
"Apa?! Tega sekali kau Hedrick! Walau aku juga sangat membencinya namun ia tetap darah daging kita sendiri. Aku tidak mungkin melakukan itu!"
"Aku sama sekali tidak mengakuinya! Aku tidak sudi anakku lahir dari wanita sepertimu. Jika kau tidak mau mengugurkannya, maka aku sendiri yang akan melakukannya."
"Tidak! Aku mohon jangan lakukan ini Hedrick. Kasihanilah anakku. Dia tidak bersalah."
Hedrick sama sekali tidak mendengarkan Sara. Ia menarik tangan Sara lalu menghempaskan tubuh Sara ke atas tempat tidur. Untuk mencegah Sara memberontak, Hedrick mengikat tangan serta kaki Sara di setiap sudut tempat tidur. Karna Hedrick lupa membawa pisau lipat nya dan tidak mau buang-buang waktu mengambil pisau lain, Hedrick memutuskan mengeluarkan paksa janin Sara melalui jalan lahirnya. Hedrick mengangkat dress yang dikenakan Sara sampai perut Sara terlihat. Ia lalu menekan perut Sara kebawah untuk mengeluarkan janin tersebut.
"ARGH!! Hentikan itu Hedrick! Sakit!!" teriak Sara kesakitan begitu Hedrick menekan kuat perutnya.
Hedrick sama sekali tidak memperdulikan rintihan kesakitan yang Sara alami. Ia terus menekan perut Sara secara perlahan-lahan namun dengan tekanan yang kuat. Darah terlihat mulai mengalir diantara kedua paha Sara. Itu menandakan kalau Sara sudah mengalami keguguran tapi janin tersebut belum kunjung keluar.
"Dia cukup betah juga ya ada dalam tubuhmu. Sepertinya aku terpaksa harus menariknya keluar."
"Apa maksudmu menariknya? AAHHH!!!"
Belum sempat Sara mengerti maksud dari perkataan Hedrick, Hedrik telah memasukan tangannya ke jalan lahirnya janin tersebut. Karna jalur lahir itu masih sangat sempit di lalui tangan Hedrick, ia cukup kesulitan memasukan tangannya. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Hedrick berhenti memaksa tangannya masuk sampai rahim Sara.
"AAAHH!!! Hentikan! Tanganmu tak akan muat. Kau akan merobeknya!"
"Jika tanganku saja tidak muat, bagaimana bisa seorang wanita mengeluarkan kepala bayi yang berkali-kali lipat besarnya dari tanganku?"
"Itu lain cerita."
"Diamlah! Tanganku sudah masuk dan sedikit lagi bisa menggapainya."
"Hiks... Hiks... Sakit! Sakit sekali."
Beberapa menit kemudian Hedrick berhasil menggapai janin itu namun kendala lain terjadi. Hedrick kesulitan menarik tangannya yang sedang menggenggam janin tersebut. Sepertinya jalur lahir milik Sara belum memungkinkan untuk dilewati kepalan tangan Hedrick apalagi kepala bayi. Pantas saja janin tersebut tidak kunjung keluar.
"Sara, bisa kau mengejan? Aku tak dapat menarik tanganku."
"Hah.... Hah.... Baru sekarang kau terpikirkan soal ini?"
"Mengejan saja! Atau aku terpaksa merobek milikmu sampai ke perutmu!"
"Nnggggk...... Hah.... Hah.... Hmmmph.... AAHHH.......!"
Mau tidak mau Sara harus mengejan mengeluarkan tangan Hedrick dari dalam dirinya bersamaan dengan Hedrick menarik tangannya sendiri. Setelah perjuangan yang cukup lama akhirnya tangan berserta janin tersebut berhasil keluar. Sara seketika terkulai lemas dengan napas putus-putus.
"Hiks... Hiks... Kau kejam sekali Hedrick. Padahal dia darah daging sendiri!"
"Jika aku memiliki rasa belas kasihan, sejak dulu aku tidak mungkin mumbunuh orang. Janin yang belum berbentuk ini hanyalah bagian kecil dari korban-korban ku saja," Hedrick menatap janin kecil yang sekarang ada di telapak tangannya.
"Membunuh? Kau seorang pembunuh!" bentak Sara.
"Tidak ada gunanya juga aku masih merahasiakannya darimu. Benar, aku adalah seorang pembunuh," Hedrick berjalan menuju kamar mandi untuk membersikan tangannya serta janin itu dari darah yang menempel. Setelah itu ia berjalan menuju pintu keluar. "Beristirahatlah. Aku akan kembali lagi nanti."
"Kau mau kemana?"
"Menyimpan janin ini sebagai barang koleksi."
Hedrick melangkah pergi ke ruang koleksi untuk menyimpan janin kecil tersebut. Tak berselang lama Hedrick keluar, datang Amy memasuki kamar Sara. Teriakan Sara amat kencang sekali tadi sampai-sampai dapat terdengar keluar dari ruangan yang telah dirancang kedap suara itu. Iya, walau masih harus menempelkan telinga baru bisa benar-benar jelas mendengar teriakan tersebut. Amy yang kebetulan lewat di depan pintu kamar Sara dibuat penasaran apa yang terjadi di dalam. Ia ingin mendengar jeritan Sara yang tengah kesakitan, sebab itu ia mengupingnya di depan pintu. Menyadari Hedrick keluar dari kamar tersebut, Amy cepat-cepat mencari tempat sembunyi. Setelah memastikan bayanggan Hedrick telah menghilang di lorong, barulah Amy masuk ke kamar tersebut.
"Kau!" Sara menatap tajam pada Amy begitu melihat dia masuk.
"Seharusnya kau membiarkan aku membuang janinmu sejak dulu tapi kau malah menolaknya. Sekarang lihatlah dirimu, janinmu tetap direngut paksa darimu. Sungguh kasihan."
"Kalian ternyata berbohong padaku!"
"Memangnya kami ada niat mau jujur padamu? Yang kami pikirkan hanyalah bagaimana membuatmu lebih menderita lagi. Selamat bersenang-senang. Aku sangat menantikan seni apa yang bisa Mr. Hedrick ciptakan dari tubuhmu itu."
"Seni apa yang kau maksud?"
"Sebentar lagi kau juga akan tahu. Mr. Hedrick sangat suka bermain."
Setelah menyapa Sara sebentar, Amy segera melangkah keluar dari kamar tersebut meninggalkan Sara yang terus mencaci-makinya. Amy tidak mau berlama-lama di kamar tersebut. Dia harus lekas pergi sebelum Hedrick kembali. Diluar, saat Amy hendak pergi ke kamarnya sendiri, ia bertemu Veeno yang baru datang. Veeno menanyakan dimana Hedrick berada. Amy lekas memberitahu Veeno kalau Hedrick saat ini ada di ruang koleksi. Tanpa menunda lagi Veeno langsung naik ke lantai tiga.
"Hedrick, apa yang kau lakukan disini?" tanya Veeno begitu memasuki ruang koleksi dan melihat Hedrick ada disana.
"Akhirnya kau datang juga. Veeno, lihat apa ini," Hedrick menunjukan toples kaca yang berisi janin sebelumnya.
"Wow... Darimana kau mendapatkannya?"
"Dari dalam perut Sara."
"Dia hamil?"
"Iya. Sebab itu aku meminta mu datang hari ini. Aku ingin eksekusinya dipercepat. Aku muat melihat raut wajahnya lagi."
"Boleh saja tapi karna eksekusinya dipercepat aku belum mempersiapkan semuanya."
"Simpan persiapan itu untuk korban yang lain. Aku sudah dapat ide yang bagus."
"Benarkah? Kalau begitu tunggu apa lagi, ayok kembali menakuti kota ini dengan teror The Art Of Female Death."
Sebelum mereka memulai penyiksaan kejam pada Sara, Hedrick dan Veeno lebih dulu turun ke bawah untuk mengasah pisau mereka. Itu akan sangat berguna untuk permainan kali ini. Jika memakai pisau tumpul, bisa saja sih tapi akan sangat menyulitkan. Selain mempertajam pisau mereka, Hedrick juga menyiapkan palu dan sekota paku kecil, sedangkan Veeno menyiapkan papan tripleks dan meminta salah satu penjaga membawa beberapa lampu pemanas ke kamar Sara. Selesai menyiapkan semuanya, mereka mulai eksekusi.
"Untuk apa semua barang itu?" tanya Sara saat melirik Hedrick dan Veeno masuk dengan semua barang-barang yang mereka bawa.
"Ini cuman perlengkapan bermainan kami," jawab Veeno.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε