The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Remaja kemping



Dengan adanya binatang buas yang berkeliaran memungkinkan Hedrick dan Veeno dapat menghilangkan bukti atas aksi pembunuhan mereka. Biarpun nanti mayat tersebut ditemukan warga setempat atau tim pencari, paling penyebab kematian itu akan dilimpahkan pada penyerangan binatang buas. Sebagai tambahan mereka juga memasang papan peringatan untuk mencegah orang-orang yang tidak diinginkan masuk ke dalam hutan. Dengan begitu tidak akan ada yang tahu keberadaan vila mereka, biarpun mereka tidak lagi memberi binatang buas itu daging manusia karna sudah terbukti adanya serigala yang berkeliaran. Hal ini membuat masyarakat pasti berpikir dua kali untuk mendekat dan tidak menganggap enteng papan peringatan tersebut.


Tapi hari ini malah ada sekelompok remaja yang melanggar dan dengan beraninya masuk ke area telarang. Yang ditakutkan disini bukan serigala nya tapi melainkan binatang buas yang sesungguhnya, penyebab dari semua kematian yang ditemukan dalam hutan tersebut. Dua remaja laki-laki dan dua lagi remaja perempuan dengan naifnya memilih lokasi telarang sebagai tempat mereka berkemah. Tenda telah dipasang, api unggun juga sudah dipersiapkan. Para remaja itu terlihat bersenang-senang sambil bercanda riang dan tertawa. Tapi mereka tidak tahu kalau saat ini mereka tengah diawasi. Hedrick dan Veeno serta Max telah memantau remaja-remaja itu dari balik pohon. Max tentu saja diajak karna ia sangat menyukai perburuan ini.


"Bagaimana Hedrick? Apa kita mulai sekarang?" tanya Veeno yang terlihat sudah tidak sabar.


"Biarkan Max yang mulai duluan."


"Seperti biasa kawan. Silakan mulai Max. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"


Veeno menepuk kepala Max lalu melepaskan kait dari tali pengikatnya. Max seketika berlari kencang ke sekelompok remaja yang sedang berkemah itu. Karna Max berlari diantara semak-semak membuat remaja-remaja itu berpikir kalau suara gemerisik yang mendekat itu adalah serigala.


"Tobby, apa itu?" tanya salah satu remaja wanita sambil memeluk tangan pacarnya.


"Apa mungkin itu serigala?" tebak remaja wanita yang satunya.


"Tenanglah Aurel, Amel. Kalian tidak perlu takut. Ada kami disini," ujar Tobby menenangkan kedua wanita yang tampak ketakutan.


"Sebaiknya kalian bersembunyi di dalam tenda atau naik ke atas pohon," saran Nevan.


Aurel dan Amel menganguk lalu segera bersembunyi di dalam tenda. Berbekal pisau yang mereka bawa dan kayu, Tobby dan Nevan bersiap menyerang apa saja yang akan muncul dibalik semak-semak. Namun ketakutan mereka menghilang saat tahu ternyata itu hanya seekor anjing. Max tidak segera menyerang mereka sebelum mendengar tanda perintah dari Hedrick.


"Bikin kaget saja," kata Amel sambil keluar dari tenda.


"Anjing siapa ini? Bagaimana bisa ia ada di hutan ini?" tanya Aurel ikut keluar dari tenda.


"Jangan mendekat! Dia anjing Doberman, jenis anjing paling galak jika berhadapkan dengan orang asing," kata Nevan sambil mencegat Amel dan Aurel mendekat.


"Apa yang perlu ditakutkan, Nevan? Dia cuman anjing kecil yang bodoh. Kalau dia berani menyerang kita, akan aku tikam dia menggunakan pisau ini," Tobby mengacungkan pisaunya pada Max.


"Oh, benarkah? Kau sudah berniat membunuh anjing kesayanganku, maka jangan salahkan aku tidak ragu-ragu lagi membunuh kalian," gumang Hedrick.


Hedrick meniup peluit sebagai tanda bagi Max untuk mulai menyerang. Mendengar peluit tersebut, tanpa peringatan Max langsung mengigit pergelangan tangan Tobby yang hendak menyetuh kepalanya. Kaget karna hal itu membuat Tobby tidak bisa menghindarinya. Hal hasil tangannya hampir putus akibat gigitan dari Max. Nevan mencoba menolong temannya itu dengan mengayunkan kayu di tangannya ke arah Max, sedangkan Amel dan Aurel hanya bisa berteriak hesteris. Mereka berdua bingung harus apa dihadapkan dengan situasi seperti itu.


Peluit perintah kembali Hedrick bunyikan. Max melepaskan gigitannya lalu berlari masuk ke dalam semak menghampiri tuannya. Nevan yang tadinya sudah waspada tidak terima melihat temannya terluka karna gigitan anjing tersebut. Dengan mengandalkan pisau yang sempat terlepas dari genggaman tangan Tobby, Nevan lantas mengejarnya untuk membalas dendam. Inilah yang Hedrick dan Veeno tunggu. Satu mangsa datang dengan sendirinya.


"Kemari sini kau dasar anjing sialan!" teriak Nevan sambil terus mengejar Max.


Sekitar seratus meter dari tempat mereka mendirikan tenda, yang tidak ia duga tiba-tiba terjadi. Dari balik pohon Hedrick muncul lalu menebas tangan Nevan sampai putus.


"ARGH!!!" teriak Nevan kesakitan. Ia mencengkram tangannya yang kini telah mengalirkan darah.


"Aku serahkan dia padamu Veeno."


"Jangan khawatir. Dia ada di tangan yang tepat."


"Ayok Max."


Hedrick dan Max bergerak mendekati para remaja kemping yang lain sementara untuk Nevan diserahkan pada Veeno. Tapi sebelum itu Hedrick tak lupa memungut potongan tangan Nevan yang terputus.


"Itu teriakan Nevan. Apa yang terjadi padanya?" tanya Amel dengan kekhawatiran seketika menyelimutinya.


"Padahal Nevan sudah memperingatkan tapi kau tetap ngeyel mau menyentuh anjing itu."


"Aah!" Tobby sedikit berteriak saat Aurel memperkuat ikatan perban yang melilit tangannya.


"Selamat sore para pengemping," sapa Hedrick yang tiba-tiba muncul dibelakang remaja-remaja tersebut.


"Siapa kau?" tanya Tobby seketika waspada namun matanya dengan cepat tertuju pada Max. "Ternyata itu anjingmu."


"Hei, tuan. Apa kau tahu kalau anjingmu telah menyerang pacarku?!!" kata Aurel dengan nada tinggi.


"Lantas?"


"Iya, tentu saja kau harus bertanggung jawab. Pacarku sampai terluka karna anjingmu itu, tahu!"


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Hedrick berjalan mendekati ketiganya dengan masih menyembunyikan kedua tangannya kebelakang.


"Paling tidak kau harus membawanya ke rumah sakit atau memberi kami kompensasi."


"Makanya tuan, kalau punya anjing itu dijaga. Jangan sampai anjingmu melukai seseorang. Tapi aku tidak akan mempersoalkan masalah ini jika kau memberikan kami kompensasi yang besar."


"Benar sekali Tobby. Kau layak mendapatkan kompensasi, kalau tidak aku akan melaporkan hal ini pada polisi agar anjing itu ditangkap atau lebih baik ditembak mati.," kata Amel menambahkan sambil mengeluarkan hpnya.


Hendrick yang tadinya masih bersikap tenang dibuat kesal mendengar perkataan tersebut. Tanpa basa-basi Hedrick menggoreskan belati kecilnya ke sebelah mata kanan Amel dengan tetap menyembunyikan tangan kirinya.


"Argh!" teriak Amel sambil menutupi matanya yang terluka.


"Amel!" pekik Tobby dan Aurel bersamaan.


"Makanya, kalau punya mata itu digunakan. Sudah tahu ini wilayah terlarang, kenapa kalian malah berkemping disini?"


"Berdebah! Apa yang kau lakukan?!!" bentak Tobby.


"Apa yang aku lakukan? Em... Aku juga tidak tahu," kata Hedrick bertingkah bodoh. "Oh, iya. Aku datang kesini ingin mengembalikan ini pada kalian."


Hedrick melemparkan tangan Nevan ke arah para remaja itu. Mereka bertegi berteriak ketakutan sangking kagetnya terutama Tobby. Dia sampai melemparkan kembali tangan berlumuran darah tersebut ke tanah karna memang sempat terpengang olehnya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε