
"Apa yang kau... Hmph!"
Tina seketika menutup mulut Amy sambil menariknya menjauh dari Sara. Ia tidak membiarkan Amy menyelesaikan kalimatnya.
"Kita bicarakan semua ini di luar. Aku punya rencana," bisik Tina pada Amy. "Mohon maafkan kami Sara. Aku harap kejadian ini tidak mempengaruhi kehamilanmu. Mulai sekarang aku yang akan bertanggung jawab atas kesehatan kau dan calon bayimu kelak. Aku ucapkan selamat atas kehamilan mu. Mr. Hedrick pasti sangat senang sekali mendengar kabar ini."
Tina berlalu pergi sambil menyeret paksa Amy yang mari meronta-ronta. Melihat keduanya sudah keluar membuat Sara menghembuskan nafas lega. Amy yang sedang marah benar-benar mengerikan. Sara terduduk lemas di lantai dengan tubuh masih gemetar ketakutan. Kejadian tadi membuat ia shock. Sara mencoba mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. Diletakan telapak tangannya di atas perutnya lalu diusapnya dengan lembut.
"Apa benar aku sedang mengandung saat ini? Dan bayi yang aku kandung ini merupakan anak Hedrick. Bagaimana jadinya kalau Hedrick tahu hal ini? Apa ia akan memperlakukan ku dengan baik sama seperti yang Tina bilang? Bukankah dengan begitu Tina maupun Amy tidak akan berani lagi padaku," Sara tiba-tiba tersenyum sambil terus mengelus perutnya berulang kali. "Hiks... Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Walau mungkin aku akan sangat membencimu karna kau merupakan parasit yang tumbuh dalam tubuhku. Tapi berkatmu aku bisa selamat dari mereka. Tetaplah sehat di dalam sana. Lindungilah ibumu ini."
Sementara itu di luar. Serasa cukup jauh dari kamar Sara, Tina baru melepaskan Amy.
"Seharusnya kau membiarkan aku mengeluarkan janin dalam kandungan Sara! Kenapa kau malah menarik ku keluar?" bentak Amy masih diselimuti amarah.
"Tenang lah dulu Amy."
"Bagaimana aku bisa tenang setelah mengetahui hal ini? Dan lagi, kenapa kau mengatakan kebohongan seperti itu pada Sara? Mr. Hedrick sama sekali tidak sudi membiarkan benihnya tumbuh dalam rahim wanita lain kecuali Miss. Felicia."
"Kau tahu itu. Maka dengarkan aku dulu. Mr. Hedrick sudah memiliki rencana lain pada Sara. Coba bayangkan jika Mr. Hedrick tahu tentang hal ini?" Tina sedikit mendorong dahi Amy menggunakan telunjuknya.
Dengan raut wajah masih masam, Amy mengusap dahinya. "Tentu saja Mr. Hedrick akan sangat marah."
"Benar sekali. Jika kau membunuh janin dalam kandungan Sara hari ini, Sara tidak akan merasakan kemarahan Mr. Hedrick. Biarlah Mr. Hedrick sendiri yang menghukum Sara. Kita cukup menikmati itu saja."
"Baiklah. Kau berhasil membujuk ku kali ini. Tapi aku tidak sudi lagi melayani wanita itu. Seperti yang kau katakan, mulai sekarang kau lah yang bertanggung jawab atas Sara," tunjuk Amy pada Tina.
"Hah... Seharusnya aku tidak mengatanya," kata Tina sambil menghela nafas. "Sebaiknya kau obati dulu lukamu. Apa yang akan dikatakan Miss. Felicia nanti jika ia melihat noda darahmu berceceran di lantai."
Amy menatapi telapak tangannya yang memang masih mengeluarkan darah. "Sangking geramnya aku sampai tidak sadar kalau tanganku terluka."
"Yang benar saja luka sebesar itu kau tidak sadar. Apa kau tidak merasakan sakit?"
"Sakit sih. Aw!" rintih Amy saat mencabut sisa pecahan cermin yang masih tertancap di telapak tangannya. Namun dari raut wajah Amy tidak tampak kesakitan sama sekali.
...⚛⚛⚛⚛...
Sepuluh hari setelah kematian Elly, Hedrick dan Veeno baru mengujugi vila kembali. Mereka sudah berencana ingin menampilkan pertunjukan seni mereka lagi, dengan korban selanjutnya adalah wanita yang Veeno sekap. Sepuluh hari tidak bertemu tidak membuat Felicia lupa soal pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Hedrick. Awalnya Felicia merasa tertipu ketika mendengar suara mobil memasuki halaman depan vila. Saat ia mengintip siapa yang keluar dari mobil tersebut ternyata cuman Veeno seorang. Ia tidak tahu kalau di dalam mobil itu juga ada Hedrick. Felicia tidak lekas turun. Ia lebih memilih melanjutkan sulamannya.
Hedrick turun belakangan karna tidak sengaja menjatuhkan hpnya. Ia cukup kesulitan mengeluarkan hpnya dari sela-sela kursi mobil. Setelah berhasil mendapatkan hpnya barulah Hedrick keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke vila.
"Eh? Mr. Hedrick juga datang. Saya pikir Mr. Veeno sendiri yang berkunjung hari ini seperti biasa," sapa Amy saat melihat Hedrick masuk.
"Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini. Bagaimana keadaan Felicia dan Daisy?" tanya Hedrick.
"Mereka berdua sehat."
"Apa yang ingin ditanyakan wanita itu?"
"Apa mungkin ia sudah memberanikan diri untuk mengatakannya?" ujar Veeno membuat Hedrick menoleh.
"Apa maksudmu, Veeno? Apa kau tahu apa yang ingin ditanyakan Felicia?"
"Tidak tahu. Tapi sebaiknya kau dengarkan langsung darinya."
"Apapun itu aku harap bukan pertanyaan yang aneh-aneh. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Sara? Apa kalian masih sering menjahilinya?" tanya Hedrick pada Tina dan Amy mengalihkan pembicaraan.
"Kami tidak terlalu sering bermain lagi dengan Sara. Ia sepertinya sudah gila. Ia sering terlihat bicara sendiri lalu tertawa tapi tak lama kemudian ia menangis," jelas Tina sambil cengir-cengir.
"Iya Mr. Hedrick. Kami sudah merasa bosan bermain dengannya. Kapan anda akan menjadikan Sara sebagai seni kalian selanjutnya," sambung Amy sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tina.
"Kalian berdua sepertinya memiliki rencana busuk. Apa yang kalian berdua sembunyikan dariku?" Hedrick mulai penasaran apa yang telah dilakukan dua pelayan mereka ini.
"Rahasia. Sampai waktunya tiba Mr. Hedrick akan tahu," kawan Amy dan Tina bersamaan.
"Mereka ini sangat mengemaskan," kata Veeno.
"Hedrick!" panggil Felicia sambil bergegas turun dari tangga.
Maksud hati Felicia turun mau mengambil minum tapi tak disangka ia melihat Hedrick di ruang tamu. Tanpa menunda lagi ia langsung menghampiri Hedrick untuk menanyakan perihal kasus pembunuhan berantai itu.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Aku sudah lama sekali ingin menanyakan ini," Felicia berhenti sebentar. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk mengumpulkan keberanian. "Apa kalian berdua adalah pembunuh berantai yang ramai dibicarakan saat ini?" tanya Felicia tanpa basa basi lagi.
Veeno, Tina dan Amy tersentak kaget mendengar pertanyaan yang meluncur keluar begitu dari bibi Felicia. Mereka tidak menyangkan Felicia malah mempertanyakan soal ini. Apa gerangan yang membuat Felicia tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa mereka sudah ketahuan? Atau jangan-jangan Felicia melihat langsung Hedrick dan Veeno membawa mayat Elly waktu itu? Tidak. Itu tidak mungkin. Mayat Elly dikeluarkan dari kamar tepat tengah malam dan lagi pula kamar tersebut terkunci. Hedrick tidak menjawab sama sekali. Datar tanpa ekspresi menatap Felicia.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε