
"Tidak. Hei, ingat wanita yang aku bicarakan tempo hari? Aku berhasil mengajaknya mengunjungi vila. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju kesana. Kau akan datang?"
"Bersenang-senang dulu. Aku juga mendapatkan mangsa."
"Benarkah? Oh... Sebab itu kau ada di mall. Kau sedang berkencan dengannya?"
"Tidak. Aku datang kesini bersama Felicia."
"Felicia ada bersamamu?"
"Iya. Dia..." Hedrick tersadar kalau ia meninggalkan Felicia di toko baby shop bersama Max. "Astaga..."
"Ada apa?"
"Aku meninggalkan Felicia sendirian di toko baby shop."
"Bagaimana bisa kau seceroboh itu? Apa Felicia sudah memakai gelang yang aku buat?"
"Iya, dia memakainya. Sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir. Lagi pula Max masih bersamanya. O, iya. Aku ingin mangsaku yang menjadi seni kita selanjutnya. Tidak apa, 'kan?"
"Wah... Bagus kalau begitu. Jadi aku bisa menyimpan wanitaku untuk beberapa saat. Sudah dulu ya. Kami sudah hampir sampai di vila."
"Iya. Aku juga masih harus mencari Felicia dan Max."
Hedrick mematikan telponnya. Ia balik menghampiri Elly tapi bukan untuk melanjutkan obrolan mereka. Ia pamit undur diri dengan alasan ada urusan yang harus diselesaikannya. Sebelum pergi Hedrick dan Elly sempat bertukar nomor kontak dan berjanji bertemu lagi besok. Dengan langkah yang hampir berlari, Hedrick kembali ke toko dimana ia meninggalkan Felicia. Namun ia tidak menemukan Felicia disana.
"Kemana perginya Felicia? Wanita ini... Tidak bisa ya ditinggal sebentar saja. Ia langsung menghilang. Lihat saja nanti, aku akan menemukan mu dan menarikmu pulang."
Hedrick mengeluarkan hpnya lalu melacak lokasi dari gelang yang dipakai Felicia. Sistem pendeteksi melacak lokasi Felicia berada di lantai ketiga mall tersebut.
"Aha... Ketemu juga."
Hedrick bergegas menuju lokasi yang ditunjukan hpnya. Baru setengah jalan, titik merah yang sebagai tanda keberadaan Felicia terlihat bergerak naik ke lantai empat. Hedrick langsung naik ke lantai empat. Tapi, baru saja menginjakan kaki disana, Felicia malah turun lagi ke lantai tiga terus ke lantai dua menggunakan eskalator berbeda.
"Tidak bisa kah dia diam sebentar di satu tempat?!" geram Hedrick yang lelah mengejar Felicia.
Tapi percuma juga Hedrick marah-marah. Toh, Felicia tidak akan datang menghampirinya dengan sendirinya. Mau tidak mau Hedrick turun lagi ke lantai dua. Hampir satu jam mengejar Felicia yang tidak ada henti-hentinya bergerak kesana kemari mengunjungi setiap toko yang ada, akhirnya Hedrick berhasil menyusulnya. Felicia mampir ke kedai es krim untuk menikmati kudapan manis itu.
"Em... Es krim ini sungguh manis dan lembut," ujar Felicia yang tidak menyadari kedatangan Hedrick.
"Apakah sungguh enak? Kau sepertinya sangat menyukainya."
Seketika tubuh Felicia dibuat merinding karna hembusan nafas yang hangat di lehernya. Secara perlahan Felicia menoleh sambil memasang senyum belas kasihan dan tidak bersalah.
"He-Hedrick. Em... Mau es krim?"
"Hentikan senyum sok polosmu itu. Kau membuatku mengelilingi mall ini hanya untuk mengejarmu yang tidak perna diam di satu tempat. Apa kau tidak kelelahan?"
"Hm, jangan marah padaku. Salah sendiri juga yang hilang duluan," Felicia kembali menikmati es krimnya.
"Hah... Apa kau sudah selesai?"
"Eh... Karna terlalu asik berkeliling jadinya aku belum sempat membeli apapun. Aku bingung mau beli yang mana."
"Sudah lebih dari dua jam kau berkeliling tapi sama sekali belum membeli apapun. Jadi apa yang kau lakukan sendari tadi? Astaga... Kalian para wanita hanya suka melihat-lihat dan sulit membuat keputusan."
Tanpa bertanya lagi, Hedrick tiba-tiba menarik tangan Felicia meninggalkan kedai es krim tersebut.
"Hei! Kau mau membawaku kemana? Aku belum menghabiskan es krim ku."
Felicia tidak dapat membantah. Dengan pasrah ia membiarkan Hedrick membawanya kembali ke toko baby shop. Kali ini Hedrick benar-benar mengawasi Felicia dalam memilihkan semua keperluan untuk putri mereka. Tapi apa yang Felicia pikirkan, ia malah menanyakan pendapat Hedrick mengenai sejumlah pakaian bayi perempuan. Dan tentu Hedrick cuman menjawab...
"Beli saja jika menurutmu itu bagus," dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.
Selesai membeli perlengkapan untuk Daisy, Felicia pikir mereka akan langsung pulang. Tapi siapa sangkah Hedrick malah mengajaknya ke sebuah toko busana. Ini membuat Felicia bingung.
"Toko busana? Untuk apa kita kesini?" tanya Felicia.
"Membelikan pakaian untukmu."
Hedrick menarik tangan Felicia masuk ke toko tersebut. Seorang staf toko segera menyambut Hedrick dan Felicia dan memberi pelayanan terbaik mereka. Hedrick sama sekali tidak mempedulikan itu. Ia terlihat memilih-milih gaun yang terpajang di toko tersebut.
"Ambil ini," Hedrick menyerahkan salah satu pakaian yang menurutnya cocok untuk Felicia. "Ini juga."
Tidak hanya satu. Hedrick membelikan beberapa gaun, dress dan pakaian keluaran terbaru toko tersebut. Tidak cukup sampai disitu, ia juga mengajak Felicia mengunjungi toko lainnya seperti toko sepatu, tas dan perhiasan. Kini tangan Hedrick sudah dipenuhi tas belanjaan. Tentu ia tidak mungkin membiarkan Felicia yang membawa semua barang-barang tersebut.
"Hedrick, apa tidak mengapa kita membeli semua ini? Aku tidak terlalu membutuhkannya," tanya Felicia.
Hedrick sama sekali tidak menggubris pertanyaan itu. "Aku ingat kau sama sekali tidak memiliki peralatan make up. Semua yang ku beli kan dulu malah kau lempar keluar jendela."
Hedrick lekas mengajak Felicia masuk ke toko kosmetik begitu ia melirik toko tersebut dari kejahuan. Sama seperti setiap toko yang mereka kunjungi, seorang staf segera menghampiri mereka.
"Tolong berikan satu set peralatan make up lengkap untuk wanita ini," kata Hedrick pada staf toko itu karna ia sama sekali tidak mengerti dengan peralatan dan produk kecantikan wanita.
Setelah semuanya sudah dirasa cukup, Hedrick hendak memutuskan untuk pulang tapi ia sempa melirik sekilas penampilan Felicia dari ujuk rambut sampai kaki. Tanpa mengucapkan sesuatu, kali ini ia mengajak Felicia mengunjungi salon kecantikan.
"Selama datang. Ada yang bisa saya bantu?" ujar pegawai salon begitu menghampiri.
"Dandani dia secantik mungkin," tunjuk Hedrick pada Felicia.
"Baiklah Sir. Kami akan membuat istri anda menjadi wanita paling cantik sampai anda tidak mau berkedip karna nya."
"Oh... Benarkah? Aku sangat menantikan itu," ujar Hedrick sambil menyeringai.
"Hedrick...! Senyum mu itu menyeramkan," bisik Felicia pada Hedrick.
"Tampil lah secantik mungkin untukku, sayang," Hedrick malah menggoda Felicia sambil mencolek dagu nya.
"Hm!" Felicia memalingkan wajahnya dengan pipi memerah.
"Haha... Suami anda ini sungguh pandai menggoda. Istrinya sampai tersipu malu begitu," kata pegawai salon tersebut semakin membuat wajah Felicia memerah.
Pegawai itu mempersilakan Felicia duduk di kursi di depan cermin. Dengan keahliannya, pegawai salon tersebut mulai melakukan perawatan wajah serta rambut Felicia. Sementara itu Hedrick duduk di kursi tunggu sambil memainkan hpnya. Beberapa menit berlalu. Pegawai salon tersebut telah selesai dengan tugasnya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε