The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Sandi terakhir



"Maaf. Aku antar kau keluar mencari udara segar."


"Iya," jawab Irina hampir tak bersuara.


Jordan meminta kertas yang terselip di dalam tas tersebut lalu membawa Irina keluar. Walau mereka tetap terlambat menyelamatkan nyawa korban namun harapan untuk menangkap pelaku kejahatan masih ada. Tidak seorangpun di taman hiburan tersebut yang diizikan keluar sampai pemberitahuan lebih lanjut. Mereka yakin kedua pelaku masih ada di taman hiburan itu.


"Jordan, apa kau tidak takut sama sekali melihat semua darah tadi dan mayat itu?" tanya Irina dengan tubuh gemetar.


"Aku sudah terbiasa. Setiap kasus yang aku pecahkan selalu terlibat dengan darah dan mayat. Aku bahkan perna melihat yang lebih sadis dari pada tadi."


Tidak ada percakapan diantara mereka setelahnya. Jordan fokus memecahkan sandi yang ditinggalkan pelaku. Irina hanya memperhatikan tunangannya itu dari samping.


YXURLN BCJCRXW


A\=18


Langkah pertama


{A} B C D E F G H I J K L M N O


{18} 19 20 21 22 23 24 25 26 1 2 3 4 5 6


P Q R S T U V W X Y Z


4 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17


Hasilnya


Y X U R L N


16 15 12 9 3 5


B C J C R X W


19 20 1 20 9 15 14


Langkah kedua


A B C D E F G H I J K L M N O P Q R


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18


S T U V W X Y Z


19 20 21 22 23 24 25 26


Hasil


16 15 12 9 3 5


P O L I C E


19 20 1 20 9 15 14


S T A T I O N


"Apa?! Kantor polisi?!" Jordan tersentak kaget mengetahui sandi tersebut mengarah pada kantor polisi.


"Memangnya apa yang akan terjadi di kantor polisi?" tanya Irina sedikit ingin tahu.


"Ku jelaskan nanti. Aku harus memberitahu kepala polisi tentang hal ini dulu."


"Mohon diharapkan setiap pengunjung dengan tertib menuju pintu keluar. Sekali lagi kami ulangi, mohon diharapkan setiap pengunjung dengan tertib menuju pintu keluar."


Jordan dan Iriana dibuat kebingungan dengan pengumuman dari pengeras suara taman hiburan tersebut. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa mereka mala meminta semua pengunjung keluar dari taman hiburan ini? Bukankah dengan begitu kedua pelaku kejahatan itu bisa melarikan diri? Jordan dan Irina bergegas menuju pintu gerbang taman hiburan. Disana mereka bertemu kepala polisi yang dengan sengaja menurunkan perintah tersebut.


"Pak, apa yang terjadi? Kenapa semua pengunjung diminta keluar? Bukankah begitu sama saja melepaskan pelaku kejahatan nya begitu saja?"


"Ini demi keselamatan semua nyawa pengunjung. Ditemukan bom dalam bingkisan yang terletak ditengah-tengah taman hiburan ini."


"Bom? Bukankah itu cuman bom asap?"


"Tidak. Kali ini yang ditemukan bom sungguhan dengan daya ledak yang lumayan besar. Bom tersebut merupakan bom dengan pengendali jarak jauh. Akan sangat berbahaya jika mereka dengan nekat mengaktifkan bom tersebut ditengah keramaian ini. Aku telah meminta tim penjinak bom datang kemari."


"Oh, iya pak. Saya sudah memecahkan sandi yang ditemukan bersamaan dengan tubuh korban."


"Kantor polisi."


"Kantor polisi?" ulang kepala polisi itu.


"Iya."


"Mereka pikir apa? Berani sekali menggunakan kantor polisi sebagai lokasi mereka selanjutnya. Hubungi setiap kantor polisi yang ada untuk mencurigai siapapun yang datang."


"Baik, pak."


"Sebaiknya kita kembali ke kantor polisi. Biarlah para petugas yang lain menangani tempat ini. Aku ingin lihat apa mereka sungguh berani datang mengantarkan kepala itu?"


Kepala polisi, detektif Jordan dan Irina masuk ke mobil dan pergi meninggalkan area taman hiburan setelah tim penjinak bom datang ke lokasi. Semua tugas diserahkan pada petugas polisi yang lain. Sementara itu Hedrick dan Veeno yang telah keluar dari taman hiburan terlihat sedang mengamati dari dalam mobil mereka. Keduanya tidak bermaksud membuat kehebohan sampai sedemikian rupa. Mereka masih tetap bisa keluar dari taman hiburan tersebut tanpa harus membuat drama seperti ini. Tapi begini juga boleh. Setidaknya hari ini semakin berkesan terutama bagi para polisi.


"Mereka sudah pergi. Kau kemana 'kan kepala wanita itu?" tanya Veeno.


"Kubiarkan mereka membawanya sendiri ke kantor polisi."


"Hehe... Mereka tidak akan menyangka hal ini."


Veeno menyalakan mobilnya lalu menancap gas masuk ke jalan raya. Mereka berdua pergi meninggalkan taman hiburan tersebut yang terlihat masih sangat kacau.


"Hei, bagaimana kalau kita BBQ-an untuk merayakan keberhasilan ini? Kebetulan aku sudah membeli daging sapi segar," kata Veeeno memberi saran.


"Boleh juga. Kita langsung saja ke vila."


...⚛⚛⚛⚛...


Jordan memberhentikan mobilnya diparkiran kantor polisi tersebut. Mereka lekas turun lalu melangkah masuk ke gedung itu. Di dalam tidak tampak terjadi hal-hal yang mencurigakan.


"Bagaimana?" tanya kepala polisi sedikit tergesa-gesa pada salah satu petugas yang ada.


"Sampai sekarang tidak ada satupun orang mencurigakan datang ke kantor polisi ini, pak."


"Apa mungkin pesan tersebut cuman kebohongan semata?" kata Jordan menebak-nebak.


"Aku tidak berpikir demikian. Bagian kepala korban masih belum ditemukan. Aku tidak mau mengakui ini, tapi mereka selalu menepati kata-kata mereka. Hari ini kitalah yang salah karna tidak cukup cepat."


"Tapi Mereka tidak mungkin sebodoh itu datang ke kantor polisi ini sambil mengantarkan kepala seseorang. Itu sama saja mengantarkan nyawa mereka."


"Mereka pasti melakukan trik lainnya agar dapat melakukan hal tersebut. Kita tidak bisa menganggap enteng mereka."


"Em... Jordan, dimana kau meletakan boneka ku tadi?" tanya Irina.


Sebelum pergi, Irina sempat bertemu teman-temannya. Mereka mengantarkan sebuah boneka yang Irina dapat dari hasil memenangkan salah satu permainan kesempatan di taman hiburan tadi.


"Di dalam bagasi mobil."


"Aku mau mengambilnya."


Irina keluar dari kantor polisi meninggalkan Jordan dan kepala polisi yang masih membahas tentang masalah hari ini. Irina menghampiri mobil polisi yang ia naiki sebelumnya lalu membuka bagasi mobil. Ia menggapai sebuah boneka kelinci putih yang tergeletak dalam bagasi itu. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada kantung plastik berwarna hitam, terletak dibalik bonekanya.


"Kantung apa ini?"


Karna penasarannya tinggi, Irina mengambil kantung plastik hitam tersebut lalu membuka nya. Betapa kaget nya ia mendapati isi dari kantung plastik tersebut ternyata sebuah kepala manusia yang masih berlumuran darah.


"AAAHH....!" teriak Irina histeris. Tanpa sengaja ia menjatuhkan kantung tersebut bersamaan dirinya yang terduduk.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε