The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Ciri khas



Tidak seperti Hedrick yang langsung menyayat bagian dada Iden untuk diambil jantungnya, Veeno lebih memilih mengeluarkan semua usus Teresa lalu memotong ginjalnya yang satu lagi. Barulah kemudian ia membedah dada Teresa. Teriakan dari keduanya tidak terdengar lagi. Tubuh mereka sudah melemah akibat kehilangan banyak darah. Namun Veeno masih bisa melihat denyut jantung Teresa yang berdetak pelan disaat ia memotongnya.


"Hedrick lihat ini.... Astaga?!"


Maksud hati Veeno ingin menunjukan jantung Teresa yang masih berdenyut itu walau sudah dipotong tapi ia malah dikagetkan begitu melihat kondisi Iden. Seluruh organ tubuhnya telah dikeluarkan lalu disusun sedemikian rupa membentuk seekor burung.


"Apa yang kau lakukan? Kita cuman mengambil organ jantung, ginjal dan matanya saja. Ini... Untuk apa semua ini?"


"Sutt... Aku sedang membuat seni. Em... Boleh aku minta usus Teresa? Aku kekurangan organ untuk bagian ekornya."


"Ambil saja."


"Terima kasih."


Sambil menunggu Hedrick menyelesaikan seninya, Veeno meninggalkan kode seperti biasa. Karna ia tidak sempat mencetak kode tersebut sebelum melancarkan aksi mereka, Veeno menggunakan darah Teresa sebagai tinta untuk menulis kode tersebut di tembok hotel. Setelah mendapatkan semua organ yang mereka inginkan, terlebih dahulu mereka membersikan diri dari semua darah yang menempel. Barulah mereka pergi meninggalkan hotel tersebut. Semua organ yang mereka dapat hari ini harus langsung diserahkan pada Mr. R untuk menjamin kondisinya.


"Lagi-lagi kau meninggalkan kode aneh itu," ujar Hedrick ditengah perjalanan mereka mengantarkan organ.


"Tidak apa juga. Bagaimana polisi tahu kalau pembunuhan itu dari orang yang sama? Karna kode itulah yang membuat pembunuhan ini menjadi menarik."


"Sebaiknya kode yang kau buat tidak mudah dipecahkan atau malah membuat kita tertangkap."


"Biarpun mereka berhasil memecahkannya juga itu tidak mengungkap identitas kita."


"Sudah seharusnya begitu."


...⚛⚛⚛⚛...


Mayat Teresa dan Iden ditemukan keesokan siangnya oleh salah satu pegawai hotel. Semua stap hotel yang terkena bius baru terbangun pagi ini disaat pemilik hotel datang dan membangunkan mereka semua. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi begitu ditanya mengapa mereka malah tertidur disana. Semuanya hanya menjelaskan kalau ada semacam asap tipis sebelum mereka kehilangan kesadaran. Pemilik hotel tersebut memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan kalau-kalau ada kemungkinan telah terjadi perampokan. Namun mereka semua dibuat bingung karna tidak ada satupun barang berharga di hotel itu yang hilang. Jadi apa tujuan dari orang tersebut membius seluruh stap hotel?


Karna tidak menemukan sesuatu yang janggal, pemilik hotel meminta seluruhnya stapnya kembali berkerja seperti biasa dan menganggap kalau kejadian ini mungkin hanya keisengan belaka dari seseorang. Tapi setelah jam makan siang, salah satu pegawai hotel dikejutkan dengan penemuan dua mayat di kamar 67 di lantai dua. Awalnya ia baru menyadari kalau kunci di kamar tersebut tampak telah dirusak. Namun begitu dibuka, ia melihat dua tubuh tanpa busana terbaring di lantai bersimbah darah. Karna terlalu takut pegawai hotel itu tidak segera masuk untuk memeriksanya. Ia lebih memilih berteriak memberitahu rekannya yang lain. Semua orang yang mendengar suara teriakan tersebut lekas menghampiri. Sama seperti pegawai hotel sebelumnya mereka semua terkejut melihat dua mayat itu. Ada beberapa diantaranya yang memberanikan diri masuk untuk memeriksanya dan salah satu dari stap yang lain diminta menghubungi polisi.


Setengah jam kemudian polisi datang dan bergegas memeriksa apa yang terjadi. Para polisi itu juga dibuat kaget saat memasuki kamar tersebut. Bukan karna kondisi dua mayat yang begitu mengenaskan tapi melainkan kode berdarah yang tertinggal di dinding hotel. Kode yang sama, itu berarti pelaku pembunuhan yang sama lagi. Salah satu polisi langsung melaporkan hal ini pada atasanya. Setelah itu mereka segera melakukan pemeriksaan dan pengambilan gambar. Selesai memeriksa dan menanyakan beberapa informasi pada stap hotel, kedua mayat korban lekas di bawah ke rumah sakit untuk diotopsi. Untuk mencega orang-orang tak bertanggung jawab merusak TKP, kamar 67 itu dipasangi garis polisi.


"Bagaimana?" tanya kepala polisi yang mengurus kasus ini tidak bersemangat.


"Untuk apa kau memberitahu ku soal siapa yang memberitahu keluarga mereka?" potong kepala polisi itu.


"Oh, itu... Ada informasi dari ibunya korban. Ia sempat menelpon putrinya pada malam itu namun yang mengangkat telpon tersebut adalah laki-laki tapi bukan pacar putrinya. Dugaan terbesar yang mengangkat telpon adalah si pelaku."


"Si pelaku ya. Mereka tanpa berdosanya masih sempat mengangkat telpon di tengah-tengah mereka menyiksa korban. Secara tidak langsung mereka telah membunuh anak di depan orang tua. Tapi tetap saja itu tidak menjadi petunjuk yang dapat mengarah ke mereka."


Polisi itu lanjut menyampaikan laporannya mengenai hasil otopsi dari rumah sakit. Ia menjelaskan semuanya dimulai dari luka-luka di tubuh korban, penyebab kematian, bagian-bagian organ tubuh kedua korban yang hilang dan spesifikasi lainnya. Melihat dari kondisi korban sudah dapat disimpulkan kalau motif dari pembunuhan itu adalah penjual beli organ tubuh manusia. Polisi itu juga menyerahkan beberapa foto olah TKP termasuk foto kode di dinding hotel.



Hampir segala cara telah dilakukan untuk memecahkan sejumlah kode yang ditinggalkan si pelaku. Namun tetap saja berakhir tidak menuju pada pesan apapun dan malah semakin tidak mengerti jika cara yang sama digunakan untuk memecahkan kode yang lainnya.


...⚛⚛⚛⚛...


Di satu sisi disaat kota dilanda kecemasan terhadap pembunuhan yang semakin menambah jumlah korban, disisi lain sang pelaku kejahatan itu malah tertawa riang karna pendapatan yang mereka peroleh. Hasil dari penjualan organ tubuh itu membawa keuntungan besar bagi mereka berdua. Hedrick dan Veeno lekas menggunakan uang mereka untuk bersenang-senang atau sekedar membeli barang-barang mewah seperti membeli mobil baru.


Agar tidak terlalu dicurigai dari mana mereka mendapatkan uang tersebut, Hedrick dan Veeno biasanya menggunakan identitas samaran dengan penampilan berbeda untuk menunjang penyamaran tersebut lebih nyata lagi. Di siang harinya mereka hanyalah dikenal sebagai salah satu karyawan biro periklanan dan stap laboratorium. Tapi malam harinya mereka adalah tuan muda misterius yang memiliki nama samaran Mr. Auxerrois (Hedrick) dan Mr. Champagne (Veeno). Hedrick dan Veeno cukup terkenal dikalangan dunia malam. Bahkan di beberapa tempat di klub malam dikota sudah tidak asing lagi mendengar nama mereka. Apa lagi dulu mereka perna membuat kehebohan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε