
Belum sempat Felicia bersiap sedia, Tina telah menekan perutnya bersamaan dengan Hedrick menarik tubuh bayi secara perlahan-lahan. Rasa sakit seketika menghantam bagian bawah Felicia. Mau tidak mau ia harus mengejan.
"Arrgghh.....! Huff... Huff... Nnngggkh......! Hentikan! Hmmmph!"
Rintihan kesakitan Felicia tidak membuat Tina dan Hedrick berhenti. Perlahan usaha mereka berhasil. Tubuh bayi bergerak keluar dari rahim Felicia.
"Ennngggghhh..........!! Aaaahhh.......!"
Satu ejanan terakhir berhasil mengeluarkan tubuh bayi seutuhnya bersamaan dengan semburan air ketuban.
Ooeeeeekk....... Ooeeeeekk.......
Tangis bayi mengisi ruang kamar tersebut menggantikan teriakan Felicia. Ia mengatur nafasnya berulang kali dengan tubuh terkulai lemas. Ia melirik Hedrick yang saat ini tertegu sambil menyusap kepala bayinya lalu menciumnya. Felicia terkejut melihat perlakuan Hedrick pada bayinya kali ini. Tidak seperti yang sudah-sudah. Setelah melahirkan biasanya Hedrick langsung membawa bayinya begitu saja bahkan Felicia tidak sempat melihat wajah sang bayi. Tapi kali ini berbeda. Dari tatapan Hedrick seperti seorang ayah yang benar-benar telah lama menantikan kelahiran bayinya. Apa itu cuman perasaan Felicia saja atau bayi tersebut tetap akan direnggut darinya?
Hedrick membersikan sisa air ketuban dari mulut serta hidung bayi sebelum akhirnya memotong tali pusar sang bayi. Ia menyelimuti bayi itu dengan selimut yang Amy berikan agar tetap hangat. Dengan kemeja putihnya bernodakan darah persalinan Felicia, Hedrick bangkit berdiri lalu berbalik menuju pintu keluar.
"Hedrick!" panggil Felicia membuat langkah Hedrick terhenti. "Aku mohon jangan bawa pergi bayiku lagi," pintanya dengan sangat.
"Tina, Amy, urus Felicia sebentar lalu segera temui aku," perintah Hedrick.
"Hedrick!! Aku mohon kembalikan bayiku! Hiks... Hiks... Dasar manusia tidak berperasaan!"
Felicia terus memohon pada Hedrick meminta bayinya kembali. Namun Hedrick tetap melangkah pergi tanpa memperdulikan tangisan Felicia. Tina dan Amy tidak memiliki hak untuk membantu Felicia membujuk Hedrick. Dalam hati meraka juga merasa kasian melihat Felicia. Sudah beberapa kali Felicia berjuang melahirkan namun tidak perna sekalipun ia melihat bayinya. Ia hanya bisa menangis. Tina dan Amy membantu membersikan tubuh Felicia dari sisa darah dan air ketuban. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Felicia sendirian dan segera menemui Hedrick seperti yang diperintahkan.
Dalam hati Felicia terus mengutuk Hedrick. Benar-benar kesalahan fatal kalau ia sepat berpikir Hedrick telah berubah. Perlakuan Hedrick tadi pastilah hanyalah kebohongan belakang. Bayinya tetap saja direnggut darinya. Apa penderitaan seperti ini akan terus Felicia alami? Walau Felicia membenci bayi yang ia kandung selama ini namun tetap saja bayi itu adalah darah dagingnya sendiri. Sembilan bulan lebih bayi itu hidup dalam dirinya, memberi rasa sakit disetiap tendangan kecilnya, namun semua itu tidak mengapa. Bagi seorang ibu, melahirkan kehidupan baru merupakan hal yang paling luar biasa dalam hidupnya. Tapi apa yang Felicia alami ini merupakan sesuatu yang paling menyakitkan yang dialami seorang ibu. Dia lebih memilih kehilangan nyawanya dari pada harus kehilangan bayinya.
Felicia hanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Tubuhnya masih tidak bertenaga bahkan untuk mengangkat tangannya terasa sulit sekali. Ia tak mampu menangis lagi karna air matanya telah terkuras habis. Tapi percuma saja mau ia menangis darah pun bayinya tidak mungkin kembali lagi. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. Tidak diduga satu jam setelah kepergiannya, Hedrick kembali dengan bayi Felicia dalam pelukannya. Tidak jauh di belakang Hedrick, Tina dan Amy ikut melangkah masuk ke kamar Felicia sambil membawa seluruh perlengkapan bayi mulai dari tempat tidur, pakaian, selimut, keperluan mandi, perawatan sesudah mandi, popok, susu dan banyak lagi. Semuanya lengkap.
"Rawatlah dia dengan baik," dengan hati-hati Hedrick membaringkan bayi tersebut di sebelah ibunya.
Felicia tak kuasa menahan haru. Untuk pertama kalinya ia dapat menatap langsung salah satu bayinya. Satu kecupan mendarat di dahi sang bayi.
"Hiks... Dia cantik sekali. Siapa namanya?" tanya Felicia sambil menoleh pada Hedrick.
Secara tidak langsung Felicia meminta Hedrick sendiri yang memberi nama pada bayi mereka. Hedrick tidak segera menjawab. Ia menatap Felicia sesaat lalu berbalik menatap bayi yang tertidur itu.
"Marguerite Daisy Gardner. Panggil saja Daisy," kata Hedrick kemudian.
"Daisy. Bunga putih padang rumput yang selalu kembang di musim semi," Felicia tersenyum. "Aku menyukainya. Itu persis sama seperti dia. Oh.... Bunga musim semi ku. Kau telah membawa kehangatan dalam hidupku."
Hedrick bangkit berdiri. Ia ingin membiarkan Felicia berduaan saja dengan bayinya. Namun saat Hedrick berbalik dan hendak melangkah pergi, Felicia tiba-tiba memanggilnya. Itu membuat langkahnya terhenti.
"Hedrick."
"Terima kasih. Terima kasih karna telah mengizinkan aku untuk merawatnya kali ini."
Hedrick hanya diam. Ia menghela nafas lalu melanjutkan langkahnya pergi keluar.
...⚛⚛⚛⚛...
Keesokannya Veeno baru mengerti siapa kucing yang dimaksud. Ia menyempatkan diri datang menemui Felicia hanya untuk melihat sang bayi. Tak lupa ia juga membawa hadiah berupa boneka beruang. Boneka itu diletakan disebelah tubuh bayi yang tengah lelap tertidur.
"Wah... Kita kedatangan anggota baru. Dia cantik sama seperti ibunya. Jangan tersinggung Hedrick," lirik Veeno pada Hedrick yang bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa maksudmu Veeno?"
"Iya, yang aku maksud dia sama sekali tidak mirip denganmu," kata Veeno seperti tidak merasa bersalah.
Hedrick melirik tajam pada Veeno. Kemudian ia berjalan mendekatinya lalu menarik paksa krah baju Veeno dan menyeretnya keluar.
"AHH!! Maaf, maafkan aku. Kau ini sungguh pria yang tidak bisa diajak bercanda, ya?"
"Diam! Kau sudah cukup lama bertemu dengannya. Sekarang ikut aku pergi. Biarkan mereka istirahat."
Felicia tak tahu harus berkata apa melihat kelakuan dua orang itu. Ingin tertawa ada tapi ia teringat kalau mereka adalah orang-orang kejam berhati dingin dan tak kenal ampun serta sadis. Biarpun Felicia tidak perna melihat diantara keduanya membunuh orang namun aura pembunuh yang terpancar dari mereka tidak dapat disembunyikan, begitu kental. Terkadang Felicia masih dapat mencium bau anyir darah yang kental dari tubuh mereka. Di luar, tidak ada percakapan diantara Hedrick dan Veeno. Mereka pergi ke ruang GYM hanya untuk olahraga sesaat.
"Hedrick, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ini sedikit mengganggu ku. Kenapa kali ini kau membiarkan Felicia merawat bayinya? Tidak seperti bayi-bayinya yang lain yang malah kau jual," tanya Veeno memecah keheningan.
"Karna yang lahir adalah bayi perempuan," jawab Hedrick singkat.
"Ah, ternyata itu alasannya. Memang benar semua bayi yang dilahirkan Felicia selamanya ini merupakan bayi laki-laki. Rupanya kau sedang mencari bayi perempuan."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε