The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Berita itu tidak hilang



"Hehe... Untuk apa mempermasalahkan soal rumah ini di masa lalu. Lebih baik kita makan siang karna aku sudah lapar," kata Veeno mengalihkan pembicaraan.


"Kita pesan makanan cepat saji saja. Tidak ada bahan makanan di dapur. Aku mengosongkan kulkas sebelum liburan untuk mencegah pembusukan makanan karna di tinggal selama dua minggu."


Hedrick mengeluarkan hpnya lalu menghubungi restoran cepat saji. Begitu telpon diangkat, Hedrick menyebutkan semua pesanan yang telah mereka sepakati bersama. Setengah jam berlalu. Akhirnya pesanan mereka sampai. Mereka makan siang bersama sambil menonton tv. Selesai makan siang dan beristirahat sejenak mereka memutuskan jalan-jalan di pusat pembelanjaan. Salah satu mall terbesar menjadi pilihan mereka. Seperti para wanita pada umumnya, yang paling gembira diajak ke mall tentu saja Monica, Poppy, Hazel dan Lily. Mereka berkeliling mengunjungi setiap toko pakaian, perhiasan, tas, sepatu dan banyak lagi, membeli semua yang menurut mereka cantik dan lucu-lucu. Sedangkan untuk para pria, mereka lebih memilih mengunjungi area dimana mereka bisa nongkrong santai seperti bar atau tempat-tempat hiburan lainnya.


"Kalian rupanya ada disini. Sendari tadi kami mencari kalian kemana-mana," kata Monica sambil menghampiri bersama Poppy, Hazel dan Lily.


"Kalian borong semuanya?" tanya Ted begitu melihat para wanita ini membawa banyak tas belanjaan.


"Tempat ini sangat hebat. Aku bisa betah berlama-lama di mall ini," ujar Hazel sambil menarik kursi di samping Veeno.


"Aku juga. Aku membeli banyak oleh-oleh untuk adikku. Dia pasti suka," sambung Poppy yang mengambil tempat duduk antara Lily dan Monica.


"Baguslah jika kalian merasa senang."


"Oh, iya. Saat kami jalan-jalan tadi, kami mendengar sebagian orang membahas tentang pembunuh berdarah dingin. Benar 'kan?" tanya Lily pada yang lain untuk meminta kesaksian mereka.


"Itu benar. Menakutkan sekali. Katanya pembunuh itu mengicar para wanita. Mereka suka memutilasi para korbannya lalu membuat mayatnya menjadi seni yang mengerikan," kata Monica membenarkan.


"Tidak aku sangka ternyata berita ini masing bergemang di masyarakat. Aku kira selama kami liburan berita tersebut akan mereda sejenak," batin Hedrick.


"Apa benar itu?" tanya Ted pada Hedrick dan Veeno.


"Itu benar. Memang akhir-akhir ini menyebar berita tentang kasus pembunuhan berantai yang dilakuan oleh dua orang," jelas Hedrick menceritakan dirinya sendiri.


"Dan mereka memang telah menghantui kota ini sejak lama. Mereka akan muncul di kegelapan malam, menangkap kalian dari belakang lalu mereka akan menyiksa kalian terlebih dahulu sebelum akhirnya memotong tubuh kalian menjadi potongan kecil-kecil," ujar Veeno menakut-nakuti para wanita itu yang memang sudah sangat ketakutan.


"Veeno, jangan menakuti kami!! Bagaimana kalau pembunuh itu ada disini dan mendengarnya?" teriak Monica kesal.


Tapi bukannya berhenti Veeno malah semakin usil. "Itu benar. Mungkin saja mereka sungguh ada disini, mengintai mangsa mereka selanjutnya. Berhati-hatilah, kalian bisa saja menjadi target mereka."


"Veeno! Hentikan itu. Kau membuat kami semakin takut," kata Poppy yang bersembunyi dibalik tubuh Monica.


"Sudahlah Veeno. Kau membuat mereka takut setengah mati," kata Hedrick menghentikan keusilan yang Veeno perbuat dan sekalian menenangkan keempat wanita itu. "Kalian tidak perlu khawatir. Yang aku tahu para pembunuh itu pilih-pilih saat mencari target mereka."


"Pilih-pilih?" tanya Ted sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Iya. Dia suka dengan wanita yang memiliki sifat buruk. Contohnya cewek matrik, sombong dan pemalas," jelas Veeno sedikit melirik Hedrick.


"Memangnya kenapa mereka tidak suka dengan wanita seperti itu?" tanya Hazel.


"Mana aku tahu, aku bukan dia. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka juga mengincar wanita cantik sebagai pelampiasan nafsu mereka," Veeno kembali menakuti para gadis itu. Dengan nada menggodo ia mencolek dagu Hezel.


"Veeno!!" bentak Hazel, Poppy, Monica dan Lily bersamaan.


"Hihi..."


"Iya, seharusnya para polisi bertindak tegas dan segera menangkap kedua pembunuh itu. Ini benar-benar membuat masyarakat menjadi resah," kata Hazel.


"Polisi tentu sudah menyelidiki kasus ini sejak pertama kali muncul. Tapi mereka belum berhasil memecahkan kasusnya dan menangkap si pelaku."


"Kedua pelaku pembunuhan itu terlalu pandai sampai aparat kepolisian saja sama sekali tidak bisa melacak keberadaan mereka," kata Veeno menambahkan.


"Untung saja dikota kami tidak ada hal yang seperti itu. Kalau ada... Iiiii.... Mungkin aku tidak mau keluar rumah atau paling tidak aku pergi keluar kota," Monica tampak begidik ngeri membayangkan tempat tinggalnya ada pembunuh berdarah dingin.


"Kenapa kau takut? Melihat mu sekilas saja sama sekali tidak menggiurkan untuk menjadikanmu sebagai target pembunuhan," ujar Hedrick dengan nada ejekan.


"Apa maksudmu Hedrick?"


"Bukankah Veeno tadi sudah mengatakan kalau para pembunuh itu hanya mengincar wanita yang memiliki tingkah laku buruk. Memang kau merasa sudah memenuhi syarat sebagai target mereka?"


"Bagaimana bisa kau tahu pasti kalau kedua pembunuh itu cuman mengincar wanita berperilaku buruk? Kau bukan dia."


"Aku bukan dia? Hehe... Andai Monica tahu kalau salah satu pembunuh itu memang aku. Mungkin dia sudah berlari ke pelabuhan saat ini juga," batin Hedrick. Ia hanya tersenyum sedikit pada Monica.


"Kita tidak dapat menebak apa yang dipikirkan kedua pembunuh itu. Mungkin kebetulan saja semua korbannya saat ini merupakan wanita-wanita seperti yang kalian bilang," ujar Ted.


"Benar. Selagi mereka belum tertangkap tidak menutup kemungkinan mereka akan mencari korban selanjutnya."


"Bisa jadi. Mereka akan terus membuat teror yang menghantui seluruh wanita di kota ini."


Nada bicara Veeno seketika berubah serius dengan sorot matanya yang tajam. Hal itu membuat yang lain terdiam. Tekanan dan aura yang keluar dari diri Veeno tampa sadar telah membuat mereka merinding. Biarpun mereka telah mengenal kurang dari dua minggu ini tapi tetap saja masih banyak sisi gelap dari Veeno dan Hedrick yang belum mereka ketahui.


"Sudah cukup bahas tentang pembunuhannya. Itu juga tidak ada kaitannya dengan kalian," kata Hedrick kemudian memecah keheningan sesaat.


Mereka lanjut membincakan hal lain yang lebih nyaman sambil menyimpan pertanyaan dalam diri masing-masing sampai semuanya tersamarkan. Selesai berbelanja dan jalan-jalan sore di taman. Mereka melanjutkan dengan makan malam di sebuah restoran sebelum akhirnya mengantar mereka kembali ke kapal. Ada maksud hati Hedrick mengajak mereka menginap di rumah namun mereka menolak. Mereka beralasan takut ketinggalan kapal karna kapal akan berangkat pagi-pagi sekali. Hedrick tidak memaksa. Itu berarti ia tidak akan kerepotan mengantar mereka pagi-pagi sekali. Sampai di kapal sekitar jam sepuluh malam. Mereka berpamitan sambil melambaikan tangan antara satu sama lain.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε