
Lebih dari satu setengah jam perjalanan, pemandangan yang tadinya hutan perlahan-lahan berganti dengan rumah-rumah dan bangunan bertingkat. Setelah sekian tahun disekap dalam vila di tengah hutan akhirnya Felicia dapat melihat kembali keelokan kota yang ramai. Banyak yang telah berubah dan berkembang sejak terakhir ia mengingat kota tersebut. Ia bahkan tidak mengenali lagi beberapa tempat yang dulunya sering ia kunjungi. Tapi tak jarang juga ada sejumlah bangunan yang sama sekali tidak berubah.
Felicia tidak henti-hentinya melirik kesana kemari dan sampai menunjuk-nunjuk hal apa saja yang menarik perhatiannya. Melihat senyum Felicia yang begitu bahagia membuat Hedrick sengaja memilih jalan terpajang untuk sampai di pusat pembelanjaan. Hal ini ia lakukan hanya sekedar ingin mengajak Felicia keliling kota sebentar. Sampai di pusat pembelanjaan mereka turun dari mobil. Tapi sebelum itu Hedrick menyerahkan salah satu kartu kreditnya pada Felicia.
"Belilah apa yang kau mau. Jangan ragu untuk menggunakan semuanya. Aku cuman akan mengikutimu dari belakang."
"Terima kasih," ucap Felicia begitu menerima kartu tersebut.
Dari parkiran bawah tanah mall tersebut mereka naik ke lantai dasar. Hedrick membiarkan Felicia jalan di depannya sambil menuntun Max. Keceriaan Felicia semakin terpancar saat mereka mulai menyelusuri mall tersebut. Ingin rasanya Felicia mendatangi setiap toko yang ada tapi ia merasa tidak leluasa membeli apa yang ia inginkan dengan menggunakan uang Hedrick. Biarpun Hedrick berkata boleh menghabiskan semua uang di kartu tersebut tapi tetap saja Felicia enggan menggunakannya hanya untuk membeli apa yang ia suka.
Hedrick mengetahui hal itu namun ia membiarkannya. Ia ingin melihat apa Felicia mampu menahan diri dari godaan barang-barang atau busana yang banyak disukai wanita demi mementingkan keperluan putrinya? Tidak disangka walaupun mata Felicia sering tertuju pada toko-toko busana, sepatu atau tas tapi hanya satu toko yang bergegas ia datangi. Toko itu adalah toko yang menyediakan perlengkapan bayi, mulai dari pakaian sampai mainan. Melihat antusias Felicia memilih pakaian untuk Daisy tanpa sadar membuat Hedrick tersenyum.
Namun senyumnya itu tidak berlangsung lama saat tiba-tiba ia mendengar pertengkaran kecil berasal dari belakangnya. Hedrick lekas mencari tahu sumber dari pertengkaran tersebut karna cukup menarik perhatiannya. Di area yang sepi dari pengunjung mall Hedrick mengintip dua orang wanita, anak dan ibunya sedang saling cek-cok.
"Elly! Tega sekali kau menggunakan tabungan ibu hanya untuk membeli barang-barang tak berguna!" bentak si ibu tersebut memarahi putrinya.
"Alah, ibu. Jangan pelit. Sudah seharusnya aku memiliki barang-barang bermerek. Semua teman-teman ku memilikinya, lalu kenapa aku tidak? Ibu tega sekali berbohong padaku tidak mempunyai uang tapi nyatanya ibu menyimpan uang sebanyak ini."
"Ibu menabung untuk keperluan kuliahmu! Sejak kematian ayahmu keuangan kita jadi sulit. Kakakmu terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya demi kau bisa bersekolah! Seharusnya kau mengerti itu!"
"Tidak! Kalian lah yang tidak mengerti. Aku malu pada teman-teman yang memiliki segalanya. Aku juga ingin seperti mereka dapat berlibur keluar negeri, makan di restoran berbintang dan memiliki barang-barang mewah."
"Jangan terlalu sering berpikir hanya untuk bersenang-senang, Elly! Kau sebaiknya pikirkan masa depanmu agar dapat menjadi lebih baik lagi. Jika kau sudah menyapai kesuksesan, kau akan memiliki semua itu."
"Oh... Aku memang akan sukses suatu hari nanti tapi jangan harap aku akan mengajak ibu. Karna ibu tidak perna membahagiakan ku! Dasar ibu tak berguna!"
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Elly. Dengan air mata mengalir di pipinya, sang ibu menatap tajam pada putrinya itu.
"Kurang ajar! Berani sekali kau bersikap tidak sopan seperti itu pada ibu sendiri. Sebaiknya kau perbaiki sikap burukmu itu. Kalau tidak kau malah akan menarik perhatian para pembunuh berantai itu!"
"Para pembunuh berantai? Yang ibu itu maksud adalah kami?" pikir Hedrick.
"Aku bukan anak kecil lagi yang bisa ditakut-takuti. Mereka tidak mungkin memperhatikan setiap perilaku wanita. Sudahlah! Sebaiknya ibu pulang saja!" sambil masih memegangi pipinya yang memerah, Elly berlalu pergi meninggalkan ibunya itu.
"Elly!" teriak ibunya memanggil namun tidak dihiraukan.
"Jangan khawatir. Serahkan pada kami untuk mendidik putrimu yang tidak berguna itu," kata Hedrick dalam hati.
Hedrick bergegas mengikuti Elly untuk mencari kesempatan mendekatinya. Tapi ia lupa kalau ia datang ke mall ini bersama seseorang. Felicia ditinggal begitu saja bersama Max mengitari toko baby shop tersebut.
"Wah... Lihat semua pakaian imut ini. Semuanya cantik-cantik. Daisy pasti sangat imut saat memakainya."
Felicia melihat-lihat berbagai model pakaian bayi perempuan di rak-rak toko tersebut. Ia juga tidak menyadari kalau sendari tadi Hedrick telah menghilang entah kemana. Begitu hendak menanyakan pendapat Hedrick mengenai salah satu gaun, barulah ia sadar kalau sendari tadi ia sendirian.
Guk!
Jawab Max seperti mengerti maksud Felicia. Keduanya keluar dari toko tersebut setelah membeli dua pakaian dan mainan untuk Daisy. Sementara itu Hedrick melihat Elly memasuki area kafe. Ini kesempatan bagus bagi Hedrick untuk mendekatinya. Ia melangkah masuk dan langsung menghampiri Elly.
"Ku perhatikan sendari tadi nona sendirian. Apa boleh saya menemani anda sebentar?" sapa Hedrick.
Elly terpaku diam untuk sesaat menatapi wajah Hedrick yang rupawan. "Ah, maaf. Silakan duduk," dengan cepat ia memalingkan wajahnya yang tersipu.
"Ngomong-ngomong, siapa nama nona cantik ini?"
"Nama saya Elly."
"Nama yang secantik orangnya."
"Ah, kau membuatku malu."
"Albert, itu namaku."
"Albert. Aku akan mengingatnya."
Setelah saling berkenalan antara satu sama lain, mereka melanjutkan percakapan ke hal yang lebih menarik sambil menikmati minuman yang dipesan. Ditengah-tengah perbincangan tiba-tiba ada telpon masuk ke hp Hedrick. Ia permisi sebentar pada Elly untuk mengangkat telpon tersebut yang rupanya berasal dari Veeno.
"Iya, ada apa Veeno?"
"Kau dimana Hedrick?"
"Aku ada di mall. Kenapa?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε