The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Mampir sebentar



Keesokan paginya sekitar jam 07.30 Hedrick berangkat menuju tempat kerjanya. Beberapa orang yang dikenalnya menegur sapa ia begitu berpapasan. Hedrick membalas sapaan mereka seperti biasa tanpa ekspresi. Semua orang dikantornya tahu kalau Hedrick pendiam orangnya dan cuek terhadap apa yang ada disekitarnya. Dia tidak akan mulai menegur seseorang sebelum orang tersebut menegurnya lebih dulu. Tapi biarpun begitu, semalas apapun ia, Hedrick tetap akan menanggapinya. Tak jarang karna sifat dingin dan mini berbicaranya ini membuat ia disukai oleh sejumlah wanita. Dengan wajah yang terbilang tampan dan memiliki tubuh ideal, tentu saja menjadi idaman semua wanita untuk mendekatinya. Namun Hedrick sering kali menolak secara tegas ajakan wanita-wanita di kantornya. Ia tidak suka memiliki hubungan dengan sembarang wanita dalam jangka waktu lama.


Hedrick menghampiri meja kerjanya, menyalakan komputernya dan mulai berkerja seperti biasa. 10 menit menatapi layar komputernya, pandangan Hedrick tiba-tiba teralihkan disaat bos mereka datang. Ada yang tidak biasa pagi ini. Tepat dibelakang bosnya itu ada seorang gadis remaja. Hedrick merasa perna melihat gadis itu tapi tidak ingat kapan bertemunya.


"Siapa gadis kecil itu?" tanya Hedrick pada rekan kerja disebelahnya.


"Apa kau lupa? Dia Natasya, putri dari bos kita. Ia datang kesini sebagai pekerja magang untuk tugas sekolah musim panasnya," jelas temannya itu.


"Oh... Dia gadis kecil yang sering berkunjung dulu. Dia ternyata sudah SMU."


"Dia bukan gadis kecil seperti dulu lagi. Sekarang ia sudah tumbuh menjadi remaja yang lumayan menjengkelkan."


"Tapi dia terlihat seperti gadis yang baik dan penuh keingintahuan. Aku jadi saat ia datang dulu. Mulutnya itu terus-menerus mengoceh mempertanyakan semua yang ingin ia ketahui."


"Kau belum tahu. Setiap kali ayahnya tidak ada, dia akan selalu memerintah seenaknya. Sudah beberapa hari ini ia meminta kami melakukan ini itu. Jika salah sedikit saja dia akan marah besar. Kami tentu tidak dapat berbuat apa-apa karna dia putri bos. Dia bahkan sampai mengancam kami akan memberitahu ayahnya kalau kami tidak berkerja dengan baik."


"Baru menginjak remaja dia sudah memiliki perilaku yang begitu buruk. Bagaimana saat dewasa nanti?"


"Aku tidak tahu. Mungkin aku akan mencari pekerjaan lain jika dia mengambil alih perusahaan ini."


"Itu tidak akan terjadi."


"Bagaimana bisa kau tahu? Dia putri bos satu-satunya, sudah pasti akan mewarisi perusahaan ini."


"Karna kita tahu itulah kita tidak dapat memastikan apapun yang bisa terjadi di masa depan."


...⚛⚛⚛⚛...


Pulang dari kantornya Hedrick tidak lekas pulang. Ia menyempatkan diri berkunjung ke rumah paman dan bibiknya yang ada di salah satu gedung apartemen di kota. Bukan tanpa alasan dia datang berkunjung. Ia hanya ingin menjemput Max, anjing kesayangannya. Max sengaja dititipkan pada paman dan bibi nya selama ia liburan. Max tidak terlalu suka keramaian tapi ia tidak sudi jika harus ditinggal sendirian dikabin kapal. Karna alasan ini Max tidak diajak. Sifatnya yang terlalu galak pada orang-orang baru takutnya malah akan menimbulkan masalah yang tidak dinginkan.


Theodor dan Maria adalah nama dari paman dan bibi Hedrick. Theodor merupakan adik kandung laki-laki dari ibunya. Mereka memiliki seorang putra bernama Yuval. Tahun ini Yuval baru saja mengenyam pendidikan di salah satu universitas di luar kota. Hedrick banyak berhutang budi pada keluarga kecil adik ibunya ini. Sejak kematian ayahnya, keluarga kecil inilah yang merawat dan menyekolahkannya sampai mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Hedrick tidak perna lupa akan jasa-jasa tersebut. Sering kali ia mengirim sejumlah uang untuk membantu ekonomi keluarga paman nya itu atau memberi uang jajan untuk keponakannya.


Sampai di gedung apartemen Hedrick segera naik menuju lantai 20 nomor 209. Diketuknya pintu berwarna coklat tua itu. Terdengar suara langkah kaki dari dalam lalu tak lama pintu terbuka. Seorang wanita berambut panjang terikat kebelakang menyambutnya.


"Hedrick, kau sudah pulang rupanya. Bagaimana liburan mu?" tanya Maria sambil mempersilakan Hedrick masuk.


"Aku baru tiba kemarin..."


Belum selesai Hedrick bicara Max tiba-tiba muncul lalu melompat ke arahnya. Karna tubuh dan tenaga Max yang kuat membuat Hedrick sampai terjungkal akibat dorongan dari kedua kaki depan Max. Ia sepertinya sangat merindukan tuanya dan tahu kalau kedatangan tuannya ini untuk menjemputnya.


"Maaf harus merepotkan bibi merawatnya beberapa hari ini. Aku harap dia tidak membuat masalah," Hedrick bangkit dan mengambil tempat duduk di sofa.


"Tidak merepotkan sama sekali. Max, anjing yang baik. Malah bibi senang jika dia sering berkunjung. Kau tahu sendiri pamanmu itu sibuk berkerja, sedangkan Yuval sudah menjadi mahasiswa di luar kota, bibi sedikit kesepian."


"Kenapa tidak mengadopsi hewan peliharaan saja? Atau... Berencana menambah satu anak lagi?"


"Hah, kau ini bisa saja. Lebih baik kau pikirkan dirimu. Kapan nikah, ya? Sudah punya pacar belum?"


"Ah, bibi. Aku masih ingin menikmati masa lajangku. Aku belum kepikiran untuk hidup berumah tangga."


"Jangan berlama-lama melajang nanti keburu tua."


"Alah, bibi. Umurku baru menginjak 25 tahun."


"Itu umur yang ideal untuk menikah. Aku sudah mengangapmu sama seperti putraku sendiri. Berarti anakmu adalah cucuku juga."


"Anak? Kalau soal itu..." Hedrick memutar mata dari bibinya yang terlihat berangan-angan. Ia jadi teringat pada Felicia yang sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Bayi yang Felicia kandung selama ini merupakan anaknya. "Sebenarnya bibi tidak perlu menungguku menikah jika ingin bertemu dengan cucunya."


Setelah ngobrol sesaat Hedrick hendak pamit pulang namun Maria mencegatnya. Ia mengundang Hedrick untuk makan malam bersama. Jarang-jarang Hedrick datang berkunjung. Tidak mau melihat bibi nya kecewa, Hedrick terpaksa menerima undangan tersebut. Maria dengan gembira lekas menyiapkan semua makanan yang baru selesai ia masak sebelum Hedrick datang. Tak berselang lama Theodor pulang dari kantornya. Begitu masuk ia tidak menyangka kedatangan seorang bertamu. Ia menyapa keponakannya itu dan menanyakan kabarnya. Hedrick membalas sapaan tersebut. Mengetahui suaminya telah pulang Maria lekas menyambutnya. Karna makan malam telah tersaji di meja, tanpa menunggu lama lagi Maria mengajak mereka berdua untuk makan malam. Sudah lama Hedrick tidak mencicipi masakan bibi nya. Ini mengingatkannya pada kenangan masa lalu. Yang kurang disini cuman Yuval tidak dapat ikut makan bersama mereka.


...⚛⚛⚛⚛...


Hedrick dan Veeno menyempatkan diri berkunjung ke vila. Mereka ingin mengantarkan oleh-oleh yang dipesan Sara, berupa satu set peralatan kosmetik. Sampai di vila mereka disambut oleh Amy dan Tina. Hedrick menyerahkan dua kantung belanjaan pada kedua pelayan itu. Kantung belanjaan tersebut merupakan hadiah bagi mereka karna telah berkerja dengan baik. Amy dan Tina menerimanya dengan sangat riang. Mereka bergegas pergi ke kamar mereka untuk mencoba hadiah tersebut.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε