The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Lanjut bermain



"Aw!" pekik mereka bersamaan.


"Masih mau lanjut atau kurobek saja mulut kalian berdua?!" bentak Veeno sambil melotot


"Tidak! Hiks... Hiks... Aku mohon lepaskan aku. Aku belum mau mati! Siapapun tolong aku!! Tolong! Tolong!"


Bukanya diam seperti yang Veeno minta, Teresa malah berteriak histeris dengan air mata telah membanjiri pipinya. Hedrick yang ikut jengkel dengan geramnya menancapkan pisau lipat nya tepat di paha Teresa.


"AAAH!!"


Suara teriakan Teresa mengema di dalam kamar tersebut. Rasa sakit benar-benar menyiksanya kali ini. Tapi permainan baru dimulai. Rasa sakit yang ia rasakan masih belum seberapa.


"Teriaklah lagi semau mu, sayang. Tidak akan ada juga orang yang dapat mendengar mu. Semua orang diluar sudah kami lumpuhkan dengan obat bius," Hedrick mencabut kembali pisaunya yang telah berlumuran darah.


"Hiks... Hiks... Sakit."


"Kalian sungguh kejam! Tega sekali melakukan itu pada tubuh seseorang!" bentak Iden. Walau ia benci pada wanita disebelahnya ini karna telah mengkhianati dan melibatkannya dalam masalah, namun tetap saja ia merasa kasihan pada Teresa.


"Jangan marah. Kau juga akan dapat. Tapi untuk seorang pria pukulan lebih baik dari pada sayatan."


Bugk!


Tanpa peringatan Veeno tiba-tiba menonjok wajah Iden sampai darah bercucuran keluar dari mulut serta hidungnya. Tidak sampai disitu, Hedrick kemudian menghampiri Iden yang telah terbaring itu. Ia menambahkan satu tendangan dan tepat mengenai milik Iden. Nyawa Iden seketika tinggal setengah.


"Ups, maafkan aku. Milikmu masih tegang. Aku cuman mau membantumu merilekskannya saja."


"Hahaha....... Bagus sekali Hedrick."


"Bagaimana Teresa? Bukannya kau senang melihat pacarmu ini babak belur seperti ini? Bukankah itu yang kau minta tadi?" tanya Hedrick pada Teresa.


"Hiks... Hiks... Aku mohon lepaskan aku. Aku minta maaf jika aku perna ada salah pada kalian. Aku mohon jangan bunuh aku," rengek Teresa.


"Cup, cup, cup. Jangan menangis. Melihat air matamu mambuat hatiku sedih," Veeno berbalik menghampiri meja laci di samping tempat tidur. "Aku akan melepaskan mu."


"Benarkah?"


"Iya. Jika aku punya hati untuk merasakan perasaan sedih."


Raut wajah Teresa yang sempat senang kembali dibuat tegang kerna kalimat itu. Ketakutannya bertambah saat melihat Veeno menghampirinya dengan botol anggur.


"A-apa yang mau kau lakukan dengan botol itu?"


"Dari merek anggur ini aku tahu kalau ini produksi dari perusahaan Hatcher."


"Hatcher?" Hedrick menoleh pada Veeno begitu mendengar kata itu.


Veeno membuka sumbat botol di tangannya lalu menuangkan isinya di kepala Teresa. "Em.... Bukankah baunya harum sekali?"


"Kalian pasti telah mengeluarkan uang yang cukup banyak membeli anggur itu untuk minum-minum," ujar Hedrick. Saat ini ia sedang membetulkan posisi Iden untuk siap melakukan pemotongan.


"Iya, sayang sekali kalian tidak sempat meminumnya."


Veeno mengangkat sebelah kaki Teresa dan mengarahkan ujung botol itu ke area sensitif Teresa. "Bagaimana kalau aku memasukan ujung botol anggur ini ke dalam dirimu? Kau pasti sangat kecewa karna belum terpuaskan sebelumnya."


"Tidak! Aku mohon jangan lakukan itu!"


Tidak mendengarkan peringatan Teresa, Veeno memasukan ujung botol itu ke antara paha Teresa.


"Ahh...." Teresa mengeliat kesakitan begitu ujung botol itu masuk ke dalam dirinya.


"Bukankah kau sangat menyukainya? Kau telah tidur dengan banyak pria, seharusnya ujung botol itu tidak masalah untukmu."


"Sungguh penghinaan besar terhadap anggur perusahaan Hatcher. Mr. Hatcher bisa marah besar jika tahu hal ini," kata Hedrick.


"Biarin."


Kriiiiing.......


"Halo bibi. Ada perlu apa menelpon Teresa?" jawab Hedrick dengan ramahnya.


"Siapa ini? Dimana Teresa?" tanya Ibu Teresa yang bingung karna bukan putrinya yang mengangkat telpon.


"Ibu? Ahh..."


Belum sempat Teresa memanggil ibunya, Veeno malah memajukan mundurkan botol yang ada antara paha Teresa sampai ia mengeluarkan erangan tak tertahankan. Suara itu terdengar jelas dibalik telpon.


"Ah... Hentikan itu. Pelan-pelan. Owwhh.... Sakit."


"Teresa, apa itu kau?!" tanya Ibu Teresa dengan nada tinggi.


"Kecilkan suaramu sayang nanti ibu mu bisa mendengarnya."


"Ah... Astaga! Jangan di masukan lebih dalam! Ahh... Aku tidak kuat lagi."


"Bertahanlah sedikit sayang. Aku akan mempercepatnya," timpal Hedrick tambah membuat ibu Teresa yang mendengarnya semakin salah paham. "Sudah dulu ya bibi. Teresa sepertinya sudah tidak kuat lagi. Kami harus cepat menyelesaikan ini."


"Menyelesaikan apa maksudmu? Teresa! Jangan harap kau dapat mengelak atas perbuatamu ini!!"


Hedrick segera memutuskan telponnya sebelum ibu Teresa menyelesaikan sumpah serapa pada putrinya. Hedrick menghempaskan hp Teresa ke lantai lalu menginjak nya sampai hancur.


"Hah... Hah... Dasar kalian bajingan!" bentak Teresa dengan nafas terengah-engah.


"Apa? Kau sendiri yang membuat suara itu. Sedangkan aku cuman berkata jujur. Kami akan segera menyelesaikan ini."


Veeno mendorong tubuh Teresa sampai terguling di lantai. Untuk mencegah Teresa banyak bergerak saat pembedahan, Veeno mengikat tangan serta kaki Teresa diantara kaki ranjang dan lemari sama seperti Iden. Secara bersamaan Hedrick dan Veeno mulai menggoreskan pisau lipat mereka ke perut Teresa dan Iden. Tubuh keduanya mengeliat saat sesuatu yang tajam membelah tubuh mereka.


"ARGH....!!!" teriak keduanya sambil memejamkan mata menahan sakit.


"Apa dulu yang kita ambil?"


"Ginjal," jawab Veeno.


Teriakan Teresa semakin kencang begitu melihat isi perutnya sendiri tampak jelas di depan matanya. Tidak mempedulikan teriakan tersebut, tangan Hedrick dan Veeno kini mengacak-acak isi perut Teresa dan Iden untuk mencari letak ginjal. Setelah menemukannya mereka langsung memotongnya secara hati-hati. Pertama-tama satu ginjal dulu yang mereka ambil agar keduanya masih hidup untuk merasakan rasa sakit tersebut.


"Apa lagi?" tanya Hedrick.


"Mata."


"Okey."


Hedrick dan Veeno berbalik mencongkel kedua mata Teresa dan Iden. Mata Teresa yang tadinya cuman mengalirkan air mata kini berganti mengalirkan darah segar. Veeno dengan iseng nya memainkan bola mata itu sebelum meletakkannya di dalam kotak khusus penyimpanan organ tubuh yang mereka bawa sebelumnya.


"AAH! Bedebah kalian berdua!! Kalian tidak akan bisa selamat dari dunia ini. Suatu hari nanti kalian akan tertangkap dan dijebloskan ke penjara! Keluargaku tidak akan membiarkan kalian dasar orang-orang gila!! Sampai saat itu tiba kalian berdua akan mati!" caci maki Iden disela-sela rasa sakitnya.


"Mati? Aku tidak takut. Semua orang pasti mati. Yang membedakan hanyalah siapa yang duluan," Hedrick mempelebar luka di perut Iden sampai ke dadanya.


"AAHH..... Sakit! Jika kalian ingin membunuhku, bunuh saja. Aku tidak kuat lagi. Ini benar-benar menyakitkan," rintih Teresa telah putus asa.


"Bersabarlah sedikit lagi Teresa. Sebentar lagi juga kau akan tewas," bisik Veeno di telinga Teresa.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε