The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Jeda sesaat



"Selagi kau menindiknya, aku mau bermain dengan ini," Veeno menunjukan sejumlah duri landak.


"Duri landak? Kau mau membuat apa?" tanya Hedrick sedikit bingung.


"Lihat saja."


Veeno kini menusukan satu persatu duri landak tersebut sampai memenuhi wajah Natasya. Sambil menahan sakit yang semakin menjadi-jadi menyiksa dirinya, Natasya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali menangis. Sekujur wajahnya dipenuhi darah segar dan duri landak. Tidak sampai disitu, Veeno mengeluarkan pisau lipat nya lalu memotong telinga Natasya sampai putus.


"Hedrick, bagaimana kalau jadikan telinga ini saja sebagai bahan koleksi?" tanya Veeno pada Hedrick sambil menggoyangkan daun telinga tersebut.


"Boleh juga. Tapi sebaiknya kau menyimpan kedua telinganya. Itu lebih bagus dipajang dalam toples kaca."


"Jadi aku harus memotong yang satu lagi. Baiklah."


Veeno kembali memotong telinga Natasya yang lain lalu meletakkannya di atas meja. Mereka berdua melanjutkan permainan sampai tak terasa hari mulai fajar. Kalau bukan karna ada jam dinding di ruangan itu mungkin Hedrick dan Veeno lupa waktu akibat keterusan bermain. Dengan berat hati mereka meninggalkan Natasya sejenak. Mereka harus kembali ke kota untuk pergi berkerja. Hedrick dan Veeno lekas membersikan tubuh mereka dan berganti pakaian. Mereka berangkat dari vila sekitar jam 05.46. Hedrick dan Veeno menancap gas mobil masing-masing dengan kecepatan tinggi agar sampai di kantor tepat waktu. Berkat melalui jalan pintas dan kelajuan mobil di atas rata-rata membuat mereka sampai lebih cepat.


Hedrick tiba di kantornya tepat waktu. Ia pergi menuju ruang kerjanya seolah-olah tidak perna terjadi apa-apa semalam. Keadaan kantor itu berjalan seperti biasa. Tidak terdengar dari para karyawan yang membincangkan soal putri Mr. Adams yang hilang. Sepertinya tidak ada yang tahu tentang hal ini atau Mr. Adams sendiri sengaja tidak memberitahukannya. Ia mungkin ingin merahasiakan kabar ini terlebih dahulu. Ia tak mau mendengar berita menyimpang yang nantinya malah akan merugikan dirinya maupun putrinya sendiri.


Tak ayal juga, belum 24 jam sejak kehilangan sebelum dapat membuat laporan ke kantor kepolisian. Em... Atau mungkin bisa. Aku lupa tentang pacar Natasya yang tergeletak dipinggir jalan. Ia pasti sudah bangun dan menceritakan apa yang mereka alami semalam dan memberitahu perihal soal Natasya yang diculik. Mr. Adams dapat membuat laporan tentang kasus penculikan dengan pacar Natasya sebagai saksi sekaligus korban penganiayaan.


"Tumben jam segini bos belum datang. Apa kau tahu kenapa?" tanya rekan kerja Hedrick disebelahnya.


"Aku juga tidak tahu. Kau tahu sendiri aku bukan tipe yang suka mengurusi masalah orang, apalagi masalah tentang bos kita."


"Hah... Salahku bertanya denganmu."


"Hei, apa kalian sedang membicarakan tentang bos?" muncul seorang wanita tepat diantara mereka berdua.


"Benar juga. Kau mungkin tahu kenapa bos terlambat hari ini. Rumahmu 'kan searah dengan rumah bos."


"Aku tidak terlalu tahu apa yang terjadi tapi sewaktu aku meninggalkan rumahku, aku melihat mobil bos melaju dengan kecepatan tinggi."


"Lalu, lalu, apa yang terjadi?" tanya wanita yang lain terlihat begitu penasaran.


"Iya. Apa yang terjadi selanjutnya?"


"Karna penasaran aku lantas mengejar mobil bos. Kalian tahu apa yang terjadi? Kulihat mobil bos berhenti di sebuah kantor polisi."


"Apa?! Yang benar saja?"


"Apa yang bos lakukan di kantor polisi?"


"Sepertinya ada masalah serius yang terjadi."


"Aku harap itu tidak menggangu perusahaan. Bisa-bisa kita bisa kehilangan pekerjaan."


"Jangan bicara seperti itu. Aku rasa masalahnya tidak mungkin sebesar yang kau bayangkan."


"Darimana kau tahu? Itu bisa saja terjadi."


Sejumlah karyawan itu terus menggosipkan bos mereka. Hedrick cukup merasa terganggu. Ia tidak dapat fokus berkerja karna mereka terus berbincang disekitarnya.


"Kenapa kalian malah bergosip disini?" gerutu Hedrick.


"Ini kopimu Drick," kata seorang wanita sambil meletakan secangkir kopi hitam diatas meja Hedrick.


"Tapi aku tidak pesan kopi."


"Aku sengaja membuatkannya untukmu. Jangan menolak."


"Terima kasih."


"Curang. Drick saja nih. Untukku mana?" protes rekan kerja disebelah Hedrick.


"Kalau kau mau buat saja sendiri," wanita itu berbalik pergi menuju meja kerjanya.


"Dasar kau ini. Aku heran kenapa kau disukai oleh para wanita? Padahal kau tidak banyak berbicara," tanya pria itu dengan suara pelan.


"Entahlah? Kalau aku banyak bicara sepertimu malah akan menjengkelkan," ujar Hedrick tanpa ekspresi.


"Secara tidak langsung kau bilang aku ini menjengkelkan."


"Bukan aku yang bilang tapi kau sendiri yang bilang."


...⚛⚛⚛⚛...


Setelah pulang kerja Hedrick kembali ke vila untuk menlanjukan permainan mereka bersama Natasya. Sampai disana ia telah mendapati mobil Veeno terparkir di garasi. Sepertinya Veeno mulai lebih awal. Hedrick hendak bermaksud menyusulnya di ruang bawah tanah namun ternyata Veeno masih duduk santai di ruang tamu sambil merokok.


"Aku kira kau sudah bermain sendiri," sapa Hedrick sambil menghampiri.


"Tidak. Aku menunggumu. Kenapa lambat?" tanya Veeno.


"Ada kecelakaan di jembatan kecil. Sebab itu aku terlambat."


"Kecelakaan? Jangan bilang kalau kau pelakunya. Hanya penduduk desa sekitar sana saja yang melewati jembatan itu."


"Baiklah. Aku tidak akan bilang."


"Hahaha.... Apa alasannya sampai kau mencelakai orang itu?"


"Karna dia mabuk. Ia mencoba memalakku. Ya sudah aku tabrak saja dia sampai ia jatuh ke sungai. Aku rasa ia tak mungkin dapat selamat."


"Pastinya. Sungai itu dangkal dan banyak bebatuan. Orang itu benar-benar sial."


Veeno beranjak dari tempat duduknya. Mereka segera menuju ruang bawah tanah tempat dimana Natasya ditahan. Saat memasuki tangan tersebut mereka lihat keadaan Natasya yang tampak tidak berdaya. Dia tidak makan seharian ini. Biarpun diantarkan makanan juga, bagaimana dia bisa makan dengan mulut terjahit seperti itu. Semua luka yang dialami Natasya telah mengering. Sejak awal Hedrick memang tidak berencana membuat sayatan besar yang dapat mengeluarkan lebih banyak darah dari tubuh Natasya atau menyerang titik-titik vitalnya agar ia cepat mati. Belum saatnya. Yang mereka inginkan adalah membuat membuat Natasya mati secara perlahan-lahan.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" sapa Hedrick.


Dengan lemah Natasya membuka matanya. Ia menatap tajam pada Hedrick dan Veeno.


"Oh, maafkan aku. Kau tidak bisa berbicara karna mulutmu terkunci rapat. Sayang sekali. Tapi kau jangan bersedih. Kami memiliki hadiah untukmu," Hedrick mengeluarkan botol kaca seukuran ibu jari. Botol tersebut berisi cairan transparan.


"Ini adalah zat hirudin, merupakan zat yang ada pada air liur lintah. Zat ini berfungsi untuk mengencerkan darah. Tapi zat hirudin yang satu ini berbeda dari zat hirudin biasa. Aku telah menyempurnakannya sehingga menjadi racun yang mematikan. Sedikit saja zat ini di suntikan ke tubuh seseorang maka dalam kurun waktu semenit seluruh trombosit di dalam tubuh akan hilang. Dan jika orang tersebut mengalami luka terbuka, maka lukanya tidak akan berhenti mengeluarkan darah," Jelas Veeno.


"Luar biasa sekali Profesor Veeno," puji Hedrick. "Bagaimana kalau kita coba saja?"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε