The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Rencana



Di ruang makan, Hedrick dan Veeno baru saja tiba disaat Monica melambaikan tangannya sambil berteriak memanggil mereka. Tanpa menunda lagi mereka lantas menghampirinya karna tidak ada kursi kosong yang tersisa di ruang makan itu. Selain Monica ada empat orang lain di meja tersebut termaksud Ricardo. Tidak ada percakapan yang terlalu berarti diantara mereka semua. Ricardo tampak bersahabat dengan Hedrick maupun Veeno. Kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya seolah-olah tidak perna ia alami sama sekali. Hal ini tentu menaruh kecurigaan dalam benak Hedrick. Dengan sikap Ricardo yang ia tahu tentunya tidak mungkin baginya dapat melupakan kejadian yang begitu memalukan tersebut begitu cepat. Ricardo pasti memiliki rencana jahat dibalik senyum dan sikap ramahnya di meja makan ini. Hedrick tentu tidak menghawatirkannya sama sekali. Ia malah sangat menantikannya. Ia telah tidak sabar melihaz permainan macam apa yang akan dipersembahkan Ricardo nanti. Apakah cukup dapat memuaskan? Ia harap iya. Karna jika tidak... Ricardo harus membayar kompensasi atas pertunjukan yang buruk tersebut. Dan kompensasi ini tidaklah murah.


Selesai makan siang mereka berpisah. Pertama Ricardo yang pergi duluan. Ia bilang ada urusan yang harus segera ia selesaikan. Selanjutnya kedua pria lainnya juga ikut mengundurkan diri. Tak berselang lama kemudian Veeno mengajak Hedrick meninggalkan ruang makan tersebut. Tinggallah para wanita yang tersisa. Mereka masih ingin menunggu makanan pencuci mulut. Diluar, Hedrick dan Veeno sama sekali tidak melihat pergerakan dari Ricardo. Perjalanan mereka terasa santai dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Padahal mereka telah memilih jalur yang sepih dari penumpang kapal lainnya agar Ricardo dapat cepat melancarkan aksinya. Tapi sampai saat ini Ricardo belum kunjung menampakan batang hidungnya sejak di ruang makan tadi.


"Aku benar-benar bingung dengan sikap yang Ricardo tunjukan tadi. Bagaimana bisa ia dengan cepat melupakan insiden yang begitu memalukan itu? Terlebih lagi ia sudah tahu dengan sangat jelas kalau kau pelakunya. Tapi cara bicaranya hari ini bahkan jauh lebih ramah dari awal kita bertemu dengannya," kata Veeno mengutarakan pikirannya.


"Hah, dia berakting dengan sangat baik."


"Akting?"


"Tentu saja. Mana ada orang yang telah dipermalukan habis-habisan masih dapat tertawa bersama dengan musuhnya."


"Oh... Jika ia cuman berakting itu berarti... Ia sedang menyiapkan sebuah rencana untuk kita?" tebak Veeno.


"Itulah yang aku tunggu sendari tadi. Tapi ini telah lewat jam dua. Kenapa bajingan itu belum bergerak juga?" Hedrick melihat ke arlojinya. "Apa mungkin ia berencana bergerak saat larut malam?"


"Atau saat ini dia menunggu kita kembali ke kabin. Karna ia tahu selesai makan kita pasti kembali ke kabin sebelum melanjutkan aktifitas. Jujur saja belakangan ini aku merasa gerak-gerik kita terus diawasi."


Veeno melirik ke kiri dan kanan mereka lalu kebelakang. Tempat ngobrol mereka memang tampak tidak ada orang namun Veeno merasakan kehadiran seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka.


"Mereka mengamati kebiasaan kita. Tapi aku tebak mereka tidak ada disana. Saat siang hari begini, lorong kabin tidak perna sepi dari para penumpang yang lalu-lalang biarpun untuk satu menit saja."


"Terserah mereka mau melakukan permainan mereka kapan saja. Aku siap menemani biarpun mereka datang pada jam dini hari sekalipun. Akan aku perlihatkan apa akibatnya karna telah mengusik kita berdua," Veeno mengeretakan seluruh ruas jarinya dengan aura membunuh yang seketika memancar keluar.


"Ternyata mereka berdua sudah tahu sejak awal rencana kami. A-aku harus lekas memberi tahu tuan muda soal ini," batin salah satu dari anak buah Ricardo.


Sejak dari ruang makan tadi pria itu telah mengikuti Hedrick dan Veeno sampai sekarang. Serta dia lah yang juga diperintahkan untuk memata-matai mereka selama ini. Akibat tekanan dan aura membunuh yang terpancar dari Veeno membuat kakinya tiba-tiba gemetar. Ia bermaksud ingin mundur selangkah sebelum menghubungi bosnya dan melaporkan hal ini. Namun secepat kilat dua buah pisau lipat seketika menembus dada kiri pria itu. Dia langsung tewas bersimbah darah di tempat. Hedrick dan Veeno melangkah mendekati mayat pria tersebut lalu membalikkan tubuhnya menggunakan kaki mereka.


"Dasar lalat pengganggu."


"Kita apakan mayatnya?"


"Apa lagi selain melemparkannya ke laut."


Mereka mengangkat tubuh pria itu menuju pintu jendela terdekat yang mengarah langsung ke laut. Mereka melemparkan mayatnya begitu saja, setelah itu membersikan sisa darah yang berceceran di lantai untuk menghilangkan bukti. Hanya ada satu barang yang tidak mereka buang dari tubuh pria tadi. Itu adalah hpnya. Veeno bermaksud ingin menyamar sebagai anak buah Ricardo yang baru mereka bunuh itu. Ia berpikir karna Ricardo hanya mengincar Hedrick, jadi ia dapat menyusup diantara anak buah Ricardo untuk mengetahui rencana mereka dan sedikit memberi kejutan.


Ting.


Satu pesan masuk ke hp pria itu. Veeno segera melihat isi pesan tersebut. Pesan itu berasal dari Ricardo.


"Bagaimana situasinya? Dimana mereka sekarang?"


"Mereka ada tempat penyimpanan jetski. Apa kita sudah bisa mulai rencananya?"


Pesan terkirim. Selang beberapa detik kemudian pesan balasan dari Ricardo masuk dan memicu notifikasi.


"Pastikan mereka tetap disana. Jangan biarkan mereka keluar. Kami akan segera kesana."


"Wow... Lihat ini Hedrick. Mereka akan kesini," teriak Veeno kegirangan sambil menunjukan layar hp tersebut.


Hedrick melihatnya dan membaca pesan yang dikirimkan Ricardo. "Setelah tahu kita ada di tempat ini mereka sepertinya ingin memulai lebih awal."


"Itu semakin baik. Cepatlah datang. Aku sudah tidak sabar menghajar mereka."


Hampir setengah jam berlalu akhirnya Ricardo dan lima orang bawahannya datang. Mereka semua tampak ling-lung menoleh kesana kemari yang disaat mendapati ruangan tempat penyimpanan jetski itu kosong. Tidak ada satupun orang berada disana. Ricardo memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengecek seluk beluk ruangan tersebut. Mereka segera berpencar. Terdapat pintu besar yang memungkinkan dapat meluncurkan 4 jetski yang tersimpan langsung ke laut. Baru semenit pencarian tiba-tiba pintu yang terbuat dari besi itu menutup sampai menimbulkan suara yang nyaring. Ricardo sontak kaget dan seketika menoleh kebelakang.


"Selamat sore tuan muda. Apa kalian sedang mencari ku?" sapa Hedrick yang ternyata telah berdiri di depan pintu.


Rupa-rupanya dia yang menutup pintu dan menguncinya. Sambil menyeringai, Hedrick melangkah mendekati Ricardo dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kuat.


"Hedrick?! A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Ricardo masih berpura-pura baik.


"Hentikan kepura-puraanmu dan jangan banyak basa-basi. Tidak ada seorangpun disini selain kita."


"Tch! Baiklah jika itu yang kau mau. Aku juga tidak suka bersikap baik padamu," Ricardo memberi isyarat menggunakan jarinya untuk memerintahkan seluruh anak buahnya mendekat.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε