
Namun siapa menduga Veeno malah bertemu Hedrick di vila sewaktu ia hendak mengambil salah satu barangnya yang ada disana. Tanpa bertanya lagi Hedrick mencengkram krah baju Veeno untuk mencari perhitungan dengannya.
"Jika kau ingin mengerjai Mr. Hatcher silakan saja tapi jangan libatkan aku! Yang benar saja dia tiba-tiba menarikku ke tengah keramaian. Harga diriku seperti diinjak-injak! Dan lagi, kenapa kau menyalakan sistem pendeteksi asap itu?! Aku basa kuyup karna kau!" teriak Hedrick meluapkan amaranya atas kelakuan temannya satu ini.
"Hehe... Maaf Hedrick. Aku tidak menyangka Mr. Hatcher malah memilih mu untuk berdansa dengannya."
"Hah... Aku harap Mr. Hatcher menepati janjinya tidak akan membiarkan berita ini sampai tersebar. Jika tidak... Aku sendiri yang akan membantai seluruh kediaman Hatcher dengan kau orang pertama yang akan ku gantung!" Hedrick mengguncang tubuh Veeno sangking geramnya.
"Hedrick, apa yang kau lakukan?" tanya Felicia yang entah sejak kapan ada disana.
Melihat Felicia, Hedrick lekas melepaskan krah baju Veeno. Hal itu membuat Veeno terjatuh terduduk di lantai. Veeno sedikit merintih kesakitan sambil berusaha berdiri dan mengusap bagian tubuhnya yang sakit. Hedrick sama sekali tidak peduli.
"Felicia? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hedrick.
"Ah, Felicia, syukurlah kau cepat datang. Suamimu ini... Mmph..."
Hedrick seketika menutup mulut Veeno dengan telapak tangannya untuk mencegah ia berbicara. Dengan susah payah Veeno melepaskan telapak tangan Hedrick dari mulutnya.
"Jangan dengarkan dia. Jawab saja pertanyaan ku sebelumnya."
"Eh... Sebaiknya lain kali saja," melihat suasana hati Hedrick yang sepertinya tidak baik hari ini membuat Felicia ragu-ragu mengatakannya.
"Katakan! Atau aku tidak akan perna menyetujui semua permintaanmu lagi."
Mau tidak mau Felicia harus mengatakannya. Ia memalingkan muka dari Hedrick. "Em... Aku... Aku ingin pergi berbelanja."
"Hah? Kau ingin berbelanja?" ulang Hedrick dengan sebelah alisnya terangkat.
"Iya. Sejak merawat Daisy, aku jadi teringin membeli langsung perlengkapan bayi untuknya. Bu-bukan karna aku tidak suka dengan pakaian yang kau belikan tapi... Aku cuman teringin saja. Kau, kau tahu... Aku..."
"Tidak boleh," jawab Hedrick membuat Felicia menoleh padanya. "Bagaimana kalau ini cuman rencanamu untuk kabur? Aku membiarkan mu keluar dari kamar bukan semata-mata kau mengangapku telah berubah. Aku..." Hedrick terdiam sebentar tak melanjutkan kalimatnya. "Kalau di pikir-pikir, kenapa juga aku membiarkan dia keluar kamar?"
"Kau membiarkan aku keluar kamar agar aku lebih leluasa merawat Daisy," kata Felicia melanjutkan kalimat Hedrick yang terpotong.
"Aah, lupakan itu. Kau tetap tidak boleh meninggalkan vila ini untuk alasan apapun."
"Tapi aku janji tidak akan kabur. Aku mohon Hedrick. Satu kali ini saja," pinta Felicia dengan sangat.
"Tetap tidak boleh!" jawab Hedrick dengan tegas.
"Hah... Baiklah," raut wajah Felicia tampak kecewa.
Apa yang sebenarnya Felicia pikirkan? Seharusnya ia telah menduga kalau Hedrick tidak mungkin mengizinkannya pergi dengan mudah. jika memang semudah itu untuk pergi sudah selama ini ia meninggalkan vila tersebut. Tapi sejujurnya memang tidak ada niat bagi Felicia untuk kabur. Permintaan tersebut semata-mata sungguh keinginan kecilnya yang muncul sejak merawat Daisy.
"Maaf Miss. Felicia, Daisy menangis," kata Amy yang datang menghampiri.
"Ah, iya. Aku datang," Felicia bergegas kembali ke kamarnya untuk menjenguk putrinya.
"Sejak kau membiarkan Felicia merawat bayinya kali ini, ia mulai berubah. Ia menjadi lebih lemah lembut dan penuh keibuan. Kebencian dan caci maki nya yang sering ia lontarkan padamu tidak terdengar lagi. Seolah-olah apa yang telah dia alami selama ini lenyap seketika saat kau memberi kesempatan untuk ia merawat putrinya," ujar Veeno begitu Felicia pergi.
"Ada satu barang yang ingin aku minta buatkan darimu, profesor," kata Hedrick kemudian.
"Hah? Apa itu? Aku ini ahli kimia, bukan ahli robotika."
"Buatkan saja. Ini sebagai hukuman atas apa yang kau lakukan padaku di pesta perjamuan itu. Atau kau menginginkan hukuman yang lain?"
"Baiklah, baiklah. Akan aku buatkan."
...⚛⚛⚛⚛...
"Em... Ada apa?" tanya Felicia. Ia bingung mau bertanya apa untuk memulai percakapan.
Hedrick tidak menjawab. Ia mengapai tangan Felicia lalu memasangkan sebuah gelang di pergelangan tangan kecil itu. Felicia menatap gelang keperakan dengan hiasan pecahan batu permata berwarna merah yang kini melingkar cantik di pergelangan tangannya. Felicia berbalik menatap Hedrick dengan tanda tanya.
"Ini untukku?"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh karna bentuknya. Itu bukan hadiah. Gelang itu merupakan semacam alat pelacak agar kau tidak dapat melarikan diri dariku. Aku bisa menemukan mu dimanapun kau berusaha bersembunyi dan satu lagi, gelang itu tidak dapat dilepas atau dipotong," jawab Hedrick tanpa ekspresi.
"Untuk apa kau memberikan gelang ini? Aku juga tidak bisa kemana-mana."
"Bersiaplah. Bukankah kau ingin pergi berbelanja?"
Raut wajah Felicia seketika berubah ceria. "Benarkah? Kau sungguh mengizinkan ku pergi berbelanja?"
"Tidak. Aku cuman butuh seseorang untuk mengajak Max jalan-jalan."
"Hah? Kau mengizinkan ku hanya semata-mata memintaku mengajak hewan peliharaan mu itu jalan-jalan?"
"Mau pergi atau tidak?"
"Iya, iya. Aku mau. Kalau begitu aku siap-siap dulu."
Felicia berbalik menghampiri lemari nya. Dan disaat hendak melepaskan bajunya, Felicia menoleh pada Hedrick yang masih berdiri di samping tempat tidur Daisy menatapnya seperti patung.
"Permisi... Bisa kau keluar sebentar?"
"Kenapa aku harus keluar? Apa kau masih malu? Aku sudah melihat tubuhmu itu puluhan kali."
"Keluar!" Felicia mendorong Hedrick keluar dari kamarnya lalu mengunci pintu.
"Berani sekali kau mengusirku!" bentak Hedrick tidak terima diusir keluar begitu saja.
"Diamlah! Apa kau mau Daisy bangun?"
"Sepertinya aku sudah terlalu tidak memperdulikanmu belakangan ini ya sampai kau berani memerintah ku seperti itu!"
"Tidak seperti biasanya juga. Masih mending aku memintamu keluar," selesai berganti pakaian dan sedikit merias dirinya, Felicia membuka pintu. "Ayok pergi."
"Ambil ini."
Hedrick menyodorkan tali pengikat Max pada Felicia lalu melangkah pergi. Felicia bergegas mengikuti Hedrick dari belakang. Setelah memasang tali pengikat pada Max, mereka berdua berangkat menuju pusat kota. Tak lupa Felicia mempercayakan putrinya pada Amy dan Tina selama mereka pergi. Amy dan Tina meyakinkan Felicia kalau Daisy akan baik-baik saja dan tidak perlu khawatir.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε