
"Permainan ini terlalu sulit. Aku sudah hampir menghabiskan seluruh chips ku," keluh Monica.
"Aku juga," sambung Poppy.
"Kalian para wanita-wanita cantik sebaiknya menonton saja. Kalian tidak akan dapat menang dari kami," kata salah satu pria yang ikut bermain kartu tersebut.
"Itu benar. Dari pada membuang uang kalian, bagaimana kalian berdua ikut aku bersenang-senang. Aku jamin tidak hanya kalian terpuaskan, kalian juga akan kuberi uang yang banyak," ujar pria lain menggoda Monica dan Poppy.
Monica tentu tidak terima mendengar perkataan tersebut. "Siapa yang mau..."
"Mereka berdua milikku," potong Hedrick tiba-tiba. "Mereka memang tidak bisa bermain dengan baik tapi mereka membawa keberuntungan untukku. Aku menang."
Hedrick membalik kartunya sebagai bukti kemenangannya. Pria itu tercengang. Ia membandikan dengan kartu miliknya yang sial. Ia bahkan malu untuk memperlihatkannya pada yang lain.
"He, aku akui kau cukup hebat. Sepertinya kedua gadis ini memang membawa keberuntungan seperti yang kau bilang."
"Permainan mu juga bagus. Walaupun aku sudah memiliki dua keberuntungan namun masih saja aku beberapa kali kalah dari mu."
"Jika ada kesempatan mari kita bermain lagi. Dan untuk malam ini ayok bersenang-senang."
"Dengan senang hati."
Permainan berlanjut. Untuk sekarang atas kemenangan yang Hedrick peroleh telah melipat gandakan chipnya. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama. Disaat lagi asyik-asyiknya berjudi, ada-ada saja lalat pengganggu. Seorang pria berperawakan besar datang bersama dua bawahannya, berwajah sangar dan menakutkan. Selain anak buahnya, dia juga menggadeng seorang wanita. Sepertinya wanita tersebut adalah kekasih pria itu. Wajahnya tidak terlalu cantik. Berkat peralatan kosmetik yang ia gunakan itulah dapat menutupi kekurangan diwajahnya. Masih cantikan Monica dan Poppy yang memiliki kecantikan alami.
"Aku dengar disini ada pemain baru yang memiliki keahlian luar biasa. Apa itu kau?" tanya pria itu sambil mengambil tempat duduk dihadapan Hedrick.
Hedrick tidak lekas menjawab pertanyaan tersebut. Ia lebih memilih menanyakan identitas pria ini pada rekan mainnya yang lain. "Siapa pria ini?"
"Oh, kau mungkin baru disini jadi belum mengenalnya. Dia adalah Mr. Geraldo. Aku tidak tahu pasti latar belakangnya, tapi dia merupakan wajah utama di Casino ini. Dia menempati peringkat pertama setelah menang berturut-turut dan menjadi pemilik chip terbanyak," jelas salah satu pria yang Hedrick tanya.
Pria tersebut melirik ke layar besar yang memperlihatkan daftar peringkat pemain yang telah memenangkan banyak permainan. Peringkat dihitung dari jumlah chip yang berhasil dimenangkan. Dan di layar tersebut terpampang nama Mr. Geraldo pada urutang paling atas dengan jumlah chip sebanyak 5.230 buah. Itu jumlah yang sangat besar jika dibadingkan dengan milik Hedrick yang cuman sebanyak 365 buah.
"Itu benar. Aku sudah menantang banyak orang di Casino ini sejak menginjakan kaki pertama kali di kapal. Dan sampai sekarang belum ada yang berhasil menang dariku. Aku dengar kau cukup hebat."
"Aku hanya beruntung saja," kata Hedrick merendah.
"Beruntung? Benarkah? Bagaimana kalau aku menantangmu?" kata Mr. Geraldo mulai menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya.
"Tantangan? Apa jika aku berhasil mengalahkan mu, namaku akan terpajang di layar itu?" ujar Hedrick sambil menunjuk ke layar yang di maksud. Suatu pertanyaan yang membuat semua orang di meja tersebut kaget.
"Hahaha... Nyalimu lumayan berani juga bocah. Aku menyukainya. Tapi jangan belagak sombong dulu. Aku masih memberimu kesempatan untuk berpikir."
"Aku sarankan sebaiknya kau tidak menerima tantangan Mr. Geraldo. Sekali kau menerimanya maka kalian berdua diharuskan bermain sampai salah satu dari kalian kehabisan chip. Itu peraturannya," nasehat salah seorang pria yang duduk disebelah Poppy.
"Sepertinya menarik. Itu berarti aku dapat langsung menuduki peringkat pertama jika aku menang."
"Aku terima," jawab Hedrick dengan tegas.
"Hahaha.... Bagus. Kau pria yang pemberani. Jangan menyesal saja nanti, ya."
"Aku tidak perna menyesal dengan keputusanku."
"Apa kau yakin mau melakukan ini Hedrick?" tanya Monica sambil berbisik.
"Percayalah padaku. Aku 'kan memiliki dua wanita pembawa keberuntungan."
"Dasar! Masih sempat-sempatnya kau mengodaku disaat seperti ini."
Mengetahui ada yang menerima tantangan dari sang peringkat teratas, seketika Casino tersebut menjadi heboh. Mereka berbondong-bondong datang untuk melihatnya secara langsung. Tapi sebagian besar orang dapat menyaksikan permainan tersebut dari layar utama. Hedrick dan Mr. Geraldo kini mulai memasang taruhan mereka. Permainan yang mereka mainkan kali ini adalah blackjack.
Permainan blackjack ini dikenal dengan nama 21. Sesuai dengan namanya, pemain yang memainkan permainan ini sebisa mungkin mengincar kartu dengan total nilai 21. Permainan satu ini bisa dibilang sangat mudah untuk dilakukan dan tidak serumit permainan kartu lainnya. Untuk masalah nilai kartu, A memiliki poin 11 atau 1, J-Q-K bernilai 10, sisa kartu memiliki nilai sesuai dengan yang terlihat pada kartu. Semakin dekat nilai kartu dengan 21, maka dialah yang dianggap sebagai pemenang. Namun bila nilai kartu melewati angka 21, pemain tersebut otomatis kalah
Dealer casino itu mulai mengocok kartunya. Dengan kelincahan tangannya, itu menjadi hiburan tersendiri sebelum memulai permainan. Kartu dibagikan ke masing-masing pemain. Hedrick mengintip sekilas kartu yang ia dapatkan. Ia hanya tersenyum lalu melirik lawan di depannya. Terlihat kepuasan di wajah Mr. Geraldo. Ia sepertinya mendapatkan kartu yang bagus.
"Ahaa... Akan aku tujukan kehebatanku bocah. Aku pastikan kau menyesali ini," Mr. Geraldo membalik kartunya yang menampakan jumlah pas 21.
"Selamat ya Mr. Geraldo. Sepertinya kau menang kali ini," Hedrick menujukan kartu miliknya yang cuman berjumlah 17.
Dengan tawanya yang besar Mr. Geraldo meraup semua chip taruhannya. Nilai chipnya kini bertambah. Sebenarnya Hedrick sudah tahu kalau Mr. Geraldo telah berbuat curang tapi ia membiarkan itu. Mereka kembali memasang taruhan mereka dan kali ini jumlahnya dua kalipat dari yang pertama. Dealer mengocok kembali kartu lalu membagikannya ke Hedrick dan Mr. Geraldo. Senyum puas terukir lagi di wajah Mr. Geraldo begitu melihat hasil kartunya. Karna berasa yakin akan menang lagi ia meminta Hedrick untuk memperlihatkan kartu nya duluan. Dengan santai nya Hedrick membalik kartunya yang ternyata cuman berjumlah 10 saja. Mr. Geraldo bersorak sambil membalik kartunya yang berjumlah 19. Lagi-lagi ia memenangkan permainan ini. Kini Hedrick telah kehilangan lebih dari setengah jumlah chipnya.
"Bagaimana? Sekarang kau tahu kalau kau telah memilih lawan yang salah."
"Ini terlalu lambat. Aku taruhkan semua milikku dengan begitu permainan ini bisa berjalan lebih cepat," Hedrick menyodorkan sisa chipnya ke meja taruhan dan cuman menyisakan satu chip saja.
"Dengan senang hati," Mr. Geraldo menyodorkan semua chip yang telah berhasil ia menangkan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε