The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Kesempatan terakhir



Jikapun para pelaku telah pergi dari Orchid boutique sebelum razia dimulai, itu tak mungkin. Karna menurut hasil rekaman cctv yang ada di Orchid boutique, pria yang menitipkan bikisan tersebut masih ada disana setelah perintah razia diturunkan. Hanya satu kemungkinan yang dapat mereka pikiran kan. Itu iyalah bahwa para pelaku menyewa seseorang untuk mengirimkan bingkisan tersebut ke Orchid boutique. Dengan dapat menemukan orang tersebut mungkin bisa menemukan informasi siapa pelakunya. Namun itu tidak akan mungkin berhasil. Sebab pria paru baya tersebut merupakan penyamaran Veeno.


...⚛⚛⚛⚛...


Veeno melirik jam tangannya. "Sudah lima menit. Saatnya pergi ke lokasi berikutnya."


"Sepertinya kita akan berpapasan dengan mereka saat keluar dari tempat ini. Lebih cepat sedikit lagi, mereka pasti berhasil menangkap kita."


Hedrick menutup laptopnya lalu meletakkannya di dalam mobil. Setelah itu mereka memotong masing-masing tangan Risna dan meninggalkannya begitu saja disana. Keadaan Risna sudah sangat memprihatinkan. Nafasnya telah melemah dan matanya sering kali terpejam. Tepat seperti dugaan Hedrick. Seratus meter meninggalkan pelabuhan, mobil mereka berpapasan langsung dengan sejumlah mobil polisi yang ngebut menuju pelabuhan. Veeno dan Hedrick cuman tersenyum kecil lalu melanjutkan perjalanan mereka.


Sampai di pelabuhan para polisi segera melakukan penyelidikan ke seluruh penjuru pelabuhan. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menemukan potongan tubuh Risna yang lain karna berada di tempat terbuka namun cukup terpencil di pelabuhan tersebut. Bersamaan dengan penemuan TKP, kepala polisi dan detektif Jordan tiba. Kepala polisi dibuat marah karna terlambat lagi. Amaranya semakin menjadi setelah membaca pesan yang ditinggalkan pelaku.


..."Terlambat lagi dan lagi. Kesempatan kalian tinggal satu kali. Jika kalian terlambat kali ini maka kalian kalah."...


...QCKIUCUDJ PQHA...


...N\=24...


Detektif Jordan langsung memecahkan sandi tersebut. Langkah pertama,


A B C D E F G H I J K L M {N} O


11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 {24} 25


P Q R S T U V W X Y Z


26 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Hasilnya,


Q C K I U C U D J


1 13 21 19 5 13 5 14 20


F Q H A


16 1 18 11


Langkah kedua,


A B C D E F G H I J K L M N O P Q R


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18


S T U V W X Y Z


19 20 21 22 23 24 25 26


Hasil akhir,


1 13 21 19 5 13 5 14 20


A M U S E M E N T


16 1 18 11


P A R K


"Taman hiburan!" teriak detektif Jordan setelah berhasil mengetahui lokasi selanjutnya.


Mereka bergerak kembali menuju taman hiburan yang bersebelahan langsung dengan pantai. Disepanjang jalan dipingiran pantai memang tidak dilakukan razia. Satu kesalahan fatal lainnya yang dilakukan polisi. Hedrick dan Veeno tiba dilokasi dua puluh menit lebih cepat dari para polisi. Sebelum masuk mereka memarkirkan mobil diluar taman hiburan, lebih tepatnya di bawah pohon dibelakang pagar pembatas taman hiburan tersebut. Mereka mengeluarkan tubuh Risna yang sudah tak bernyawa dari dalam mobil berserta terpal plastik hitam tersebut yang digunakan untuk membalut tubuh Risna lalu di masukan ke dalam tas. Agar mereka bisa membawa tubuh Risna masuk ke taman hiburan tanpa dicurigai, Veeno menyamar sebagai maskot taman hiburan tersebut. Dengan menggunakan kostum maskot itu Veeno dapat leluasa membawa tubuh Risna.


Hedrick dan Veeno masuk ke taman hiburan. Sejauh ini mereka aman-aman saja. Walau langkah Veeno sedikit terhambat karna ada beberapa anak-anak mita berfoto bersama. Veeno tentu harus memerankan maskot taman hiburan sebaik mungkin. Selesai berfoto, Veeno cepat-cepat mencari tempat sepi sebelum ada yang menghambat langkah mereka lagi. Di belakang salah satu wahana Veeno melepaskan kostumnya.


"Dimana kita akan meletakan tubuh wanita ini?" tanya Veeno.


"Di bianglala ganda yang menjadi kebanggaan taman hiburan ini," tunjuk Hedrick pada bianglala setinggi 67 meter tersebut.


"Tinggi sekali," ujar Veeno sambil melirik bianglala itu.


"Aku akan naik bianglala itu dan meninggalkan tubuhnya disana. Kau cukup mengawasi sekitar kalau-kalau para polisi itu datang."


"Mengerti. Berhati-hati lah."


"Tidak akan terjadi sesuatu padaku. Kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Mungkin saja kau membutuhkannya."


Veeno menyerahkan tas yang ada dipunggunya pada Hedrick, kemudian mereka berpisah. Hedrick pergi ke pintu utama bianglala dan Veeno pergi ke kafe terdekat agar ia bisa mengawasi situasi taman hiburan. Hedrick mesanan tiket untuk dapat menaiki bianglala tersebut. Hedrick sengaja menyewa satu gondola khusus untuk dirinya sendiri. Perlahan bianglala mulai bergerak naik dan semakin tinggi. Hedrick meletakan tasnya dan disandarkan pada tempat duduk dalam gondola tersebut. Ia menatap keluar jendela kaca yang menyajikan pemandangan laut biru. Saat ini Hedrick telah mencapai puncak tertinggi bianglala tersebut. Untuk sesaat Hedrick bisa menarik nafas menenangkan dirinya. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Veeno tiba-tiba menghubunginya.


"Ada Veeno?"


"Apa kau masih di atas?" tanya Veeno. Dari nada bicaranya terdengar tergesa-gesa.


"Baru bergerak turun."


"Masalah besar Hedrick! Para polisi telah mengepung tempat ini dan sekarang mereka telah memeriksa setiap wahana, termasuk wahana bianglala."


"Oh... Akhirnya mereka bisa cepat juga. Ini baru menarik."


"Menarik kepala bapakmu!" bentak Veeno. "Mereka saat ini sedang memeriksa setiap gondola serta penghujung yang menaiki bianglala. Kau bisa tertangkap jika mereka menemukanmu bersamaan dengan tas berisi tubuh wanita itu."


"Lalu, apa gunanya kau ada di bawah sana? Minum kopi?" tanya Hedrick terlihat tidak panik sama sekali.


"Ya tentu saja aku saat ini sedang membuat pengalihan perhatian. Aku berusaha meletakan bom palsu di area luar bianglala. Tapi aku rasa satu saja tidak cukup membuat semua para polisi tersebut meninggalkan pintu utama bianglala. Aku akan coba meletakan beberapa bom palsu lagi."


"Itulah yang membuatku tidak panik sama sekali. Tapi pastikan mereka mengetahui bom palsu itu sesaat gondola yang aku naiki sedikit lagi sampai di pintu utama. Akan gawat jika mereka mengetahui kalau itu bom palsu sebelum aku turun tepat wak-tu," mata Hedrick tiba-tiba tertuju pada pintu keluar.


"Ada apa?"


"Tidak ada. Lakukan saja apa yang sedang kau lakukan."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε