
"Wanita itu! Dia semakin berani saja. Sepertinya ia minta dihukum," geram Hedrick sambil meremas handuk di tanganmya.
"Jangan terlalu keras. Dia seorang ibu yang masih harus merawat anaknya."
"Hm! Dia beruntung aku masih memikirkan Daisy, tapi tidak akan ada kedua kalinya!"
Hedrick dan Veeno naik ke lantai atas menuju kamar masing-masing. Selepas memandikan Max dan mengeringkannya, barulah Hedrick membilas tubuhnya dari sisa kotoran dan darah yang menempel. Setelah mandi dan berpakaian Hedrick turun ke ruang makan. Di sana sudah ada Veeno dan Felicia yang menunggu untuk makan malam bersama. Untuk sementara Daisy dijaga oleh Amy, sedangkan Tina mengantarkan makan malam untuk Sara. Selesai makan malam Hedrick dan Veeno melanjutkan malam itu dengan menonton film sambil menikmati minuman serta popcorn.
...⚛⚛⚛⚛...
Telah berjalan lebih dari seminggu sejak penemuan mayat di halaman depan universitas. Mayat seorang wanita yang mengenakan kostum angel tersebut telah diidentifikasi serta hasil otopsi juga sudah keluar. Setelah itu mayatnya dikembalikan ke pihak keluarga untuk segera dikebumikan. Yang masih menjadi masalah adalah tidak ditemukan bukti apapun yang bisa dijadikan petunjuk untuk memecahkan kasus ini. Semua tidak kejahatan dilakukan dengan sangat bersih dan teliti. Tidak ada satupun rekaman cctv yang tersisa pada saat jam kejadian, semuanya telah dirusak dengan peluru dari senjata api. Kode yang ditemukan disamping mayat juga tidak dimengerti sama sekali apa maksud yang ingin disampaikan si pelaku. Di jam makan siang, detektif Jordan yang mengurus kasus ini masih dibuat memeras otak. Dengan semua foto kode dihadapannya ia mencoba memahami maksud dari setiap kode itu. Ada sesuatu yang janggal dan menggagunya dari kode-kode ini.
"Hei, detektif. Kau masih sibuk dengan kode-kode itu?" sapa salah satu rekannya sambil mengambil tempat duduk di hadapannya. "Apa yang kau pikirkan?"
"Ada satu hal yang membuatku penasaran sejak mengetahui arti dari kode-kode ini. Cuman kode ketiga dan keempat yang sama sekali buka teka-teki, sedangkan kode kelima adalah satu-satunya kode yang merujuk pada korban dimana kode tersebut ditemukan. Sementara untuk kode pertama dan kedua sama sekali tidak ada kaitannya dengan semua korban."
"Bagaimana dengan kode keenam? Kode itu sudah terpecahkan, bukan?"
Detektif Jordan tersenyum. "Setelah mengetahui kode keenam ini lah aku mulai sedikit mengerti," ia menyodorkan hasil kode keenam yang sudah terpecahkan.
"“Malaikan bersayap patah“?"
"Tepat sekali. Kode ini ditemukan pada korban yang mengenakan kostum drakula dan tersalib di depan area pemakaman."
"Kode ini sama seperti halnya kode pertama dan kedua, tidak berujuk pada korban tersebut."
"Itu memang benar. Tapi sejak mengetahui kode keenam ini aku menduga, apa mungkin semua kode ini bukan ditujukan pada korban tersebut tapi melainkan ditujukan pada korban selanjutnya."
"Korban selanjutnya?"
"Iya. Dugaan ku diperkuat setelah mendapat penemuan korban ketujuh."
"Benar juga. Korban ketujuh ditemukan dalam balutan kostum angel dan salah satu sayap di kostum itu memang rusak. Kami pikir rusaknya sayap pada kostum itu merupakan unsur ketidak sengajaan. Ternyata alasanmya agar sesuai dengan pesan yang mereka tinggalkan pada korban sebelumnya. Jadi yang dimaksud dengan “wanita bermata biru“ pada kode pertama adalah ciri-ciri dari korban kedua yang mempunyai mata berwarna biru. Tapi korban ketiga sama sekali tidak memiliki tato ditubuhnya, begitu juga dengan korban yang lain. Lantas kode kedua ini ditujukan pada siapa?"
"Apa kau lupa? Isi kode ketiga menyatakan kalau kode sebelumnya salah. Itu berarti untuk kode kedua itu kode yang salah."
"Em... Jika benar kode ini ditujukan pada korban selanjutnya, bukankah berarti mereka sudah memiliki target baru sebelum membunuh korban-korban tersebut? Dimana menurut hasil perkiraan kematian, korban-korban ini meninggal beberapa jam setelah ditemukan."
"Itulah yang sendari tadi aku pikirkan. Selagi masih ada kode yang ditemukan pada mayat korban mereka, kemungkinan besar akan ada korban lagi."
"Apa?! Jika memang benar begitu kita harus mencegahnya. Apa isi kode ketujuh? Mungkin dengan begitu kita bisa tahu siapa target mereka selanjutnya."
"Kode kedua," kata detektif Jordan membuat rekannya ini bingung.
"Kode kedua? Apa maksudnya?"
"Apa?! Jika seperti itu kita harus memberitahu kepala polisi tentang semua ini."
Selagi para polisi itu melaporkan hasil deduksi mereka pada atasan mereka, Hedrick telah bergegas menuju kamar Sara saat ia mengetahui kalau ternyata Sara sedang hamil dan telah memasuki minggu ke 12. Ukuran perut pada masa kehamilan ini memang belum tampak jelas namun Hedrick mengetahuinya dari gerak-gerik Sara. Beberapa kali ia mengunjungi Sara entah mengapa tingkahnya mengingatkan Hedrick pada Felicia saat sedang hamil. Keyakinan Hedrick bertambah sewaktu Sara mulai ngidam sesuatu.
Rencananya eksekusi Sara akan dilakukan dua hari lagi namun setelah mengetahui hal ini, Hedrick benar-benar menjadi geram dan memutuskan untuk mempercepat eksekusi. Ia sama sekali tidak menerima anaknya lahir dari rahim wanita yang memiliki perilaku buruk seperti Sara. Tujuan Hedrick menyekap Felicia dan membuatnya hamil, itu semata-mata Hedrick memang tertarik pada kepribadian Felicia yang menurutnya sangat berbeda dari wanita kebanyakan.
"Sara!" panggil Hedrick begitu masuk ke kamar Sara.
"Hedrick?! Kenapa kau masuk tiba-tiba?" tanya Sara dengan tubuh gemetar akibat tekanan yang begitu kuat ia rasakan dari Hedrick.
"Aku tak akan basa-basi lagi. Jawab aku dengan jujur. Apa benar kau hamil?"
Sara tidak menjawab. Ia memalingkan muka nya sambil meletakan tangannya di atas perutnya.
"Tch! Melihat reaksimu ini sepertinya kau memang benaran hamil."
Sara seketika menoleh pada Hedrick dengan dahi mengkerut. "Kenapa nada bicara mu tidak senang begitu?"
"Hah? Apa kau mengharapkan aku bahagia setelah mengetahui kabar kehamilanmu ini?" Hedrick tiba-tiba mencekik Sara lalu mendorong Sara sampai membentur tembok.
"He-drick, a-pa yang kau laku-kan? Le-paskan aku," kata Sara dengan susah payahnya.
"Ketahuilah, aku sama sekali tidak bahagia," Hedrick melepaskan cengkramanya. Hal itu membuat Sara terjatuh.
"Uhuk! Uhuk!" Sara terbatuk-batuk akibat cekikan tersebut dengan nafas terengah-engah.
Hedrick kemudian menjambak rambut Sara dan menariknya kebelakang. "Jawab aku! Bagaimana bisa kau hamil? Aku cuman sekali melakukan itu padamu."
"Bagaimana bisa aku tahu? Aku saja baru beberapa minggu yang lalu mengetahui kalau hamil," jawab Sara sambil menahan sakit.
"AAH!!" dengan kesal Hedrick mendorong kepala Sara ke lantai. "Jika kau sudah tahu sejak lama, kanapa kau masih mempertahankan kandunganmu itu? Kenapa tidak langsung kau gugur kan saja?!!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε