
"Minta maaf pada ibu? Untuk apa aku minta maaf padanya? Dia lah yang seharusnya minta maaf padaku. Kalau bukan karna dia yang terlalu pelit, aku tidak akan berakhir seperti ini. Semuanya salah ibu!"
"Dasar putri tidak berbakti!"
Hedrick menarik keluar lidah Elly lalu memotongnya sampai putus. Darah mengalir deras keluar dari mulut Elly.
"Aku ingat Mr. R masih memerlukan sejumlah organ tubuh. Bolehkah kami meminta ginjalmu?" tanya Veeno pada Elly masih sempat-sempatnya.
Tentu Elly tidak bisa menjawab karna lidahnya telah putus. Rasa sakit teramat sangat perih. Ingin rasanya Elly cepat-cepat mati saja. Apa lagi disaat Veeno mulai membedah perutnya dan mengacak-acak isi perutnya untuk mengambil ginjalnya. Elly tebelalak tak percaya isi perutnya dikeluarkan begitu saja di depan matanya. Tak berlangsung lama tubuh Elly melemah dan akhirnya meninggal dunia. Veeno menyimpan kedua ginjal Elly untuk nanti dijual pada Mr. R.
"Dengan begini tugas kita sudah selesai. Tinggal membuat karya seni."
"Aku ingin menyimpan lidahnya sebagai koleksi kita."
"Itu bagus. Tapi aku tidak punya ide untuk tema seni kita kali ini."
"Aku juga tidak."
Dibantu Veeno, Hedrick menurunkan tubuh Elly, membaringkannya di lantai lalu memasukan kembali isi perutnya dan kemudian menjahit luka sayatan tersebut. Setelah selesai Hedrick mengambil batang besi sepanjang 40 cm dan palu raksasa. Batang besi itu ia tancapkan di kepala Elly sampai tembus melalui tengkorak nya. Darah lagi-lagi muncrat ke wajah Hedrick.
"Hei, aku jadi ingat dengan flim dracula yang ku tonton kemarin bersama wanitaku. Begitulah cara mereka membunuh si dracula yang abadi selain menggunakan cahaya matahari pagi," kata Veeno kemudian.
"Benarkah? Apa ada cara lain lagi untuk membunuh dracula?" tanya Hedrick.
"Kalau menurut beberapa sumber yang pernah aku dengar. Supaya si dracula tidak dapat bangkit lagi, jantungnya harus di tusuk dengan dahan kayu dan mulutnya disanggah batu berujung runcing," jelas Veeno. "Kenapa kau bertanya? Apa kau ingin membunuh dracula?"
"Iya. Dan ini dracula wanitanya," lirik Hedrick pada mayat Elly.
"Ooh... Aku mengerti maksudmu, kawan. Lebih baik lagi kalau kita juga mendadani dia lengkap dengan kostumnya dan disalib."
"Tunggu apa lagi, beritahu Tina atau Amy untuk pergi ke kota dan belikan kostum tersebut. Seni ini harus segera dipamerkan pagi-pagi sekali."
Veeno segera meminta Amy pergi ke kota bersama salah satu pengawal untuk membeli kostum dracula. Sambil menunggu Hedrick dan Veeno membersikan tubuh mereka dari semua darah yang menempel. Akan sangat gawat jika Felicia tahu apa yang telah mereka lakukan. Setelah itu mereka pergi ke halaman belakan untuk membuat salib yang dapat dibongkar pasang. Felicia yang memperhatikan Hedrick dan Veeno dari lantai tiga dibuat bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dibuat oleh kedua pria itu? Tapi Felicia tidak terlalu memusingkannya. Ia lebih memilih mengasuh Daisy sambil membaca buku di ruang perpustakaan tersebut.
Menjelang malam Amy kembali dari kota dengan membawa pesanan Veeno, sebuah kostum dracula berwarna hitam lengkap dengan jubah merah dibagian dalamnya. Salib selesai dibuat, setelah makan malam Hedrick dan Veeno mulai mendadani mayat Elly dengan kostum dracula. Barulah Hedrick menancapkan kayu tepat di dada Elly. Dengan begitu semakin tampak nyata wujud dari seorang dracula penghisap darah yang tewas akibat tikaman kayu berujung runcing.
Tepat jam 00.00 Hedrick dan Veeno berangkat menuju kota. Terpilih lah lokasi pemakaman umum di pinggiran kota sebagai tempat untuk meletakan hasil seni mereka. Sampai dilokasi, Hedrick dan Veeno bergegas merakit salib tersebut lalu mengikat tangan, kaki serta tubuh Elly disana menggunakan kawat besi. Barulah setelahnya salib ditancapkan ke tanah. Tak lupa Hedrick menyematkan sebuah kalimat yang ditulis pada papan kayu tepat diujung kaki Elly. Tulisan tersebut berbunyi...
..."Dracula yang tak berbakti pada ibunya. Pantas dihukum mati!"...
...⚛⚛⚛⚛...
"Hoam...."
"Selamat pagi sayang. Apa kau lapar?"
Dengan hati-hati Felicia menggendong tubuh mungil Daisy dan segera menyusuinya. Namun mata Felicia tiba-tiba tertuju pada liontin yang melingkar di leher Daisy. Ia menggapai liontin tersebut untuk melihatnya lebih teliti. Seingatnya sewaktu pergi berbelanja tempo hari ia tidak membelikan liontin seperti yang Daisy kenakan saat ini. Siapa gerangan yang memberi liontin tersebut? Apakah Hedrick? Tapi kapan ia memberikannya? semua pertanyaan Felicia terjawab saat selembar kertas tiba-tiba terjatuh. Felicia memungut kertas tersebut lalu membaca pesan yang tertulis disana.
..."Pastikan Daisy tetap mengenakan liontin yang aku berikan. Jangan dilepas untuk alasan apapun karna liontin itu akan sangat penting saat ia dewasa nanti."...
...Hedrick....
"Sangat penting? Memangnya apa yang telah ayahmu rencanakan untuk masa depanmu, Daisy? Aku harap suatu hari nanti dia mau membebaskan kita dari vila ini."
Setelah menyusui Daisy, Felicia mengganti popoknya dan sekalian memandikannya. Semua itu ia lakukan sendiri. Selama ini Amy dan Tina lah yang biasanya memandikan Daisy namun selaku ibunya Felicia juga ingin bisa memandikan putrinya. Seperti biasa Tina dan Amy datang ke kamar Felicia untuk membantu merawat Daisy, namun mereka sedikit dikejutkan saat melihat Daisy sudah tampil cantik dan wangi dalam balutan baju pink nya.
"Eh? Daisy sudah mandi? Maafkan kami Miis. Felicia sudah datang terlambat," kata Amy merasa tidak enak hati.
"Iya. Karna kami anda malah melakukan semuanya sendiri," sambung Tina juga merasa begitu.
"Sudah, tidak perlu minta maaf. Kalian tidak salah. Aku segaja ingin melakukannya sendiri. Em... Bisa tolong jaga Daisy sebentar? Aku mau mandi."
"Sudah tugas kami menjadi pelayanmu Miss. Felicia."
"Halo... Siapa bayi kecil lucu yang menggemaskan? Aah... Kau benar-benar imut sekali."
"Terima kasih ada kalian yang membantuku."
Felicia mempercayakan bayinya pada Tina dan Amy untuk beberapa menit kedepan. Selesai mandi dan berpakaian, Felicia turun ke bawah untuk sarapan. Biasanya setiap hari Tina dan Amy membawakan sarapannya ke kamar namun karna ia telah mendapatkan kebebasan dalam vila tersebut, ia menekankan untuk tidak perlu lagi susah-susah mengantarkan sarapannya ke kamar. Disediakan di meja makan saja sudah cukup. Malahan tak jarang Felicia sendiri yang memasak. Walau berasal dari keluarga terpandang tapi kegemaran memasak ini sudah disukai Felicia sejak kecil. Keahliannya tak perlu diragukan lagi. Bahkan untuk mendukung minatnya ini orang tua Felicia dulu sampai meminta koki ahli menjadi guru memasak bagi Felicia. Namun hobinya malah kandas saat Hedrick menyekapnya. Jangankan menyentu panci penggorengan, Hedrick bahkan tidak membiarkan Felicia menginjakan kakinya di dapur.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε