
Veeno tersenyum kecil. Ia lalu memberikan kantung belanjaan yang sendari tadi ditentengnya. Hedrick menerima kantung itu dan seketika mengeluarkan isinya. Tiga buah roti selai kacang terbungkus rapi dalam kemasan plastik. Hedrick membuka satu lalu memakannya.
"Benar-benar tak terbayangkan, pria dingin sepertimu ternyata suka makanan manis," ujar Veeno saat melihat Hefrick begitu menikmati roti selai kacang tersebut.
"Memangnya kenapa? Tidak ada aturan pria sepertiku tidak boleh menyukai makanan manis."
"Memang benar sih. Tapi sebagian besar orang mungkin akan berpikiran itu aneh."
"Aku tak peduli pendapat orang lain. Aku yang hidup, kenapa mereka harus repot mengurusinya."
Hedrick membuka satu bungkus roti lagi setelah menghabiskan roti sebelumnya. Tidak ada percakapan diantara mereka berdua setelahnya. Selesai makan Hedrick melepaskan perban yang melilit sekitaran tangannya lalu menggantinya dengan plester luka. Setidaknya Hedrick tidak terlihat seperti orang yang mengalami kecelakaan parah. Untuk luka dibagian kepala, Hedrick paling menggantinya dengan perban yang dilipat-lipat kemudian ditempel menggunakan beberapa plester luka. Hedrick minta bantuan Veeno untuk melakukannya karna luka tersebut ada dibagian belakang kepalannya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu semalam? Kau pengemudi ahli dan instingmu kuat. Biarpun ada pohon tumbang, setidaknya kau akan tahu dari tanda-tandanya dan masih dapat menghindarinya. Hah... Salah satu penjaga telah menderek mobil kesini. Kulihat bagian depan mobilmu benar-benar hancur. Aku tak yakin itu masih dapat diperbaiki lagi atau tidak."
"Entahlah Veeno. Aku tidak bisa konsentrasi mengemudi semalam. Yang ada di kepalaku cuman satu, bagaimana caranya agar aku bisa segera sampai di vila? Aku sungguh tidak menyadari angin topan ternyata telah melintas di depanku dan menumbangakan sejumlah pohon. Aku tidak dapat lagi menghindarinya. Jujur saja, aku sempat kehilangan kesadaran saat itu. Setelah bangun, aku keluar dari mobil lalu bergegas menuju vila, tanpa mempedulikan lukaku lagi," Jelas Hedrick sambil mengingat kejadian semalam.
"Berarti, benar-benar suatu keajaiban ternyata kau masih bisa selamat," ujar Felicia yang telah berdiri di depan pintu kamar Hedrick. "Seharusnya kau lebih menghargai hidupmu."
"Menghargai? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Hedrick tanpa menoleh sedikitpun.
"Jangan bahayakan dirimu demi kami. Aku sudah tahu kau datang karna kau takut terjadi longsor seperti tahun lalu. Iya, mungkin kau tidak terlalu khawatir padaku tapi yang paling kau khawatirkan adalah Daisy, 'kan? Tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik. Tidak akan aku biarkan terjadi sesuatu padanya."
"Menurutmu begitu?" kata Hedrick kemudian. Ia berdiri lalu berjalan pelan mendekati Felicia. "Menjaganya sudah tanggung jawabmu. Dan siapa bilang aku datang untuk kalian? Karna aku sama sekali tidak peduli dengan hidup dan mati kalian. Sebaiknya kau memang harus bisa mengandalkan dirimu sendiri agar dapat bertahan hidup," Hedrick melangkah pergi meninggalkan Felicia.
Satu bulir air mata jatuh tanpa Felicia sadari. Dari semua kalimat yang perna Hedrick ucapankan selama ini, kalimat barusan adalah yang paling menyakiti hatinya. Baru sesaat Felicia hendak memahami Hedrick dan mungkin berniat menerimanya dalam hatinya, karna ia pikir Hedrick telah berubah sejak kelahiran Daisy. Namun Dia memang bodoh telah berpikiran seperti itu. Nyatanya Hedrick tetap saja pria yang tidak punya perasaan dan hati.
"Jangan dimasukan dalam hati ucapan Hedrick barusan. Aku mengenalnya lebih dari siapapun. Pasti ada maksud tersendiri kenapa dia berkata seperti itu padamu," ujar Veeno setelah Hedrick pergi.
"Maksud tersendiri? Dia sengaja berkata seperti itu untuk menyakitkan hatiku! Aku benar-benar bodoh menganggapnya telah berubah. Aku tidak mau peduli lagi dengannya!! Hiks... Hiks..." Felicia berlari pergi sambil menangis.
"Hah... Sebenarnya apa yang mau direncanakan Hedrick? Andai aku lebih sedikit mengerti tentang perasaan, dengan begitu aku mungkin bisa memahami keduanya."
...⚛⚛⚛⚛...
Hedrick berdiri di pembatas atap vila sambil memandang jauh ke depan. Angin berhembus lembut menggoyahkan helaian rambutnya dan terasa dingin begitu menyentuh kulit. Apakah musim gugur akan datang lebih awal tahun ini? Udara memang mulai terasa sedikit dingin, walau belum ada satupun dedaunan pohon yang menguning dan bergugur. Hedrick menghirup dalam-dalam udara segar disekitarnya, ditahan sebentar di paru-paru lalu menghembuskannya secara perlahan melalui mulutnya. Tapi bukannya merasa lega, Hedrick malah meletakan telapak tangannya di dada.
"Masih saja terasa sakit. Apa aku mengalami luka dalam? Tapi kenapa baru terasa sekarang? Sebelum ini dadaku baik-baik saja."
Hedrick dilanda kebingungan dengan perasaan sesak di dadanya, sungguh tidak nyaman. Gejala itu muncul baru-baru ini saat berjalan menuju atap vila.
"Dasar kau Hedrick. Kau meninggalkan aku sendiri," kata Veeno membuat Hedrick menoleh.
"Aku sedang tidak mau bertemu dengan Felicia. Aku tak bisa berpikir jika ada didekatnya."
"Oh, sebab itu kau menyakiti hatinya agar ia tidak terus-terusan menempel padamu."
"Aku cuman ingin dia membenciku. Semenjak lahirnya Daisy dan aku mengizinkannya merawatnya kali ini, entah mengapa dia tiba-tiba menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga yang baik."
"Bukan sudah sewajarnya naluri keibuannya muncul saat ia memiliki anak."
"Hah? Apa mungkin Felicia saat ini telah menerima mu? Kenapa tidak kau nikahi saja dia? Dengan begitu kalian resmi menjadi pasangan suami istri," sara Veeno.
"Itu satu hal yang tidak akan mungkin bisa terjadi. Aku ingin dia membenciku seperti dulu, kenapa kau malah memberiku saran untuk menikahinya?"
"Secara kau itu memang suaminya. Kalian berdua saja sudah memiliki anak."
"Daisy memang putriku tapi Felicia bukan istriku. Biarpun hari ini juga aku bertekuk lutut ingin menikahinya, dia tidak akan mungkin bersedia."
"Sepertinya kau benar, karna ia terlanjut tidak mau peduli padamu lagi."
"Baguslah kalau begitu."
"Oh, iya. Karna kau mengalami kecelakaan dan terluka, apa pertunjukan seni kita ditunda dulu untuk sementara waktu sampai kau sembuh?" tanya Veeno mengalihkan pembicaraan.
"Luka ku tidak terlalu parah, tapi mungkin aku akan kesulitan mengendarai mobil. Aku tidak akan mampu menghindari kejaran para polisi nanti. Aku bisa tertangkap."
"Itu berarti menundanya adalah pilihan terbaik."
"Tidak juga. Aku tak bilang kalau kita harus menundanya," Hedrick menyeringai kecil pada Veeno.
"Apa maksudmu?"
"Kita lakukan akhir pekan ini sesuai rencana."
"Bagaimana denganmu? Kau bilang tidak bisa mengendarai mobil karna kakimu tekilir. Jika kita tertangkap, semuanya berakhir sudah."
"Kenapa? Apa kau takut?"
Veeno diam sesaat menatap Hedrick. Persekian detik kemudian ia memutar mata. "Tch! Siapa yang takut. Tapi jangan salahkan aku jika kau tertangkap."
"Aku punya cara."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε