The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Pertengkaran sepasang kekasih



"Ooh... Hati-hati nona," ujar Veeno membuat Teresa tersentak.


"KYAAH......!" pekik Teresa sambil menutupi dirinya dengan selimut.


"Tidak perlu malu. Kami juga sudah melihat tubuhmu," kata Hedrick setelahnya.


"Kalian semua keluar!!" bentak Teresa meminta semua orang pergi.


"Keluar? Kenapa kami harus keluar?" tanya Hedrick.


"Iya. Kami belum selesai. Masih ada satu hadiah lagi dan ini untuk mu, Iden."


Veeno menyodorkan foto lainnya pada Iden. Walau sebenarnya ia tidak sudi tapi Iden penasaran foto apa itu. Ia tersentak kaget setelah melihat foto kemesraan Teresa dengan pria lain.


"Apa?!" Iden seketika melirik tajam pada Teresa.


"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Teresa dengan gugupnya.


"Ternyata selama ini kau juga selingkuh di belakangku!" bentak Iden sambil melemparkan foto di tangannya ke tempat tidur.


"Apa?! Ti-tidak! Aku tidak berselingkuh. Aku mohon percayalah padaku."


"Tidak usah mengelak lagi! Foto itu menjelaskan semuanya! Ternyata aku salah menilaimu!"


Terasa mengerutkan dahinya. "Oh, jadi kau marah? Dasar tidak tahu diri!! Kau juga berselingkuh tahu!"


Pertengkaran keduanya terjadi. Mereka saling menyalahkan antara satu sama lain. Lontaran kata-kata kasar dan sumpah serapa keluar dari mulut mereka. Iden bahkan tidak sengan-sengan menggunakan cara kekerasan pada Teresa. Hilang sudah bayangan kasih sayang mereka selama ini. Kemesraan yang perna terjalin hancur karna pengkhianatan. Hedrick dan Veeno hanya menyaksikan pertengkaran tersebut dari samping. Mereka membiarkan keduanya menyelesaikan masalah tersebut.


"Pertengkaran sepasang kekasih, ini baru menyenangkan," kata Veeno.


"Tidak ada diantara keduanya yang mau mengaku salah. Mereka saling membenarkan diri mereka sendiri. Biarpun aku sudah tidak punya hati tapi aku masih bisa merasakan kebencian dikhianati."


Perkelahian tersebut tidak berlangsung lama. Teresa turun dari tempat tidur setelah menerima tamparan keras dari Iden. Dengan air mata telah membasahi pipinya, Ia berlari dan sembunyi dibalik tubuh Hedrick.


"Aku mohon tolong aku, tuan. Pria itu sudah gila! Ia ingin membunuhku," pinta Teresa dengan sangat.


"Kenapa kalian berdua masih ada disini?! Sebaiknya kalian berdua pergi! Jangan ikut campur dan serahkan wanita itu!"


"Baiklah kami akan membantumu. Pria yang telah menyakiti hati wanita pantas untuk dihajar. Veeno," panggil Hedrick meminta Veeno mengurus Iden.


"Tidak perlu diminta juga aku ingin memukulnya," Veeno mengeretakan kesepuluh jarinya bersiap menyerang.


"Aku tidak akan akan kalah untuk kedua kalinya!"


"Banyak omong!"


Bugk!


Satu pukulan keras menghantam wajah Iden. Hal itu membuatnya kembali tersungkur ke lantai dengan gigi depannya copot. Gerakan Veeno jauh lebih cepat dari Iden. Karna ini Iden tidak sempat menghindar apa lagi menangkisnya.


"Haha... Rasakan itu!" berbeda dari sebelumnya Teresa malah tertawa melihat Iden dipukul.


"Kenapa kalian mau membantu wanita seperti dia?!" tunjuk Iden pada Teresa sangking kesalnya. "Jelas-jelas dia juga berselingkuh di belakangku!"


"Berteriaklah semau mu. Tidak ada yang membelamu disini. Sebagai laki-laki kau tetap salah," kata Teresa menambahkan.


"Sialan kau wanita murahan!"


Teresa tidak memperdulikan Iden lagi. Ia lebih memilih mendekati Hedrick dan menggodanya. Teresa menempelkan tubuhnya ke tubuh Hedrick dengan bermaksud berterima kasih.


"Pria ini tampan sekali," batin Teresa. "Terima kasih ya karna telah membantuku. Em... Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan kalian ini. Kalian bisa katakan saja apa yang kalian mau.


Aku dengan senang hati akan melakukannya, termasuk... Argh!"


Belum selesai Teresa bicara, Hedrick telah mendorongnya sampai ia terduduk di lantai. Ia mengelus punggungnya yang terasa sakit akibat menghantam sudut meja dibelakangnya.


"Menjauhlah dariku wanita kotor," Hedrick mengibas-ngibaskan jaketnya yang disentuh Teresa. "Jangan berpikir kami melakukan ini untuk menolongmu."


"Apa yang sebenarnya kalian mau dari kami?" tanya Iden dengan nada tinggi.


"Bermain," jawab Veeno sambil memutar pisau lipannya diantara jarinya.


"Permainan yang tentunya sangat menyakitkan," sambung Hedrick. Ia menggoreskan pisau lipat kesayangannya di pipi manis Teresa.


"AAH!!" teriak Teresa merasakan perih di bekas sayatan pisau yang telah mengalirkan darah itu. "Sakit sekali!"


"Teresa! Ee....! Siapa kalian ini? Kenapa kalian melakukan semua ini pada kami? Kita saja tidak saling mengenal!"


"Kalian memang tidak mengenal kami tapi kami mengenal siapa kalian," Hedrick menepuk-nepukan pisaunya di pipi Iden.


"Teresa, umur 19 tahun. Seorang mahasiswi kejurusan ekonomi dan putri kedua dari seorang derektur di perusahaan Z. Memiliki seorang pacar bernama Iden, putra ketiga dari seorang dokter spesialis organ dalam. Kalian telah berpacaran sejak masuk kuliah, tapi masing-masing diantara kalian ternyata berselingkuh. Ironis sekali," jelas Veeno secara singkat.


"Darimana kalian tahu semua itu?" tanya Teresa masih menahan perih diwajahnya.


"Bisa dibilang kami telah mengikuti kalian beberapa hari ini untuk mencari informasi."


"Aku rasa cukup basa-basinya. Bagaimana kalau kita mulai saja?" tanya Hedrick pada Veeno.


"Boleh. Kau duluan."


"Dengan senang hati."


Hedrick mengeluarkan topeng putih dari balik jaketnya lalu mengenakan, begitu juga dengan Veeno. Penampilan mereka ini membuat Iden dan Teresa kaget. Topeng putih yang familiar dan sering dibahas masyarakat, pisau lipat yang menjadi senjata andalan, perasaan Iden dan Teresa seketika tidak enak.


"To-topeng itu sama persi seperti yang diberitakan," kata Teresa sangat ketakutan saat mengenal topeng itu.


"Ja-jangan bilang kalau kalian berdua adalah pembunuh yang dicari polisi selama ini?" tebak Iden. Namun terlihat jelas di wajahnya sama ketakutannya seperti Teresa.


Hedrick melepaskan topengnya sebentar. "Oh, kalau ini memang benar kami apa yang mau kalian lakukan?"


"Sial! Hari ini aku benar-benar sial! Kenapa bisa aku berurusan dengan dua psychopath ini," gerutu Iden dalam hati. "Rumor mengatakan kalian cuman mengincar wanita yang berkelakuan buruk."


"Itu memang benar," jawab Hedrick.


"Kalau begitu lepaskan aku. Bunuh saja Teresa. Sifatnya sesuai dengan kriteria yang kalian inginkan, bukan?"


"Iden! Tidak kusangka kau malah berkata seperti itu. Kalau kau memang laki-laki setidaknya lawanlah mereka!" bentak Teresa kesal.


"Dasar wanita sialan. Mereka mengincarmu, bukan aku!"


"Sudah, tidak perlu bertengkar," rerai Veeno. "Seharusnya kami memang melepaskan mu, Iden. Tapi... Ada bisnis yang membuat kami memutuskan untuk mengajakmu sekalian."


"Tck! Semua ini salahmu! Kau yang menyeretku dalam masalah ini," ujar Iden menyalahkan Teresa.


"Hah? Aku benar-benar telah buta mencintaimu selama ini!! Kau itu tidak lebih dari seorang laki-laki pengecut!"


Adu mulut terjadi lagi antara Iden dan Teresa. Geram karna keduanya terus berteriak saling menyalahkan, Veeno menjambak rambut keduanya lalu membenturkan kepala mereka antara satu sama lain.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε