The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Perkelahian dua sahabat.



"Jangan membual! Ka-kau hanya sendirian sedangkan kami lebih dari sepuluh orang. Kau tidak akan bisa menang melawan kami. Serang dia!" perintah bos preman itu pada seluruh anak buahnya.


"Benar-benar naif," gumang Veeno.


Sekelompok orang itu dengan beringasnya mengayunkan tongkat baseball masing-masing menyerang Veeno. Namun Veeno tidak takut sama sekali malah membuat ia bersemangat. Ia mengeluarkan pisau lipat yang tidak pernah lupa dibawanya. Secepat kilat Veeno menebas leher orang-orang tersebut tanpa ampun. Tidak sampai beberapa 15 menit semuanya tumbang dan cuman menyisakan bos preman itu saja.


"Hihi... Tinggal satu lagi," Veeno menjilati pisau lipat nya sambil menyeringai dan melirik tajam pada bos preman tersebut.


"Ti-tidak mungkin! Ba-bagaimana bisa kau membunuh semua anak buah ku secepat itu. Iblis! Kau adalah iblis!" kata bos preman itu dengan tubuh gemetar. Sangking takutnya ia sampai tak sanggup berdiri lagi.


"Iblis? Mungkin kau benar. Sekarang matilah kau!"


Veeno melesat hendak menyerang bos preman itu sampai ia dikagetkan dengan kemunculan seseorang dihadapannya. Veeno seketika menghentikan serangannya dan melangkah mundur.


"Syukurlah kau datang tuan. Aku mohon tolong aku. Orang itu adalah pembunuh! Dia telah membunuh orang-orang ku," tunjuk bos preman itu ke arah Veeno sambil meminta pertolongan pada pria di depannya.


"Baiklah. Aku akan menolongmu."


Tanpa peringatan, bukannya menolong, pria itu malah menikam tenggorokan bos preman tersebut sampai meregang nyawa. Bos preman itu tersungkur di tanah bersimbah darah.


"Maafkan aku. Maksudku adalah menolongmu bebas dari dunia ini."


"Apa yang kau lakukan disini Hedrick? Bukannya kau sibuk mengurusi iklan Mr. Hatcher?" tanya Veeno tanpa melirik Hedrick sama sekali. Ia lebih memilih menyekat pisau lipat nya dari sisa darah yang menempel.


"Ada apa denganmu? Kau terlihat kesal."


"Hm! Apa pedulimu?" Veeno membuang muka sambil mendegus kesal.


"Tidak mungkin kau marah karna aku menolak mengintai target hari ini, kan? Pasti ada alasan lain" kata Hedrick coba menebak.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya. Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Veeno mengalikan pembicaraan.


"Aku menemani Mr. Hatcher mengunjungi pabrik anggur pertama di kota ini dan sekalian mencari ide untuk membuat iklan," jelas Hedrick.


"Kau sepertinya semakin dekat saja dengan Mr. Hatcher, ya?" nada bicara Veeno terdengar semakin kesal.


"Eh, Veeno..."


"Kau tahu 'kan karna ledakan pabrik angur itulah aku kehilangan rumahku. Tapi kau malah mengajak Mr. Hatcher berkeliling disana seperti mengunjungi museum!" potong Veeno seketika.


"Bukan aku yang menyarankan untuk pergi kesana."


"Iya, iya. Aku sangat tahu itu dan sudah menebaknya. Kenapa kau tidak segera kembali padanya sebelum ia mencarimu?" Veeno berbalik dan melangkah pergi.


"Dia sudah pulang. Aku sempat melihat mobilmu sebab itu aku tahu kau ada disini."


Langkah Veeno terhenti lalu tiba-tiba... "AARH!!" dengan geram Veeno menonjok dinding bangunan di dekatnya untuk meluapkan emosinya.


"Astaga... Kau bertingkan seperti anak kecil saja."


"Cerewet!" bentak Veeno meninggikan suaranya. "Kita sudah berteman selama bertahun-tahun. Kita sudah mengenal antara satu sama lain. Kita memiliki masa lalu yang begitu menyedikan. Dan karna inilah kita berteman. Kau tahu betul seberapa besar kebencian ku ini."


"Iya, tidak ada orang lain yang lebih mengerti dirimu dibanding aku. Tapi yang mau aku katakan, kau itu lebih mirip gadis kecil yang cengeng," ejek Hedrick dengan raut wajah datar.


"Hedrick!!" bentak Veeno sambil berbalik menatap tajam Hedrick.


Melihat amarah Veeno yang meluap-luap, bukannya berhenti Hedrick malah semakin memancing dan terus mengejek Veeno terus.


"Kenapa? Apa sekarang adik kecilku ingin menangis?"


"Eeh....! Jangan membuatku semakin marah!"


"Kau yang meminta! Jangan salahkan aku jika aku sungguh-sungguh menghajarmu!"


Seperti yang Hedrick harapkan. Dengan amarah yang meluap-luap Veeno mengayunkan pukulannya menyerang Hedrick. Sebisa mungkin Hedrick menangkis pukulan tersebut menggunakan kedua tangannya. Tenaga Veeno cukup kuat membuat Hedrick sampai temundur beberapa meter namun tidak sampai membuat ia terjatuh.


"Apa cuman segini kemapuanmu? Kau tidak terlihat berkembang sama sekali," ejek Hedrick lagi untuk semakin memancing amarah Veeno.


"Aku baru mulai!"


Pertarungan sengit terjadi diantara mereka. Tidak ada satupun dari keduanya yang menahan kekuatan, baik Hedrick maupun Veeno. Mereka saling menyerang dengan bersungguh-sungguh. Namun sampai sejauh ini diantara keduanya terlihat imbang. Mereka terus meluncurkan pukulan, tendangan, menangkis dan menghindar dengan segenap kemampuan masing-masing. Mereka bertarung sampai matahari menghiasi langit dengan sinar jingga kemerahannya. Hedrick dan Veeno terbaring di tanah sambil mengatur nafas mereka yang lelah. Perkelahian tersebut bisa dibilang seri.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Hedrick kemudian.


"Luar biasa. Sangat melegakan. Sudah lama aku tidak bertarung dengan segenap kemampuan ku ini. Memang benar melawan orang yang memiliki kekuatan imbang itu jauh lebih menyenangkan."


"Baguslah. Meluapkan seluruh emosimu dengan cara berkelahi itu lebih baik dari pada terus memendamnya di dalam hati. Jika kau teringat kembali dengan masa lalu mu, jangan sungkan untuk memintaku menemanimu meluapkan itu semua. Aku akan dengan senang hati menemanimu bermain."


"Hah? Tidak aku sangka pria dingin sepertimu ternyata pengertian juga."


"Siapa bilang? Aku cuman ingin menghajarmu."


Mereka terdiam sesaat lalu tertawa bersama-sama mengiringi cahaya matahari yang semakin redup. Tawa mereka mengisi setiap bangunan terbekalai tersebut.


"Terima kasih teman. Mungkin di dalam diri kita ini sudah tidak bersembahyang lagi sebuah perasaan dan kehangatan. Tapi aku senang memiliki teman sepertimu."


"Aku saja sudah lupa bagaimana caranya berekspresi."


Veeno bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Hedrick. "Kita pulang?"


"Iya."


Hedrick menerima uluran tangan dari temannya itu. Mereka beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut menuju mobil mereka yang terparkir.


"Kau tahu kita harus sering-sering melakukan ini. Berkelahi bersama preman-preman itu benar-benar membosankan," kata Veeno sambil mrranhkul bahu Hedrick.


"Terserah kau saja, adikku," Hedrick melepaskan rangkulan Veeno. Ia lebih memilih menyekat sisa darah di dahinya yang terluka.


"Siapa yang kau panggil adik? Secara tanggal lahir aku lebih tua darimu. Kaulah yang pantas menjadi adikku."


"Tapi tingkah lakumu yang kekanak-kanak itu lebih cocok menjadi seorang adik. Kau tahu itu."


"Hah, sifatmu saja yang terlalu dingin. Sedangkan aku ini cuman menikmati kehidupan ku. Kita tidak tahu sampai berapa lama kita hidup. Bisa saja hari ini atau besok."


"Alasan," gumang Hedrick. Tapi ia senang melihat Veeno kembali seperti sedia kala.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε