
Tidak seperti semalam, pagi ini langit tampak cerah tak berawan. Veeno melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia berkerja. Sisa-sisa badai semalam yang sebagian terdiri dari dedaunan masih memenuhi jalan raya. Tapi tak jarang juga ada pohon tumbang yang menyebabkan jalanan macet. Melihat petugas yang sedang membereskan pohon tumbang tersebut mengingatkan Veeno pada Hedrick. Tidak seperti di kota, pohon yang ada di hutan dua kali lipat besarnya dan lebih tinggi serta rimbun juga. Hedrick sungguh beruntung masih bisa selamat. Rencananya Veeno mau menjenguk Hedrick selepas pulang kerja.
Mobil Veeno berhenti tepat di sebuah pikiran bawah tanah suatu gedung bertingkat. Di pusat laboratorium itulah ia berkerja. Sambil menenteng jas putihnya ia naik ke lantai 5 menggunakan lif. Sampai disana salah seorang wanita menghampiri Veeno. Wanita itu adalah rekan kerja Veeno yang juga seorang profesor.
"Selamat pagi Veeno," sapa wanita itu.
"Pagi. Ada apa? Kau menyapaku pagi-pagi begini pasti ada maunya, 'kan?"
"Ah, Veeno. Tahu saja kau ini kalau aku memerlukan bantuanmu."
"Sudah sangat jelas dari raut wajahmu."
"Hari ini aku mendapat tugas dari ketua untuk menjadi pemandu tur mahasiswa dari universitas sains, tapi aku belum menyelesaikan laporan penelitian ku. Sebab itu mau kah kau menggatikanku hari ini? Kalau tidak salah kau 'kan lulusan terbaik di universitas itu."
"Baiklah, aku akan menggantikan mu. Kau beruntung aku tidak terlalu sibuk hari ini."
"Wah... Terima kasih Veeno. Kau benar-benar teman yang dapat diandalakan."
"Et... Tidak secepat itu. Ada syaratnya."
"Syarat? Apa syaratnya?"
"Kau harus makan malam denganku," goda Veeno.
"Aah... Veeno. Dasar kau ini," wanita itu berbalik pergi dengan wajah sedikit kesal. Tapi tak lama ia menoleh pada Veeno sambil tersenyum. "Mungkin lain kali."
Sambil menunggu para mahasiswa datang, Veeno menghampiri meja kerjanya. Ia harus menyelesaikan beberapa hal terlebih dahulu sebelum menemani para mahasiswa berkeliling laboratorium. Tepat jam 8 rombongan mahasiswa dari universitas sains datang. Veeno telah menunggu mereka aula depan. Sebagai seorang ilmuwan senior Veeno tantunya harus terlihat professional di hadapan para mahasiswa awam ini. Tapi sikapnya ini malah menarik perhatian para mahasiswi. Dengan setelan jas putih alah profesor dan sesekali mengenakan kacamata membuat para mahasiswi itu lebih fokus ke penampilan Veeno dari pada apa yang diterangkannya. Walau Veeno sudah terbiasa memiliki banyak penggemar dari kalangan para gadis namun Veeno menanggapi mereka biasa saja. Veeno sama sekali tidak tertarik pada gadis yang masih sekolah. Tapi tak jarang Veeno suka menggoda mereka. Saat Veeno melakukan eksperimen sains agar tur kali ini tidak terlalu membosankan, ada satu gadis yang sepertinya tidak tertarik sama sekali. Gadis itu terlihat lebih fokus ke hpnya.
"Miss. Rogers. Apa itu es panas?" tanya Veeno membuat semua orang menoleh pada gadis tersebut.
"Es Panas adalah nama yang diberikan untuk natrium asetat," jawab Miss. Rogers.
"Benar. Natrium asetat atau es panas adalah bahan kimia yang menakjubkan yang bisa kita buat dari baking soda dan cuka. Kita bisa mendinginkan larutan natrium asetat di bawah titik lelehnya dan yang kemudian menyebabkan cairan mengkristal. Kristalisasi adalah proses eksotermik, sehingga es yang dihasilkan menjadi panas. Proses pemadatan terjadi begitu cepat sehingga kita bisa membentuk pahatan saat kita menuangkan es panas.
Secara kimia, natrium asetat adalah campuran dari berbagai unsur atom natrium (Na), dua atom karbon (C), dua atom oksigen (O), dan 3 atom hidrogen (H). Ketika kita secara teknis menulis bahan kimia ini, ia digambarkan sebagai C2H3NaO2. Umumnya, natrium tampak sebagai bubuk kristal higroskopis atau menarik air. Natrium asetat dapat disebut sebagai garam natrium asam asetat, natrium etanoat.
Ini termasuk basis konjugasi asam lemah, yang berarti hanya mengion dalam air. Sifat ionisasi parsial ini memberikan sodium asetat dengan sifat penyangga, yaitu kemampuan untuk mempertahankan larutan pada pH yang relatif konstan, bahkan jika ia mengalami asam atau basa. Properti ini beserta toksisitasnya yang rendah, memberi tahu kita mengapa natrium asetat dapat ditemukan di industri sebagai salah satu bahan paling penting di beberapa industri mulai dari produksi minyak bumi hingga penyedap makanan," jelas Veeno. "Miss. Rogers, bisa anda melakukan eksperimen ini?"
"Apa? Aku?" Miss. Rogers cukup kaget saat mengetahui ia ditunjuk untuk melakukan eksperimen.
"Sial! Dia pasti sengaja," gerutu Miss. Rogers dalam hati. "Baiklah."
Dengan gugup Miss. Rogers maju untuk melakukan eksperimen tersebut. Namun seperti yang Veeno perkirakan, Miss. Rogers sama sekali tidak bisa melakukannya. Eksperimen nya gagal total. Veeno membantu melakukan eksperimen tersebut dengan cara memberi arahan yang tepat. Tapi tetap saja gagal. Veeno terpaksa turun tangan sendiri melakukan eksperimen itu.
"Makanya Miss. Rogers, perhatikan apa yang aku terangkan jika masih banyak yang tidak kau mengerti. Jangan terus fokus pada hpmu itu."
"Maaf, profesor."
Miss. Rogers merasa dipermalukan dihadapan teman-temannya. Ia kembali kebarisan dengan wajah tertunduk. Rasa kesal juga ia rasakan pada Veeno. Belum perna ada yang berani membuatnya malu seperti ini. Hal ini karna identitas ayahnya yang disegani banyak orang membuat Miss. Rogers menjadi angkuh dan sombong. Veeno sudah tahu siapa itu Mr. Rogers. Tapi itu tidak membuat ia takut sama sekali. Veeno melanjutkan turnya sampai berakhir pada jam makan siang.
Karna tugasnya sebagai pemandu tur selesai lebih awal, Veeno bisa pulang lebih cepat hari ini. Setelah makan siang Veeno memutuskan menjenguk Hedrick di vila. Tak lupa ia membawa buah tangan seperti buah-buahan dan roti manis selai kacang kesukaan Hedrick. Diakibatkan jalan pintas menuju vila masih teblokir pohon tumbang, Veeno terpaksa menggunakan jalur memutar. Itu memerlukan waktu dua kali lipat perjalanan agar sampai di vila. Tiba disana Veeno lekas ke kamar Hedrick.
"Hedrick, aku datang. Bagaimana keadaanmu?" sapa Veeno sambil melangkah masuk. Veeno cukup terkejut mendapati tubuh Hedrick dipenuhi perban dan plester luka. "Astaga, tidak kusangka kau terluka separah ini. Tina bilang kau cuman mengalami luka kecil di kepala."
"Lukaku memang tidak seberapa, tapi semua ini ulah Felicia. Dia memperbanku seperti mumi," dengan langkah masih pincang Hedrick berjalan mendekati sofa.
"Sepertinya Felicia merawatmu dengan sangat baik. Oh, iya. Aku bawakan buah-buah untukmu."
"Buah-buahan? Seolah-olah aku ini terbaring di rumah sakit saja."
"Jika tidak mau tidak apa. Aku bisa memberikan ini pada Felicia. Mungkin dia juga suka dengan roti selai kacang."
"Aah... Berikan itu padaku."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε