr. Geraldo. Karna itu mereka menyimpulkan kematian Mr. Geraldo disebabkan oleh penyakit bukannya disengaja. Tidak ada yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.


...⚛⚛⚛⚛...


Hari demi hari berlalu. Tidak terasa kapal yang ditumpangi Hedrick dan Veeno sebentar lagi akan menepi di pelabuhan kota mereka. Saat ini mereka telah berdiri di dek kapal dengan semua barang bawaan mereka yang telah dikemas rapi. Kapal-kapal kecil tampak bersenang-senang di hamparan ombak. Tidak hanya itu ada juga satu kapal pesiar lainnya tertambang di demaga tersebut. Perlahan kapal mulai menepi. Hedrick dan Veeno bersiap turun dan mengakhiri liburan mereka. Kapal memutuskan istirahat sejenak sambil menyelesaikan penurunan dan penaikan muatan, kemungkinan kapal akan berangkat besok pagi. Karna itu Hedrick menawarkan pada Monica dan yang lain untuk bertamu ke rumahnya. Mereka semua setuju. Jarang-jarang mereka bisa mampir dan jika ada kesempatan di lain waktu mungkin dapat bertamu lagi.


Mereka turun satu persatu dari kapal setelah kapal benar-benar merapat. Sensasi guncangan kapal masih mereka rasakan untuk beberapa saat sebelum akhirnya hilang dengan sendirinya. Di pintu masuk pelabuhan terlihat satu mobil berwarna hitam terparkir disana dengan seorang pria berdiri disebelah mobil tersebut. Pria itu menyambut kedatangan Hedrick dan Veeno berserta yang lain. Kemarin Veeno sebenarnya telah memberitahu salah satu anak buah mereka untuk menjemput di demaga. Setiap kursi di mobil iu cukup utuk mereka bertujuh berserta sopir. Mobil melaju meninggalkan pelabuhan memasuki jalan raya.


Satu setengah jam kemudian mobil berhenti di depan rumah Hedrick. Mereka satu persatu keluar dari mobil. Ditinggal selamanya dua minggu sedikit membuat Hedrick merindukan suasana rumahnya sendiri. Ia berjalan menuju pintu sambil mengeluarkan kunci lalu membuka pintu tersebut. Veeno dan yang lain mengikutinya dari belakang, sedangkan anak buahnya yang tadi membantu menurunkan semua barang-barangnya yang ada di bagasi mobil.


"Ayok masuk," ajak Hedrick.


Ruang tamu yang tampak bersih menyambut mereka, tidak seperti telah ditinggal pemiliknya selama dua minggu. Ini membuat yang lain sedikit bertanya-tanya. Bagaimana rumah ini bisa bersih, sedangkan tidak tampak seorangpun begitu mereka masuk? Tapi hal itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan kerna Hedrick sempat menghubungi Amy dan memintanya membersikan ruma sebelum mereka kembali. Pekerjaan Amy sangat teliti dan rapi. Ia benar-benar serius melakukannya karna ia sangat menyukainya. Lagi pula ini kesempatan yang tidak mau dilewatkan Amy. Dapat berlama-lama di rumah orang yang ia sukai merupakan kebahagian tersendiri untuknya.


"Silakan duduk," kata Hedrick mempersilakan tamu-tamunya duduk.


"Iya. Kau telah memenangkan chip dengan nilai fantastis di casino. Kau dapat menggunakannya untuk merenovasi rumahmu ini," kata Hazel memberi saran.


"Itu ide yang bagus," Monica ikut setuju dengan saran tersebut.


"Aku tidak akan mengubah apapun dari setiap inci rumah ini."


"Kenapa?" tanya Lily.


"Karna rumah ini peninggalan dari keluargaku."


"Kau hidup sendiri?" tanya Ted menebak.


"Iya."


"Jadi sebab itu kau membiarkan rumah ini tetap seperti dulu. Begitu banyak kenangan yang..."


"Tidak ada kenangan sama sekali!" potong Hedrick tiba-tiba menyela kalimat Poppy. "Sebenarnya aku sangat membenci setiap sudut rumah ini."


Raut wajah Hedrick seketika berubah. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan tatapan kosong seperti mengenang masa lalu yang baginya begitu suram. Melihat reaksi Hedrick ini semakin membuat mereka bertanya-tanya. Apa yang terjadi sebenarnya di rumah ini? Jika Hedrick membencinya lantas kenapa masih mau tinggal disini dan tidak mau merubah apapun yang ada? Semuanya terdiam dengan pertanyaan yang sama di kepala mereka. Suasana di ruang tamu itu berubah menjadi canggung.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε