The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Lokasi pertama



"Aku berhasil memecahkan sandinya!" teriak detektif Jordan sambil menunjukan hasil yang ia peroleh.


7 18 5 5 14


G R E E N


1 16 1 18 20 13 5 14 20


A P A R T M E N T


"Mereka ada di Green apartment."


"Bagus. Perintahkan semua polisi yang ada didekat Green apartment untuk segera mengepung tempat tersebut! Jangan biarkan ada satupun orang yang diperbolehkan keluar! Detektif Jordan, ayok kita juga pergi ke lokasi."


"Baik, pak."


"Hari ini juga kita harus menangkap mereka."


Kepala polisi dan detektif itu lekas pergi ke Green apartment dengan menggunakan mobil polisi. Kali ini kepala polisi tersebut turun tangan langsung untuk menangani kasus ini. Sementara itu di dalam sebuah rumah terbengkalai di luar pusat kota, Hedrick dan Veeno sedang menatapi layar laptop. Mereka saat ini memantau pergerakan mobil-mobil polisi tersebut melalui alat pelacak.


"Uuh... Sepertinya mereka berhasil memecahkan sandi yang pertama. Mereka mulai bergerak ke Green apartment," ujar Veeno sambil memperbesar gambar salah satu mobil yang bergerak cepat menuju Green apartment.


"Mereka lumayan cepat. Sebaiknya kita juga mulai bergerak munuju lokasi kedua," saran Hedrick.


"Haha... Sejak awal permainan ini memang tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk menang."


"Tidak juga. Sekarang mereka telah mengetahui trik memecahkan sandi tersebut. Jika mereka cepat, bisa saja mereka menangkap kita. Tapi itulah bagian menantang dari permainan ini."


Hedrick beranjak dari kursinya. Dengan jalan masih sedikit pincang, Hedrick menghampiri seorang wanita yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka duduk tadi. Tubuh wanita telah terkulai lemas dengan kaki kanannya telah hilang.


"Bagaimana keadaanmu, manis?" sapa Hedrick.


"Aku mohon lepaskan aku. Apa salahku? Kenapa kalian melakukan ini padaku? Hiks... Hiks..." tangis wanita itu menahan sakit di kakinya.


"Kenapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin karna harimu sedang sial saja bertemu dengan kami."


"Jangan menangis, saat ini para polisi sedang mengunjungi rumahmu," kata Veeno sambil berjalan mendekat. "Kami sedang melakukan permainan dengan mereka. Jika mereka menang, maka kau akan selamat."


"Sebaliknya, jika mereka kalah, kau akan mati," sambung Hedrick.


"Berdo'a lah kau masih bisa bertahan. Takutnya kau malah mati duluan karna kehabisan darah."


"Saatnya melakukan pengiriman," Hedrick mengambil kapak yang tergeletak tak jauh dari wanita itu. "Bagian mana yang harus kita kirim?"


"Kaki yang satunya."


Tampak aba-aba Hedrick mengayunkan kapaknya memotong putus kaki kanan wanita itu. Darah seketika muncrat kemana-mana.


"ARGHH ! ! !" teriak wanita kesakitan.


Hedrick dan Veeno tidak peduli. Hedrick melepaskan jas hujan yang dikenakannya. Jas hujan tersebut berfungsi untuk mencegah darah menempel di tubuh serta pakaiannya. Jas hujan berlumuran darah itu tidak langsung dibuang. Hedrick menggunakannya kembali untuk membalut kedua kaki wanita itu, dengan tujuan saat mereka mengangkat tubuh wanita itu darahnya tidak mengenai mereka.


Sementara itu Veeno memasukan kaki yang telah terputus itu ke dalam kantung plastik hitam, kemudian dimasukan lagi ke dalam paper bag besar. Barulah setelahnya mereka mengangkat tubuh wanita itu menuju mobil dan memasukannya ke bagasi mobil. Untuk mencegah darah wanita tersebut menetes ke mobil, mereka telah melapisi bagasi mobil dengan menggunakan terpal plastik hitam.


"Hiks... Hiks... Dasar kejam! Kalian psychopath gila!" teriak wanita itu melontarkan sumpah serapannya.


"Diam!" bentak Veeno. Ia lalu menyumpal mulut wanita itu dengan kain dan diselotip.


Wanita itu hanya bisa melotot tajam pada kedua laki-laki yang telah menculiknya ini.


"Jangan menatap kami seperti itu, karna tidak ada gunanya."


Hedrick dan Veeno masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju tempat selanjutnya.


...⚛⚛⚛⚛...


Kepala polisi dan detektif akhirnya sampai di Green apartment. Sesuai namanya, bangunan setinggi 45 lantai memiliki ciri khas setiap balkon dipenuhi tanaman. Mereka berdua lekas masuk ke dalam apartemen tersebut. Baik di luar maupun di dalam apartemen sudah ada sejumlah polisi yang berjaga. Penghuni apartemen dibuat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Para polisi yang ada di tempat itupun tidak memberi keterangan apapun pada mereka.


"Bagaimana situasi disini?" tanya kepala polisi itu pada anak buahnya.


"Semuanya berjalan seperti yang bapak perintahkan. Kami telah mengepung tempat ini."


"Apa ada hal yang mencurigakan?"


"Sampai sekarang tidak ada, pak."


"Kita sudah ada disini tapi tidak satupun hal yang mencurigakan. Apa pesan tersebut hanyalah duluan belaka?" tanya detektif Jordan mengutarakan pikirannya.


"Aku tidak tahu, tapi kita tetap harus waspada."


"Atau malah kita sudah terlambat?"


"Detektif Jordan, apa anda membawa foto wanita itu?" tanya kepala polisi tersebut.


"Iya," detektif Jordan menyerahkan foto wanita yang ada di dalam surat sebelumnya pada atasannya.


Kepala polisi itu menerimanya lalu menyerahkan foto tersebut pada anak buahnya. "Cari tahu apa ada orang di apartemen ini yang mengenal wanita ini."


"Segera saya laksanakan, pak."


Polisi itu lekas pergi setelah menerima foto tersebut. Agar lebih cepat pencarian, ia memfoto gambar tersebut lalu mengirimkannya pada rekan-rekannya yang lain untuk ikut mencari informasi mengenai wanita tersebut. 15 menit kemudian ia kembali dengan tergesa-gesa.


"Pak! Saya sudah mendapatkan informasi tentang wanita ini. Namanya Risna, umur 22 tahun. Dia tinggal di apartemen ini di lantai 27 nomor 459. Menurut kesaksian tetangga korban, sejak kemarin ia tidak terlihat pulang ke apartemennya."


"Lakukan pemeriksaan di apartemen korban dan untuk yang lain tetap berjaga di sekitaran apartemen ini."


Kepala polisi, detektif Jordan dan tiga polisi lagi naik ke lantai 27 pergi menuju apartemen Risna. Tidak terlihat kejanggalan di depan pintu nomor 459 itu. Salah satu polisi membuka pintu apartemen tersebut yang ternyata tidak dikunci. Mereka masuk satu-persatu lalu berpencar memeriksa setiap ruangan. Bagian dalam apartemen ini juga tidak ditemukan kejanggalan apapun. Semua barang berada di tempatnya, tidak ada yang rusak maupun hilang. Namun mereka memeriksa kamar korban, betapa terkejutnya mereka mendapati potongan kaki manusia di atas tempat tidur. Potongan kaki itu masih mengenakan sepatu hak tingginya dan tampak masih segar. Diperkirakan kaki tersebut dipotong sekitar satu sampai satu setengah jam yang lalu. Selain potongan kaki manusia, ditemukan juga selembar surat berisi...


..."Ups, maaf. Sepertinya kami lupa memberitahu kalian. Setiap kali kalian terlambat, kami terpaksa memotong salah satu anggota tubuh si manis ini. Jadi, mohon dipercepat memecahkan kode tersebut jika kalian tak ingin wanita ini mati karna kehabisan darah. Kami akan menunggu kalian selama lima menit di lokasi selanjutnya. Semoga berhasil."...


...BEPUVQ OBHGVDHR...


...I\=22...


"Aah! Sial! Mereka mempermainkan kita! Detektif Jordan," panggil kepala polisi itu hendak meminta detektif Jordan memecahkan sandi tersebut.


"Jauh di depanmu, pak."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε