
"Mereka berdua benar-benar gadis yang lucu," ujar Veeno sambil melirik Amy dan Tina sampai bayangan keduanya menghilang.
"Mereka berdua mirip seperti anak kecil. Tapi mari kita lihat hasil permainan mereka selama dua minggu ini. Aku harap mereka tidak terlalu kejam pada Sara."
"Aku tak yakin Sara dalam kondisi baik saat ini. Haruskah kita bawakan kotak obat?" kata Veeno dengan nada ejekan.
Hedrick dan Veeno naik ke lantai dua menuju kamar dimana Sara disekap. Begitu pintu dibuka mereka mendapati Sara dalam keadaan sama seperti yang mereka bayangkan. Tubuh lemah terkulai dengan banyak bekas luka cambukan di sekujur tubuhnya kecuali bagian wajah. Pakaiannya compang camping, kotor dan bau. Keadaan Sara benar-benar kacau.
"Astaga, mereka sungguh bersenang-senang," kata Hedrick saat melihat kondisi Sara.
"Sara," panggil Veeno dengan lembut.
"Tidak menjauhlah dariku kalian wanita gila!" pekik Sara histeris. Ia tampaknya trauma berat.
"Tenangkan dirimu Sara, ini kami."
"Iya. Apa yang terjadi padamu?" tanya Veeno sok tidak tahu.
"Apa? Siapa?" Sara mengangkat wajahnya melihat siapa yang barusan mengajaknya bicara. "Ka-kalian?!"
"Kami sudah kembali dari liburan dan hendak mengantarkan oleh-oleh seperti yang kau minta," Hedrick memperlihatkan kantong belanjaan yang sendari tadi ia tenteng.
"Syukurlah kalian sudah pulang. Aku mohon lepaskan aku! Kedua wanita itu terus saja menyiksaku selama kalian pergi. Aku sudah tidak kuat lagi. Hiks... Hiks..." pinta Sara sambil menangis.
"Kedua wanita itu? Yang kau maksud Tina dan Amy?" tanya Hedrick memastikan.
"Iya."
"Kenapa mereka melakukan ini padamu?" Veeno membatu melepaskan ikatan yang melilit tangan serta kaki Sara. "Sudah."
"Aku juga tidak tahu. Tanpa alasan mereka datang lalu mencambuku berulang kali setiap harinya," jelas Sara. Ia mengusap air matanya.
"Kau pasti ada berbuat salah. Mereka bedua itu gadis baik. Mereka tidak mungkin melakukan hal ini padamu tanpa alasan."
"Tidak! Mereka bukan wanita baik-baik. Mereka itu adalah iblis! Mereka sudah gila! Mereka wanita gila!! Aku mohon percayalah padaku."
"Baiklah, baiklah. Aku akan berbicara dengan mereka. Kau tidak perlu takut lagi. Sebaiknya kau bersihkan dirimu dan obati semua lukamu, setelah itu kau makan."
"Aku ingin pulang. Tolong lepaskan aku. Aku janji tidak akan memberitahu siapapun tentang kalian. Aku akan menganggap semua ini tidak perna terjadi," kata Sara memohon dengan sangat.
"Sara, maaf. Kami tidak bisa melakukan itu," ujar Hedrick.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?"
"Sebenarnya kami melakukan ini demi kebaikan dirimu sendiri," bohong Veeno.
"Apa maksudmu?"
"Begini Sara..." Hedrick tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melirik Veeno yang mengangguk sekali. "Ada seseorang yang mengincar kalian."
"Iya. Dan orang itu berniat membunuh kalian. Em... Aku tidak ingin mengatakan ini tapi, Viona sebenarnya telah mati," tambah Veeno dengan raut wajah serius untuk mendalami kebohongannya.
"Apa?! Tidak mungkin!" teriak Sara tidak mau mempercayainya. "Bukankah kalian bilang dia ada di tempat lain? Bagaimana bisa dia mati?!!"
"Pihak polisi telah menyelidiki kasus ini namun sampai sekarang pembunuh itu belum juga ditemukan. Karna alasan inilah kami menyekapmu disini. Takutnya jika kau keluar pembunuh itu akan menangkapmu."
"Jangan khawatir kami telah memberitahu orang tuamu soal ini. Mereka telah mempercayakan keselamatanmu pada kami."
Sara terduduk lemas di lantai dengan tatapan kosong. "Seingatku kami tidak perna memiliki musuh atau menyinggung siapapun. Kenapa ada orang yang berniat membunuh kami?"
"Tenangkan dirimu, okey. Kami juga akan berkerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap pembunuh itu," hibur Hedrick.
Karna pikiran Sara terlalu kacau saat ini dan ditambah lagi dengan mendengar kabar kematian temannya, membuat Sara dengan bodohnya percaya pada kebohongan yang begitu nyata tersebut. Ia bahkan sampai lupa kalau sebenarnya dua pria dihadapannya ini merupakan iblis berdarah dingin. Setelah menenangkan diri Sara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu Hedrick meminta Amy dan Tina untuk menyiapkan kotak obat dan makanan bagi Sara. Mereka membiarkan Sara istirahat sejenak tubuhnya pasti lelah. Ia telah menderita selama dua minggu ini.
"Hahaha... Tidak aku sangka dia percaya kebohongan tersebut begitu saja," tawa Hedrick sambil menikmati secangkir teh di ruang tamu.
"Aku rasa otaknya sudah mulai rusak. Jika terus dibiarkan mungkin dia akan menjadi gila dan kehilangan kewarasannya."
"Ini berkat si manis-manis ini. Kalian sungguh telah membuat dia menderita."
"Ah, Mr. Hedrick terlalu menyanjung," ujar Amy dengan wajah merona.
"Iya. Kami cuman menjalankan tugas," sambung Tina.
"Dan tugas tersebut kalian jalankan dengan sangat baik. Memang pantas kami membelikan hadiah untuk kalian."
"Apa kalian suka dengan hadiah tersebut?" tanya Veeno.
"Sangat suka. Gaunnya begitu pas di tubuhku," jawab Tina.
"Apapun yang Mr. Hedrick berikan aku sangat menyukainya," kata Amy malu-malu.
"Baguslah jika kalian suka."
...⚛⚛⚛⚛...
Beberapa hari berlalu. Hedrick mulai mengerti arti menjengkelkan yang dialami rekan-rekan kerjanya. Putri dari bos mereka itu mamang sungguh membuat kesal. Mengetahui kalau Hedrick baru kembali dari liburan, Natasya malah melimpahkan semua tugas sekolahnya pada Hedrick. Mengisi data dan membuat laporan hasil mengenai tugas keseharian selama menjadi pekerja magang. Awalnya Hedrick melakukan semua tugas tanpa membanta sedikitpun namun lama-kelamaan Natasya semakin kelewatan.
Melihat karyawan ayahnya yang satu ini tidak terusik dan semua tugas yang diberikan dikerjakan dengan sangat baik membuat Natasya berani berbuat nekat. Dia berencana terus memancing kesabaran Hedrick, agar Hedrick marah dan dia bisa melaporkannya pada ayahnya. Hedrick yang telah menyadari rencana licik tersebut tentunya semakin dibuat kesal. Sudah cukup ia merasa dipermalukan dan harus menuruti semua perintah dari gadis yang baru menginjak umur 15 tahun itu. Hedrick tidak tahan lagi. Ia tidak peduli mau Natasya putri dari bosnya sendiri atau bukan, yang pasti Hedrick kini menetapkan gadis remaja itu sebagai target mereka dari seni yang berlibur.
Hedrick mulai membahas hal ini bersama Veeno dirumahnya. Mereka menyusun rencana untuk bersiap melakukan aksi mereka. Mula-mula mereka mengintai keseharian dari si target sebelum menentukan waktu yang tepat kapan aksi mereka dapat dimulai. Hal-hal apa saja yang sering ia lakukan setiap harinya mulai dari ia keluar rumah sampai kembali pulang. Tidak hanya itu, Hedrick dan Veeno juga menyelidiki setiap orang-orang yang dekat dengannya seperti keluarga dan teman sekolahnya. Tiga hari berlalu, jam 21.45. Hedrick dan Veeno siap melakukan rencana penculikan dari putri bos perusahaan biro periklanan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε