The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Santai saja



Jam 15.13 Sara perlahan membuka matanya. Ia sangat terkejut setelah sadar sepenuhnya begitu mendapati dirinya telah terikat di kursi. Sara mencoba melepas ikatan tersebut namun pengaruh obat tidur membuat tubuhnya masih lemah.


"Apa yang terjadi? Seingatku aku sedang ngobrol bersama Tina dan Amy. Bagaimana bisa aku terikat disini? Apa Hedrick dan Veeno telah kembali dari liburan mereka? Tidak! Tidak mungkin mereka telah kembali secepat ini. Aku belum mulai rencana perlarianku!!"


"Oh, rupanya kau sudah bangun Miss. Sara," sapa Amy.


Sara mengangkat wajahnya saat mendengar suara tersebut. Terlihat Amy dan Tina melangkah masuk. Aura yang terpancar dari mereka berdua sungguh berbeda dari biasanya. Biarpun tidak terlalu kuat namun aura tersebut mengingatkan Sara pada Hedrick dan seketika membuat tubuhnya merinding.


"Apa yang mau kalian berdua lakukan? Menjauh lah dariku!!!" pekik Sara.


"Kenapa kau ingin mengusir kami?"


"Iya. Kami lebih dulu ada di vila ini. Disaat Mr. Hedrick dan Veeno tidak ada, kami lah yang memiliki kuasa. Bukan kau!"


Bugk!


Satu cambukan menghantam tubuh Sara dengan sangat keras. Amy yang mengayunkan cambuk tersebut tersenyum puas.


"ARGH!!!" jerit Sara kesakitan.


Baru beberapa hari ini luka-lukanya sembuh sekarang Sara harus merasakan rasa sakit lagi.


"Kenapa... Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa salahku?"


"Salahmu... Em..." Tina berpikir-pikir sebentar. "Tidak ada," jawabnya kemudian.


"Apa?"


"Kami sengaja melakukan hal ini padamu, manis."


Tina mengangkat dagu Sara dengan lembut. Tampa peringatan ia tiba-tiba menggoreskan silet ke pipi Sara. Darah seketika mengalir dan menetes di pakaian Sara.


"Aw!! Perih sekali. Hiks... Hiks.... Aku pikir kalian orang baik. Rupa-rupanya kalian itu sama saja dengan mereka!!!" betak Sara sambil menangis.


"Hah? Hahaha..." tawa Tina dan Amy terbahak-bahak.


"Aduh... Perutku jadi sakit. Kau benar-benar lucu."


"Apa kau pikir kami cuman sekedar pelayan saja? Ketahuilah kalau kami telah dipilih secara khusus oleh Mr. Hedrick dan Mr. Veeno. Kami bukanlah pelayan biasa."


"Lalu kenapa kalian berpura-pura bersikap baik padaku selama ini? Jika memang kalian sama kejamnya dengan mereka, bunuh saja aku!! Langsung saja tebas kepalaku! Dengan begitu kalian tidak perlu susah payah lagi mengantarkan aku makanan setiap saat!!"


Bugk! Bagk! Bugk!


Ayunan cambuk berulang kali Amy ayunkan pada Sara. Luka lebam tercipta di sekujur tubuh Sara dan beberapa diantaranya sampai mengeluarkan darah.


"AAAHHH!!! Hentikan itu sakit! Dasar kalian wanita gila!!" caci maki Sara di tengah-tengah rasa sakit yang dideritanya.


"Hah. Membunuh mu itu sangat mudah tapi sayangnya tuan muda tidak mengizinkan kami melakukan itu padamu."


"Cukup Amy. Jika kau terus memukulnya, kau malah akan membunuhnya," cegat Tina.


"Kau benar. Jika ia mati hari ini, kita tidak akan ada kerjaan untuk beberapa hari kedepan sampai tuan muda pulang," Amy berhenti mengayunkan cambuknya.


"Aku lupa. Sebaiknya kita jangan melukai wajahnya. Mungkin tuan muda masih ingin menikmati wajah cantiknya itu."


"Padahal wajahnya itulah yang ingin aku hancurkan. Karna ia telah berani menggunakan wajahnya untuk merayu Mr. Hedrick. Aku benar-benar kesal!!"


"Ooh... Apa kau menaruh suka pada Mr. Hedrick?" tanya Tina dengan nada menggoda.


"Aah... Bukan suka lagi. Sejak bertemu dengannya aku sudah jatuh cinta padanya," wajah Amy seketika tersipu malu.


"Aku tidak berharap cintaku ini dibalas oleh Mr. Hedrick. Cukup dengan terus berada disisinya dan selalu melayaninya saja sudah membuatku bahagia."


"Itu berarti kau merupakan gadis gila! Selera mu itu benar-benar aneh," caci Sara menyela pembicaraan mereka berdua.


"Apa yang kau tahu? Kau itu baru mengenal Mr. Hedrick lebih dari dua minggu ini, sedangkan aku telah mengenalnya sejak vila ini dibangun. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dirinya yang sebenarnya."


"Sudahlah, besok lagi saja. Kita tidak perlu tergesa-gesa," Tina berbalik menuju pintu keluar.


"Baiklah. Aku juga sudah lelah hari ini," dengan senyum polosnya Amy segera menyusul Tina. Tapi sebelum itu ia berhenti sebentar dan melirik tajam pada Sara. "Ingatlah, ini belum berakhir. Kami akan membuat hari-hari mu diselimuti rasa sakit."


"Kau saja yang bermain. Aku hanya menemani."


Mendengar itu membuat tubuh Sara begidik ngerih. "Dasar wanita gila!!! Aku harap kalian mati dengan sangat mengenaskan!!"


...⚛⚛⚛⚛...


Kletar!


Ricardo menghempaskan secangkir anggur merah ke lantai. Pecahan cangkir kaca tersebut berhamburan dengan semua isinya tumpah. Ia sangat kesal apa yang terjadi padanya kemarin. Niat hati ingin ingin memperingatkan Hedrick ia malah berakhir di permalukan. Seharian ia tidak keluar dari kamarnya. Video berserta fotonya telah menyebar di internet. Saat ini ia masih menjadi bahan pembincangan di kapal tersebut.


"Sial!! Awas saja kau Hedrick. Aku akan membalasmu!"


"Tuan muda, kami telah mencari ke seluruh penjuru kapal tapi kami sama sekali tidak menemukan mereka," kata salah satu bawahan Ricardo memberi laporan.


"Dasar bajingan kau Hedrick! Kau apakan kedua bawahanku itu? Dimana kau menyembunyikan mereka?"


"Apa mungkin mereka telah dibunuh lalu mayatnya dilempar ke laut?" tebak pria itu.


"Bisa jadi. Apa yang terjadi kemarin malam Hedrick memang cukup lihai dalam ilmu bela diri."


"Apa perlu kita melaporkan hal ini pada polisi? Dia telah berani mengganggu anda dan membunuh dua bawahan anda."


"Tidak. Saat ini kita berada sangat jauh dari daratan. Butuh waktu lama bagi polisi untuk datang kemari. Jikapun mereka datang mereka masih harus melakukan penyelidikan. Kita tidak memiliki bukti kuat bahwa dia telah melakukan pembunuhan. Dia bisa saja lolos dari masalah ini dan aku tidak bisa membalas dendam padanya."


"Lalu kita harus apa tuan muda? Tidak mungkin kita hanya diam dan menunggu."


"Tentu saja tidak. Kita bunuh dia besok. Aku ingin mencabik-cabiknya dan melemparkan mayatnya ke laut dengan begitu tidak akan ada yang dapat menemukannya lagi. Perintahkan untuk semuanya berkumpul!" perintah Ricardo pada anak buahnya itu.


"Baik, tuan muda," pria tersebut lantas berlalu pergi.


"Aku pastikan kau mati Hedrick! Akan aku tunjukan kalau kau telah berani menggangu orang yang salah."


Kebencian Ricardo sepertinya sudah meluap-luap. Ingin sekali ia membunuh Hedrick saat ini juga namun ia masih berusaha untuk menenangkan diri dan tidak boleh gegabah. Jika ia ingin membunuh seseorang setidaknya harus memiliki persiapan yang matang. Rencanannya Ricardo ingin membuat skenario seolah-olah kematian tersebut merupakan sebuah kecelakaan agar mereka terbebas dari semua tuntutan. Akankah rencana ini akan berhasil atau malah berakhir sebaliknya?


.


.


.


.


.


.


ξκύαε