The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Kulit Sara



Selepas pulang kerja Hedrick dan Veeno mampir ke vila untuk mengecek pengeringan kulit Sara. Hedrick meraba tekstur dari kulit tersebut. Serasa sudah cukup kering ia mematikan lampu pemanas. Dengan hati-hati mereka melepaskan satu persatu paku supaya kulit tersebut tidak rusak. Setelah semua paku dilepas, Hedrick membentangkan kulit tersebut di lantai.


"Mau diapakan kulit ini?" tanya Veeno.


"Diantara Tina dan Amy, siapa yang pandai menjahit?" tanya Hedrick balik.


"Setahuku keduanya bisa menjahit tapi yang paling mahir sih Tina."


"Kalau begitu kita serahkan saja kulit ini pada mereka. Terserah mereka mau membuat apa."


"Baiklah biarkan aku mengantarkan kulit itu pada mereka."


Hedrick melipat kulit tersebut lalu menyerahkannya ke Veeno untuk diberikan pada Amy dan Tina. Bukannya takut apalagi ngeri atau jijik, kedua pelayan itu malah sangat senang begitu menerima kulit tersebut. Mereka merasa terhormat diberi kepercayaan untuk terlibat dala karya seni tuan mereka. Terutama Amy yang sampai melompat kegirangan. Tak mengherankan karna ia sangat membenci Sara. Setelah tahu mereka boleh melakukan apa saja pada kulit tersebut, otak Amy sudah dipenuhi berbagai macam ide-ide gila. Veeno hanya tersenyum melihatnya. Tapi ada satu peringatan yang Veeno berikan pada kedua pelayan nya itu. Jangan sampai ada setitik kecil saja noda, sidik jari, darah atau apapun yang bisa meninggalkan bukti pada kulit tersebut karna kerajinan tangan dari kulit Sara ini akan dikirim kembali ke tempat dimana tubuhnya diletakan. Amy dan Tina menganguk sebagai jawaban. Mereka menyakinkan tuannya untuk tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Mereka pasti bisa menjalankan tugas ini sebaik mungkin.


Di hari berikutnya Amy dan Tina memulai project kerajinan tangan dari kulit manusia. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan memasak, barulah mereka membuat kerajinan tangan tersebut. Kulit Sara yang yang sudah kering dipotong-potong mengikuti pola tas yang telah mereka buat sebelumnya. Iya, tas. Mereka berencana membuat tas, dompet, sepatu dan beberapa gantungan kunci dengan hiasan rambut Sara. Selesai mengguting pola kemudian masuk ke dalam proses penjahitan. Tekstur kulit Sara yang halus dan lembut membuat proses pembuatan kerajinan itu menjadi lebih mudah. Cuman yang sedikit menjadi kendala adalah kulit manusia terlalu tipis apa lagi setelah dikeringkan. Diperlukan kehati-hatian agar kulit tersebut tidak rusak selama proses pemotongan dan penjahitan.


Selagi menunggu Amy dan Tina membuat kerajinan tangan dari kulit manusia, kita kembali ke Hedrick. Dimana dia mendapat kejutan dari seseorang saat ia baru pulang ke rumahnya. Siapa itu? Hedrick akan tahu setelah ia membuka pintu rumahnya. Hedrick dibuat curiga dengan kondisi pintu rumahnya yang tidak terkunci. Seingatnya ia tidak perna lupa mengunci pintu setiap kali pergi keluar. Dengan kecurigaan Hedrick membuka pintu perlahan. Diperhatikannya dengan seksama bagian dalam rumahnya sebelum melangkah masuk. Tidak ada hal yang mencurigakan disini. Semua perabotannya tersusun rapi sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Hedrick mencoba memeriksa ruangan lain namun ia belum kunjung menemukan tanda-tanda adanya penyusup. Tapi begitu ia naik ke lantai dua, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang seketika menyambutnya.


"Kak Hedrick! Selamat datang," sambut pria itu sambil tersenyum lebar.


"Yuval?! Kapan kau datang?" tanya Hedrick yanh sangat mengenal penyusup itu.


"Baru setengah jam yang lalu," jawab Yuval sambil melangkah turun menghampiri kakak sepupunya.


"Apa paman dan bibi tahu kau pulang hari ini?"


"Mereka belum tahu. Setelah turun dari bus, aku langsung ke rumah kakak. Tapi saat aku tiba disini kakak tidak ada."


"Bagaimana caramu membuka pintu rumahku?"


"Eh... Soal itu... Hehe... Aku sedikit memiliki keterampilan membuka kunci tanpa anak kuncinya. Menerobos rumah orang bukan masalah besar bagiku."


"Hah? Untuk apa kau kau mempelajari keterampilan seperti itu? Apa kau ingin membobol rumah orang? Aku yakin di kampusmu sama sekali tidak mengajarkannya, bukan?"


"Sembarangan kakak mengatakan itu padaku. Aku ini masyarakat yang baik tahu."


"Oh, apa kau mau mengatakan kalau aku ini termasuk masyarakat yang buruk?"


"Eh? kakak ini sensitif sekali," gumang Yuval.


"Bercanda," Hedrick mengacak-acak rambut Yuval lalu mengambil tempat duduk di sofa.


"Mana ada orang bercanda dengan ekspresi datar begitu? Kakak seperti mau menelan orang."


"Mana mungkin aku mau menelan orang. Rasanya tidak enak."


"Kakak bicara seperti itu seolah-olah perna mencicipi daging manusia."


"Memang pernah," batin Hedrick. "Jadi apa alasan kau pulang hari ini?"


"Apa perlu alasan bagiku untuk pulang ke rumah?"


"Sama saja toh."


"Bagaimana sekolahmu? Jangan membuatku malu jika nilai mu jelek."


"Aku sama sekali tidak akan membuatmu malu, kak. Akan aku buktikan pada kakak, aku pasti dapat meraih gelar sebagai lulusan universitas terbaik. Berkerja di perusahaan terkenal lalu menjadi kaya. Haha... Setelah itu para wanita akan... Aduh!"


Belum selesai Yuval menyelesaikan kalimatnya, bungkus kotak rokok lebih dulu mendarat di dahinya. Hal itu seketika membuat khayalan Yuval buyar.


"Berhentilah menghayal. Lebih baik kau belajar dengan giat agar bisa mengwujudkan impianmu itu dan membuktikan semuanya. Karna aku akan sangat menantikan melihatmu sukses."


"Kakak, apa aku boleh bertanya sesuatu?" kata Yuval seketika berubah serius.


"Tanya apa?" Hedrick menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Apa kakak perna memiliki seorang pacar?"


"Uhuk! Uhuk!" sangking kaget nya Hedrick sampai dibuat tersedak saat mendengar pertanyaan tersebut. "Pertanyaan bodoh macam apa itu?!!"


"Hehe... Secara wajah kakakku ini sangat tampan, sudah pasti banyak wanita yang tergila-gila padamu, 'kan?"


"Kau ini sama seperti ibumu, tapi dari pada pertanyaan itu untukku, bagaimana dengan dirimu sendiri? Siapa gadis yang kau sukai itu?" tanya Hedrick balik tanpa basa-basi lagi.


"Hah? A-apa maksud kakak?" Yuval seketika menjadi gugup begitu mendengar pertanyaan tersebut. "Bagaimana bisa kakak tahu? Aku saja belum mengatakan apapun."


"Kau tidak bisa bohong dariku. Aku mengenalmu dengan baik. Sudah kebiasaan mu menanyakan pada seseorang, padahal pertanyaan tersebut untuk dirimu sendiri. Jika aku jawab "iya“ paling kau akan bertanya “bagaimana rasanya?“, kalau aku jawab “tidak“ kau balik mengejekku."


"Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu padamu," gumang Yuval pelan.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku barusan. Siapa wanita yang kau sukai itu?" lirik Hedrick pada Yuval.


"Tatapan kakak benar-benar tajam. Tubuhku sampai merinding dibuatnya. Apa dia juga begitu menatap para wanita? Hah... Pantas saja kakakku ini masih menjomblo sampai sekarang. Tapi, bukankah para wanita malah lebih menyukai pria es batu seperti ini?" pikir Yuval malah melamun.


"Hei! Apa yang kau pikirkan?"


Sontak Yuval seketika tersadar. "Ah, tidak. Tidak ada."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε