
Hedrick segera mematikan telponnya sebelum Veeno bicara. Ia melepaskan rambut palsu nya serta kacamata hitam yang ia kenakan sebelum masuk tadi dan tak lupa Hedrick juga membalik jaketnya. Saat ini gondolanya berada di sudut 145° dari titik pusat bianglala. Hedrick melirik keluar kaca gondola mengamati batang-batang baja penghubung antara gondola dan bangunan utama yang menahan roda bianglala serta tempat mesin penggerak berada. Merasa batang-batang baja tersebut dapat ia lalui, Hedrick memutuskan keluar dari gondolanya saat berada kira-kira di sudut 160°.
Beruntungnya ia memilih gondola yang mengarah langsung ke laut, bukannya gondala bagian depan. Hal itu membuatnya tidak menjadi pusat perhatian para pengunjung taman hiburan. Tapi resiko terbesar yang Hedrick alami adalah hembusan angin yang kencang. Sangat sulit bagi Hedrick menyeimbangkan tubuhnya apalagi dengan keadaan kakinya yang seperti itu. Secara perlahan-lahan namun pasti Hedrick bergerak maju sambil berpegangan erat pada batang-batang baja yang lebih kecil.
Veeno sama sekali tidak tahu dengan aksi nekat temanya itu. Ia cukup disibukkan mencari kesempatan meletakan bingkisan berisi bom palsu. Total ada tiga bom palsu yang Veeno sebar di area dekat bianglala. Setelah selesai meletakan bom terakhir dan hendak membuat kehebohan, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara seseorang yang memanggilnya dari belakang. Sontak Veeno langsung menoleh melihat siapa yang barusan memanggil namanya.
"Miss. Rogers?!"
"Ternyata aku tidak salah mengenali orang. Ini memang dirimu profesor Veeno. Apa yang anda lakukan disini? Apa anda sedang berkencan dengan seorang gadis?" tanya Misa. Rogers dengan nada menggoda.
"Tidak ada gunanya kau mengurusi urusan pribadiku. Sebaiknya kau belajar dari pada berkencan di tempat ini. Melakukan eksperimen sederhana saja kau tidak bisa. Bagaimana mau lulus?" ejek Veeno mengungkit kejadian di laboratorium.
"Siapa yang berkencan? Aku datang kesini datang bersama teman-teman ku. Dan berhentilah mengungkit kejadian waktu itu!" geram Miss. Rogers tidak senang.
"Lalu dimana teman-teman mu itu? Apa bersama pacar mereka? Em... Kalau begitu kau jomblo, dong."
"Aku tidak jomblo! Kau itu yang yang jomblo! Dasar profesor aneh!" bentak Miss. Rogers henda menampar Veeno.
Dengan cepat Veeno menahan tangan gadis di depannya. "Sebagai anak tangsi, beginikah caramu memperlakukan gurumu?"
"Kau bukan guruku!" Miss. Rogers berusaha menarik tangannya namun cengkraman Veeno terlalu kuat.
"Aku terbilang gurumu karna telah mengajarimu biarpun itu cuman satu kali."
"Lepaskan aku! Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa? Apa kau akan melaporkan aku pada ayahmu, anak tangsi?"
"Anak tangsi?"
"Irina!"
Panggil seseorang membuat mereka menoleh. Terlihat seorang pria bergegas menghampiri mereka. Veeno melepaskan cengkramanya dan sedikit mendorong Miss. Rogers menjauh. Veeno melirik jam tangganya. Tinggal beberapa menit lagi sebelum ia mengaktifkan bom palsu itu.
"Jordan? Apa yang kau lakukan disini? Aku pikir kau sedang berkerja."
"Aku tidak bisa memberitahu mu. Siapa dia?" tanya Jordan saat melirik Veeno.
"Dia adalah profesor Veeno. Dia pernah menjadi pemandu tur saat kunjungan kami ke laboratorium," kata Miss. Rogers memperkenalkan Veeno.
"Senang bertemu denganmu, profesor. Nama saya Jordan, tunangan Irina," kata Jordan memperkenalkan diri. Ia sepertinya terlihat sedikit cemburu melihat kedekatan Veeno dan Irina tadi.
"Oh... Ternyata kau sudah memiliki tunangan, Miss. Rogers."
"Tentu saja. Tidak sepertimu yang masih menjomblo," Irina merangkul tangan Jordan dengan mesra.
"Tipeku itu sulit di dapat. Aku tidak suka wanita yang bodoh."
"Apa katamu?!!"
"Dah... Aku harus pergi. Sampai jumpa lagi pasangan kekasih," Veeno berlalu pergi meninggalkan Jordan dan Irina.
Irina menggeretakan giginya menahan kesal. "Ada apa sih dengannya? Dia sungguh menjengkelkan!"
"Tidak perlu urusin dia. Sebaiknya kau pulang. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," Jordan berbalik dan hendak pergi.
"Ini sudah tanggung jawabku, Irina. Kau sudah tahu sendiri berapa banyak korban akibat ulah pembunuh berantai itu. Aku harus menangkap mereka."
"Lalu, apa yang kau lakukan disini? Mencari pembunuh itu?"
"Iya. Aku tidak ada waktu menjelaskan padamu lebih detail, tapi yang pasti pembunuh itu ada di taman hiburan ini."
Boom!
Ledakan tiba-tiba terjadi mengagetkan mereka semua. Semua pengunjung berteriak histeris dan berlari berhamburan. Terlihat dari dari arah timur kepulan asap putih menjulang tinggi naik ke udara. Jordan dan Irina berlari menghampiri kepulan asap tersebut untuk memeriksa apa yang terjadi. Baru beberapa langkah, suara ledakan kembali terdengar dari arah berlawanan. Walau ledakan tersebut tidak besar dan sama sekali tidak merusak apapun tapi tetap saja membuat kepanikan diantara semua orang.
"Apa yang terjadi? Apa pembunuh itu menargetkan semua pengunjung taman hiburan?" tanya Irina.
"Tidak. Itu cuman bom asap. Aku rasa para pembunuh itu cuman ingin membuat pengalihan perhatian agar mereka bisa kabur dari tempat ini."
"Jadi kita harus bagaimana?"
"Tetap di dekatku. Aku tak yakin membiarkan mu berkeliaran sendirian dalam kekacauan ini."
Melalui walketoki... Jordan memberitahu semua anggota polisi yang ada untuk tetap siaga. Perketat penjagaan di pintu gerbang dan sebagian lagi mentertipkan pengunjung yang ada, sedangkan ia akan menyelidiki penyebab terjadinya ledakan. Pengalihan tersebut cukup berhasil membuat para polisi kalang kabut. Tapi yang menjadi masalah, masih ada dua oknum polisi lagi di pintu masuk bianglala. Mereka tetap memeriksa setiap gondola yang ada.
"Sial! Kalau seperti ini, apa aku harus mengaktifkan bom ketiga?" pikir Veeno. Namun ia tidak punya pilihan. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan temannya. "Aah! Sudah sampai sejauh ini. Aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan."
"Tak perlu mengaktifkan bom asli itu," kata Hedrick tiba-tiba telah muncul dibelakang Veeno.
"Hedrick?! Bagaimana bisa? Kau... Bukannya..." Veeno dibuat kebingungan. Secara gondola yang Hedrick tempati belum turun tapi Hedrick telah ada dibelakangnya.
"Sudah aku bilang tidak akan terjadi apa-apa padaku. Ayok kita cari makanan aku sudah lapar."
"Hm, aku tak bisa berkata-kata lagi."
Veeno melemparkan remot kontrol yang ia gunakan untuk mengaktifkan bom-bom itu. Sambil menunggu semuanya mereda, Hedrick dan Veeno mendatangi salah satu restoran yang cukup jauh dari bianglala untuk makan siang.
...⚛⚛⚛⚛...
"Detektif Jordan. Kami menemukan sebuah tas misterius di salah satu gondola," kata polisi yang bertugas memeriksa gondola melalui walkie talkie.
"Saya segera kesana."
Jordan menggandeng tangan Irina menuju gondola. Untuk tugas pemeriksaan diserahkan pada polisi yang lain. Sampai disana memang benar ada sebuah tas misterius berwarna hitam yang telah diamankan ke sisi lain pintu masuk. Jordan meminta tas tersebut dibuka. Di dalam tas ditemukan terpal plastik yang digunakan untuk membungkus sesuatu. Begitu terpal tersebut dikeluarkan bau darah seketika memenuhi penciuman mereka. Jordan langsung menutup mata Irina saat terpal plastik itu dibuka dan menampakkan isinya. Seonggok tubuh manusia tanpa kepala terbungkus dalam terpal tersebut.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε