The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Bermain dengan Elly



Felicia menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya ia kesal hanya karna melihat Hedrick dekat dengan wanita lain. Hedrick merupakan pria jahat dan dia cuman sebatas tahanan di vila tersebut. Felicia terus mengulang kalimat itu di kepalanya, tapi biarpun Felicia berkata demikian namun dihatinya berkata lain. Bayangan kedekatan Hedrick dan Elly terus berputar seperti kunang-kunang dan itu menyakitkan.


"Felicia," panggil Veeno sambil menepuk bahu Felicia.


"Uwaaaah....!" teriak Felicia sangking kagetnya. "Veeno, kau ingin aku terkena serangan jantung apa?!"


"Apa yang kau pikirkan adik ipar? Kenapa wajahmu cemberut gitu?"


"Siapa yang kau panggil adik ipar? Sejak kapan aku menikahi adikmu?"


"Kau saja sudah memiliki anak bersama Hedrick. Kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan adik ipar? Hedrick 'kan sudah aku anggap sebagai adikku sendiri."


"Hm! Kalian berdua itu sama-sama menjengkelkan," gerutu Felicia pelan.


"Apa kau tahu dimana Hedrick?"


"Ada di atas. Sedang berduaan dengan wanita lain," jawab Felicia terlihat benar-benar kesal.


"Ah... Sebab itu wajahmu jadi masam begitu. Kau cemburu?"


Felicia tersentak. "Si-siapa yang cemburu? Sembarangan saja kau mengatakan aku cemburu. A-aku tidak peduli dia mau dekat dengan siapa atau bahkan tidur dengan wanita lain! Aku... Aku tidak..." nada bicara Felicia yang tinggi perlahan menurun. "Apa yang terjadi? Kenapa dada ini sesak sekali rasanya."


"Felicia, aku mungkin tidak mengerti apa itu perasaan. Tapi melihat reaksimu ini seperti ada yang ingin kau sampaikan pada Hedrick. Aku sarankan sebaiknya kau segera mengatakannya sebelum terlambat."


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti."


"Sudah, lupakanlah. Aku mau menjenguk suamimu itu. Sampai jumpa lagi adik ipar."


"Berhentilah memanggilku adik ipar!!" bentak Felicia.


Veeno tidak mempedulikan Felicia yang terus teriak sambil marah-marah. Ia lebih memilih menemui Hedrick di lantai dua. Karna terlalu banyak kamar di lantai dua ini, Veeno tidak tahu kamar mana Hedrick berada. Ia juga tidak mungkin memeriksa satu persatu kamar karna itu merepotkan. Veeno lebih memilih menelpon Hedrick dan bertanya langsung padanya. Hedrick memberitahu kalau ia ada di kamar paling ujung sebelah timur vila. Tak menunggu lama lagi Veeno segera kesana. Sampai di kamar yang dimaksud Veeno cukup dibuat terkejut dengan percikan darah di lantai kamar didekat pintu masuk. Darah tersebut berasal dari sebilah pisau yang tak sengaja Veeno injak saat melangkah. Hedrick sepertinya sudah mulai duluan tanpanya.


"Tumben kau sudah mulai duluan, Hedrick. Kau tidak menungguku lagi?"


Veeno memungut pisau tersebut lalu berjalan mendekati Hedrick. Terlihat tepat di depan Hedrick ada seorang wanita telah tergantung dengan mulut tertutup lakban dan sekujur tubuhnya telah dipenuhi luka serta darah.


"Siapa suruh dia dengan beraninya mengatakan Felicia sebagai pembantu."


"Wah... Kau terlalu lancang nona. Felicia itu Nyonya di vila ini. Kau cari mati menganggapnya sebagai pembantu. O, iya. Ngomong-ngomong, kenapa pisaumu ada di lantai depan pintu masuk, Hedrick?" tanya Veeno sambil menujukan pisau yang ia pungut.


"Elly sedikit melakukan perlawanan saat aku hendak menikamnya di tempat tidur. Tanganku sampai terluka karna pisauku sendiri," Hedrick menunjukan bekas luka yang masih sedikit mengalirkan darah di tangannya.


"Tak bisa dimaafkan. Kau telah menghina Felicia dan melukai temanku. Seharusnya kau mendapat hukuman yang lebih sadis dari pada ini," aura membunuh Veeno mulai keluar.


"Tunggu apa lagi. Ayok ikut bergabung."


"Dengan senang hati. Tapi ada yang mau aku tanyakan. Kenapa dia cuman mengenakan pakaian minimnya? Apa kau sepat menikmati dia dulu sebelum menikamnya?"


"Tidak. Dia sendiri yang buka. Baru menutup pintu kulihat dia sudah merangkak naik ke atas ranjang sambil memamerkan dadanya yang datar itu."


"Datar?! Ukuran ini sudah masuk rata-rata!!" protes Elly dalam hati karna ia tidak dapat membuka mulutnya.


"Benarkah? Teman wanitaku itu saja harus diberi obat perasang dulu baru mau bermain. Sedangkan wanita ini malah dengan mudahnya menyerahkan dirinya. Kau itu murah sekali," ejek Veeno pada Elly.


"Emm....! Hmph...... Emmmmp......."


Entah apa yang mau Elly katakan tapi dari sorot matanya ia terlihat sangat marah. Hedrick melepas paksa lakban yang menempel di bibir Elly dalam sekali tarikan.


"Melepaskan mu? Tentu saja jawabannya tidak akan," Veeno memotong bagian tengah dari pakaian atas yang Elly kenakan menggunakan pisau ditangannya.


"AHH!" teriak Elly kesakitan karna pisau tersebut juga menggores kulitnya.


"Suaramu nyaring sekali."


"Sangat nyaring sampai memekakkan telinga. Tapi aku menyukainya. Teriaklah sekencang mungkin, sayang," kata Hedrick menggoda sambil menyemprotkan larutan NaCl alias garam ke seluruh luka Elly.


"AAAH.... Perih sekali! Hentikan itu! Hiks... Hiks.... Kenapa kau melakukan ini padaku Albert? Sakit..."


"Kenapa? Coba aku ingat-ingat. O, iya. Karna perilaku burukmu. Bukankah ibumu sudah memperingatkan untuk merubah sikapmu, kalau tidak akan menarik perhatian para pembunuh berantai. Tapi kau malah membentak ibumu sendiri."


"Serius dia membentak ibunya sendiri?" tanya Veeno dibalas anggukan Hedrick. "Wah... Kau gadis yang tidak tahu berterima kasih. Sudah seharusnya kau mendapat karma karna telah membentak ibumu."


"ARGH!!!"


Teriakan Elly kembali terdengar begitu Veeno menusukan pisau tersebut di perut Elly lalu menariknya kembali sampai darah muncrat ke wajah mereka berdua. Hedrick yang baru saja menyalakan rokoknya dibuat harus menyulut api lagi karna ujung rokoknya padam seketika akibat darah Elly.


"Ffuhh...." Hedrick menghembuskan asap rokonya ke udara. "Rasanya sungguh berbeda. Ada sensasi bau darah terbakar yang nikmat."


"Hahh... Hah.... Dasar kalian dua psychopath gila!! Ternyata kalian berdua adalah pembunuh berantai itu!" bentak Elly.


"Benar sekali. Seperti kata ibumu itu, karna sifat burukmu itulah telah memancing kami memilihmu sebagai target selanjutnya," kata Hedrick sambil menghembuskan asap rokok ke wajah Elly.


"Uhuk! Uhuk!" Elly sampai batuk karna asap tersebut.


"Kami lah si seniman yang menggemparkan masyarakat. Dan kau akan menjadi objek seni kami berikutnya," sambung Veeno.


"Sebagai hadiah, kau boleh meminta mau menjadi apa saat persembahan karya seni kami ke publik nanti? Atau ada pesan-pesan terakhir untuk ibumu?" tanya Hedrick.


"Aku mohon lepaskan aku. Hiks... Hiks... Aku minta maaf karna telah menghina wanita tadi sebelumnya. Aku sungguh tidak tahu. Ini murni cuman kesalahpahaman," kata Elly memohon sambil menangis.


"Kau minta maaf karna menghina Felicia itu wajar, tapi apa cuman itu?"


"Jika kau janji akan melepaskan ku, aku bersedia melakukan apapun. Aku akan bersujud padanya.... AAHH.......!!!"


Belum selesai Elly bicara, Hedrick mencolok mata Elly menggunakan puntung rokoknya. Tak ayal Elly kembali berteriak kesakitan.


"Bukan kalimat itu yang mau aku dengar. Mana bagian dimana kau minta maaf pada ibumu?"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε