
Felicia menghabiskan waktu pagi menjelang siangnya ini dengan bermain bersama putrinya sambil menonton tv. Disela-sela acara tv berlangsung, lewat sekilas berita mengenai penemuan mayat seorang perempuan yang mengenakan kostum dracula dan disalib di depan pintu masuk pemakaman umum. Penemuan mayat ini tentu menggemparkan masyarakat karna lagi dan lagi dilakukan oleh orang yang sama dengan ciri khas mereka selalu meninggalkan selembar kertas berisi kode. Polisi telah mengamankan TKP dan mulai menyelidiki kasus yang semakin bertambah namun tidak kunjung menemukan titik terang.
"Pembunuhan misterius lagi. Orang kejam mana yang tanpa hati melakukan semua itu? Mereka kira nyawa seseorang adalah mainan apa?" gerutu Felicia
Andai Felicia tahu kalau dua pembunuh berantai itu adalah orang yang menyekapnya selama ini. Ia pasti sudah gemetar ketakutan. Tapi tak berapa lama ia kemudian dibuat tersentak saat mengetahui nama korban yang berhasil di identifikasi tersebut bernama Elly.
"Elly? Kalau tidak salah wanita yang Hedrick ajak kemarin juga bernama Elly. Tidak, ini pasti cuman kebetulan semata, tapi... Sore kemarin Hedrick dan Veeno seperti membuat sesuatu dari bahan kayu di halaman belakang. Apa mungkin mereka lah pembunuh berantai itu? Secara aku selama ini disekap di dalam kamar. Aku tidak tahu-menau apa yang mereka berdua lakukan. Apa sebaiknya aku langsung tanyakan saja pada mereka?" pikir Felicia.
Sangking penasarannya timbul niat dalam hati Felicia ingin menanyakan langsung soal ini pada Hedrick. Tapi ada sedikit rasa takut juga. Bagaimana kalau semua itu memang benar? Apa ia juga akan dibunuh? Bagaimana nasibnya dan putrinya nanti? Apa yang harus ia lakukan? Apa ia pura-pura tidak peduli atau malah berteriak histeris sangking takutnya? Karna semua pertanyaan tersebut membuat Felicia menjadi gelisah. Ia tidak bisa tenang sebelum mengetahui semua kebenaran ini. Namun sayangnya beberapa hari ini Hedrick tidak terlihat berkunjung ke vila. Adapun Veeno yang datang paling cuman sekedar melihat kondisi tawanannya. Mau bertanya pada Tina dan Amy, sudah dapat dipastikan mereka akan mencari alasan untuk menghindari pertanyaan tersebut.
...⚛⚛⚛⚛...
Di pagi yang dingin. Hujan semalam amat deras sekali bahkan sampai pagi ini langit masih menjatuhkan butir-butir air. Dengan malas nya Amy mengantarkan sarapan untuk Sara. Minggu ini merupakan gilarannya mengantarkan makanan dan keperluan lainnya. Tanpa mengetuk atau menyapa lagi Amy masuk begitu saja dengan raut wajah cemberut. Saat membuka pintu Amy tidak mendapati siapa-siapa dalam kamar tersebut. Tentunya Amy tidak langsung panik. Ia sudah menebak kemungkinan Sara ada di kamar mandi. Memangnya ada orang yang bisa kabur dari vila ini? Coba saja kalau berani. Amy dengan santai nya meletakan nampan yang ia bawa di atas meja. Namun baru hendak pergi ia tiba-tiba dikagetkan dengan suara Sara yang sedang muntah. Lantas hal itu membuat Amy menoleh. Ia bergegas memeriksa Sara di kamar mandi.
"Hoek! Hoeek!"
"Ada apa denganmu?" tanya Amy yang telah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Tidak apa. Aku cuman merasa tidak enak badan saja. Hoek!" Sara kembali memuntahkan isi perutnya sudah kosong.
"Kemarin pagi kau juga seperti ini. Aku sudah memberimu obat. Lantas kenapa pagi ini masih mual-mual?" tanya Amy mulai mencurigai sesuatu.
"Aku juga tidak tahu mengapa."
"Beberapa hari ini kau juga kehilangan nafsu makan. Tunggu dulu. Aku sudah sering melihat gejalamu."
"Benarkah?"
"Iya. Benih siapa yang kau kandung?" nada bicara Amy seketika meninggi.
"Apa maksudmu? Jangan sembarangan bicara. Aku tidak hamil!" sangkal Sara dengan tegas.
"Apa yang kau tahu mengenai tanda-tanda kehamilan? Aku jauh lebih berpengalaman soal ini. Sebaiknya kau katakan yang sebenarnya, bayi siapa yang ada dalam perutmu itu?!!"
"Aku belum perna tidur dengan seorang pria selama ini sampai Hedrick menipuku dan menyekapku disini! Lalu bagaimana aku bisa hamil tanpa berhubungan badan? Ke-cua-li..." kalimat Sara terputus saat ia teringat kejadian di malam pertama ia dan Viona datang ke vila tersebut.
"Kecuali?" Amy tersentak dan seketika mengerti maksud raut wajah Sara yang terdiam. "Jangan bilang kalau bayi yang kau kandung adalah benih dari Mr. Hedrick!! Tak akan kubiarkan itu sampai terjadi! Tidak ada satupun wanita yang pantas mengandung anaknya selain Miss. Felicia!! Akan kubunuh janin itu!"
Seperti kerasukan setan, Amy tiba-tiba menyerang Sara dengan beringas. Dengan tubuh yang lemah akibat muntah tadi sebisa mungkin Sara menghindar. Ia menggapai kepala pancuran lalu menyemprotkan air ke tubuh Amy. Karna lantai yang lincin Amy kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Sara mengambil kesempatan ini bergegas berlari keluar dari kamar mandi. Mata Sara melirik kesana kemari mencari sesuatu yang dapat digunakannya sebagai senjata. Namun belum sempat ia menemukannya Amy telah keluar dari kamar mandi. Dengan sekujur tubuh basa Amy menatap tajam Sara sambil menyeringai.
"Menjauh lah kau dasar iblis!"
Sara menggapai apa saja yang dapat ia raih lalu melemparkannya ke Amy. Tanpa menghilangkan senyum diwajahnya, dengan mudah Amy menangkis barang-barang tersebut. Salah satu barang tanpa sengaja mengenai cermin yang menempel di lemari pakaian. Hal itu membuat cerminnya pecah berhamburan. Amy memungut pecahan cermin yang paling besar, kemudian berjalan mendekati Sara. Saat ini Sara tidak bisa lari lagi. Dibelakangnya ada dinding yang menghalangi.
"Matilah kau!" teriak Amy sambil mengayunkan pecahan cermin tersebut.
"AAH!!"
Sara memejamkan matanya pasrah pada apa yang akan terjadi. Namun persekian detik kemudian perlahan ia membuka matanya karna pecahan cermin itu tidak kunjung menyentuhnya. Begitu matanya terbuka, Sara dikagetkan dengan ujung pecahan cermin itu tinggal sesenti lagi hampir menembus perutnya. Tangan Amy yang telah mengalirkan darah akibat mencengkram pecahan cermin dengan sangat erat ternyata ditahan oleh Tina yang tepat waktu menghentikan Amy.
"Apa yang kau lakukan Tina? Kenapa kau menghentikan ku? Lepaskan!!" tanya Amy dengan nada tinggi.
"Kau lah yang kenapa? Mr. Hedrick sudah bilang untuk tidak melukai Sara lagi. Kenapa hari ini kau mencoba membunuhnya?"
"Karna dia telah mengandung anak Mr. Hedrick. Aku tentu tidak bisa menerima ini!"
"Mengandung?" refleks mata Tina tertuju pada perut Sara.
"Lepaskan aku Tina! Aku janji tidak akan membunuhnya. Aku cuman ingin memusnahkan janin di dalam perutnya saja," Amy mencoba meronta-ronta melepaskan diri.
"Tenangkan dirimu dulu Amy. Apa jadinya kalau Mr. Hedrick tahu kalau kau mencoba membunuh anaknya? Kau bisa dipenggal! Apa kau mau itu? Jika Sara sungguh mengandung anak Mr. Hedrick maka kita tidak boleh sembarangan lagi padanya. Apa lagi berurusan dengan darah dagingnya, Mr. Hedrick tidak akan mengampuni kita."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε