The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Badai



Jam 14.15 kantor kepolisian mendapat laporan dari kepala keluarga yang waktu itu perna melaporkan penemuan mayat tanpa kulit di depan teras rumahnya. Kali ini ia menerangkan kalau mereka mendapat kiriman aneh dari orang yang tidak dikenal. Paket tersebut berisi kerajinan tangan dari kulit manusia. Sepasang suami istri itu dibuat shock bukan main. Belum lepas trauma mereka saat menemukan mayat berlumuran darah di depan rumah mereka, hari ini mereka malah mendapat kiriman kulit mayat tersebut. Yang membuat mereka histeris lagi adalah ketika mereka mengenali wajah dari pemilik kulit tersebut yang tertempel sedemikian rupanya sebagai bagian depan tas.


Wajah tersebut adalah wajah putri mereka yang sudah lama hilang. Itu berarti mayat yang mereka temukan sebelumnya adalah mayat Sara. Ibu Sara tak kuasa menahan tangis. Ia tak menyangka kalau putrinya akan pulang dalam keadaan seperti ini. Ia bahkan sampai pingsan dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Polisi segera menyelidiki kasus tersebut. Mereka menyita semua kerajinan tangan dari kulit manusia itu tanpa terkecuali. Pihak polisi harus melakukan pencocokan DNA kulit tersebut dengan mayat yang ditemukan. Apa benar kulit tersebut sungguh kulit dari mayat tempo hari, atau bukan?


"Bagaimana hasil penyelidikannya?" tanya kepala polisi pada detektif Jordan.


"Tim otopsi saat ini sedang membongkar kerajinan tangan dari kulit tersebut. Mungkin butuh waktu cukup lama untuk mengetahui hasilnya. Tapi tidak diragukan lagi kalau kulit tersebut memang milik dari mayat wanita yang ditemukan tempo hari. Ini juga sesuai dengan maksud dari kode kedelapan."



"“Ini belum selesai“."


"Kode ini merujuk pada persembahan kematian tersebut belum selesai, baru setengah jalan. Dengan mengirimkan kerajinan tangan dari kulit korban inilah kasus dari kematian tersebut selesai dilakukan," jelas detektif Jordan. Ia menarik nafas sebentar lalu melanjutkan. "Kode ketujuh sebelumnya juga cocok. Ditemukan tato mawar merah muda berduri di salah satu kerajinan kulit yang ditemukan."


"Itu berarti benar kode-kode tersebut ditujukan pada korban selanjutnya. Lalu apa arti dari kode kesembilan yang ditemukan dalam tas kulit manusia itu?" tanya kepala polisi tidak sabaran.


"Sayangnya kode tersebut tidak berarti apa-apa," detektif Jordan menyodorkan hasil pemecahan kode kesembilan.



"“Mereka pantas mati!“ Sial! Kalau seperti ini tidak mungkin kita terpaksa harus menunggu korban selanjutnya untuk mendapat petunjuk agar bisa menangkap mereka!" geram kepala polisi itu.


...⚛⚛⚛⚛...


Badai menerjang kota pada malam hari. Angin bertiup kencang menerbangkan apa saja yang bisa dibawa terbang. Air hujan dengan amat deras jatuh diiringi sambaran petir yang menari-nari menghiasi langit malam. Tampak cantik namun juga menyeramkan. Jalanan yang biasanya ramai kendaraan kini terlihat sepi. Tidak ada yang berani keluar dalam keadaan cuaca ekstrim seperti ini, kecuali satu orang. Hedrick melajukan mobilnya menerjang badai. Bukan tanpa alasan. Ia harus bergegas pergi menuju vila karna dikabarkan ada ingin topan yang akan menerjang kawasan hutan tempat vila mereka berada.


Hedrick melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak jarang mobilnya hampir tergelincir akibat jalanan yang licin. Untungnya keahlian berkendara Hedrick tidak perlu diragukan lagi. Ia dapat dengan mudah mengendalikan mobilnya dan sesekali melakukan manuper. Tinggal satu kilometer lagi sampai di vila musibah terjadi. Angin topan yang dikabarkan malah melintas di depannya. Hal itu membuat beberapa pohon tumbang dan memblokir jalan yang Hedrick lalui. Tidak hanya itu, apesnya salah satu pohon tumbang malah menimpa bagian depan mobil Hedrick sampai hancur. Hedrick berhasil keluar dengan selamat walau harus mengalami sedikit cedera di kepalanya akibat pecahan kaca mobil. Namun Hedrick tidak peduli. Ia lebih memilih secepatnya berlari menuju vila.


Sampai disana kekhawatiran Hedrick benar terjadi. Akibat hujan yang deras membuat air terjun disebelah vila meluap sampai membanjiri halaman depan vila dan juga teras. Setidaknya dinding penahan tanah longsor yang dibangun disekitaran vila berkerja. Itu mencegah bencana yang lebih besar terjadi. Dengan tubuh basa dan nafas ngos-ngosan Hedrick melangkah masuk ke vila tersebut. Kondisi vila cukup sepi tapi jaringan listriknya masih berkerja. Sepertinya luapan sungai disebelah tidak terlalu mempengaruhi bagian dalam vila.


"Hosh... Hosh.... Semuanya tampak baik-baik saja, tapi kemana semua orang? Aw! Kepalaku sakit sekali."


Hedrick memengangi bagian kepalanya yang sakit. Saat ia menurunkan tangannya, terlihat telapak tangannya dipenuhi darah. Hedrick tidak menyangka kalau luka di kepalanya ternyata lebih parah dari apa yang ia perkirakan. Bukan itu saja, ia baru sadar kaki kirinya juga terasa sakit saat bepijak. Tapi Hedrick masih tak menganggapnya serius. Dengan jalan sedikit pincang ia melangkah menuju tangga. Baru beberapa meter melangkah, Hedrick melihat Felicia turun ke lantai dasar. Felicia amat terkejut mendapati Hedrick yang basa kuyup dengan nafas ngos-ngosan dan ada darah mengalir dari balik telinga Hedrick sampai lehernya.


"Hedrick?! Apa yang terjadi padamu?" dengan sangat khawatir Felicia berlari menghampiri Hedrick.


Hedrick sedikit malu dengan kondisinya yang terlihat lemah dihadapan Felicia. Namun baru hendak melanjutkan langkahnya tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Felicia menahan tubuh Hedrick agar tidak terjatuh.


"Tidak apa-apa bagaimana? Kau baru saja mengalami kecelakaan dan juga terluka. Aku akan mengobatimu."


"Sial! Kenapa malah jadi seperti ini?" gerutu Hedrick dalam hati.


Tanpa pikir panjang Felicia menuntun Hedrick menuju sofa. Setelah itu ia buru-buru mengambil handuk dan kotak obat di kamarnya. Tina dan Amy yang ada disana menjaga Daisy ikut dibuat terkejut setelah mengetahui hal ini. Amy membantu Felicia membawakan kotak obat, sedangkan Tina menjaga Daisy yang tertidur di kamar tersebut. Di ruang tamu terlihat Hedrick telah terbaring di sofa sambil menutup wajahnya menggunakan lengan. Setelah meletakan kotak obat di atas meja, Amy berinisiatif membuatkan teh serta makanan hangat.


"Hei, Hedrick. Em... Sebaiknya kau keringkan tubuhmu. Kau bisa terserang flu karna memakai pakaian basa," kata Felicia sambil meletakan pakaian ganti dan handuk di atas meja.


"Tidak. Aku ingin berbaring sebentar," tolak Hedrick tanpa mengangkat tangannya dari wajahnya.


"Jangan membantah!" dengan paksa Felicia melepaskan kemeja Hedrick.


"Aw!" rintih Hedrick begitu lukanya tak sengaja tersenggol. "Kau balas dendam padaku?!"


"Tidak. Aku cuman membantumu mengeringkan tubuhmu."


Felicia tidak mempedulikan tatapan Hedrick yang kesal. Ia menyodorkan handuk dan baju ganti pada Hedrick. Tanpa mengatakan sepata katapun, Hedrick menggapai handuk tersebut lalu mengeringkan tubuhnya. Setelah itu ia mengganti pakaiannya yang basa. Felicia hanya menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan sampai Hedrick selesai berganti baju.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε