The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Nyawa sebagai taruhan



"Maafkan aku."


Hedrick yang tidak tahu apa-apa dibuat terkejut saat Mr. Hatcher menariknya diantara keramaian. Ia menepis tangan Mr. Hatcher sampai terlepas.


"Mr. Hatcher apa-apaan ini?"


"Tidak ada waktu. Kau harus... Me-nau-rie.... Denganku," Mr. Hatcher tidak sanggup mengatakan hal yang begitu memalukan itu. Ia bahkan merasa geli sendiri mendengarnya.


"Mohon maaf Mr. Hatcher, aku bukan orang yang menyimpang dan aku masih mempunyai harga diri yang tinggi!"


"Kau tidak mengerti Hedrick situasi ini sangat genting. Seluruh nyawa semua orang di pertaruhkan disini. Kau sendiri tahu apa yang terjadi sebenarnya," bisik Mr. Hatcher sambil melirik ke semua mata yang terus memperhatikan mereka.


"Kau bisa mengajak bawahanmu. Kenapa harus aku?"


"Jika bisa, sudah aku lakukan. Tapi aku diperintahkan harus mengajak salah satu tamu undangan dan hanya kau yang bisa aku andalkan. Jadi aku mohon berkerja sama lah denganku. Aku akan memberimu konvensasi yang besar dan aku pastikan apa yang terjadi malam itu tidak akan tersebar diluar sana."


"Aku tidak peduli. Jangan libatkan aku dalam masalah kecilmu atau kau malah akan mendapat masalah yang lebih besar," ancam Hedrick dengan tegas. Ia lalu berbalik pergi meninggalkan Mr. Hatcher yang terdiam diri mematung.


"Tekanan yang kuat sekali sampai aku yang telah lupa rasa takut ini dibuat merinding olehnya. Siapa dia sebenarnya? Aku harap tidak menyinggung orang yang salah," batin Mr. Hatcher.


"Mampus! Kenapa Mr. Hatcher malah memilih Hedrich?" pikir si Pengancam itu. "Sudah cukup Mr. Hatcher, tidak perlu dilanjutkan. Apa yang kau lakukan barusan benar-benar ingin memperpendek umurmu sendiri," ia segera membatalkan perintahnya.


"Memperpendek umur? Jika orang ini mengawasi setiap gerak-gerik ku sudah pasti dia tahu siapa yang coba aku ajak. Ternyata Hedrick memang memiliki identitas rahasia, dan aku baru saja menyinggungnya."


"Bagaimana kalau aku ganti saja bahan taruhannya? Tapi sebelum itu carilah tempat sepi agar kita lebih leluasa berbicara."


Memang tempat sepi lah yang Mr. Hatcher butuhkan saat ini. Ia lekas keluar dari ruang perjamuan meninggalkan semua mata orang-orang yang menatapnya penuh pertanyaan.


"Apa maksudmu menganti bahan taruhannya?" tanya Mr. Hatcher begitu ia ada di lorong.


"Saat ini putramu ada padaku. Jadi..."


"Putra? Aku tidak memiliki seorang putra," potong Mr. Hatcher.


"Wah... Wah... Ternyata kau sama sekali sudah tidak menganggap dia sebagai putramu. He, sudah 10 tahun juga sejak kau mengusirnya dari rumah."


"10 tahun yang lalu? Siapa kau ini sebenarnya? Bagaimana bisa kau bersama putraku?!"


"Sepersekian detik yang lalu kau menyangkalnya dan sekarang kau malah mengakuinya."


"Apa yang kau mau?"


"Aku ingin kau membuat pilihan. Jika diantara ketiga pilihan ini hanya ada satu yang bisa kau selamatkan, apa yang kau pilih? Pertama perusahaanmu, kedua nyawa semua tamu undangan di pesta itu dan ketiga nyawa putramu. Apa yang kau pilih, itulah yang selamat malam ini."


"Keterlaluan!! Berani sekali kau menggunakan nyawa seseorang sebagai bahan taruhan!"


"Pikirkan saja baik-baik. Nyawa mereka ada di tanganmu. Tapi jika kau tidak memilih itu berarti kau siap kehilangan semuanya."


Mendengar peringatan tersebut semua orang seketika panik dan berhamburan menuju pintu keluar. Namun belum sempat ada satupun orang yang berhasil keluar, setiap pintu tiba-tiba terbanting dan terkunci. Sejumlah orang berusaha membuka paksa semua pintu yang ada namun berakhir sia-sia.


"Bagus sekali Mr. Hatcher. Kau berpikir memilih menyelamatkan perusahanmu lalu memperingatkan semua orang untuk keluar dari tempat itu. Kau lumayan pintar tapi kau telah membuat satu kesalahan fatal. Kau sama sekali tidak memikirkan untuk menyelamatkan putramu. Kau lebih mementingkan perusahaan mu itu dari pada putramu sendiri. Sungguh menarik. Jadi selamat tinggal."


Boom....!


AHH....!


Teriakan semua orang mengisi ruangan namun bukan karna ledakan tapi melainkan akibat sistem pendeteksi asap tiba-tiba aktif dan menyemprotkan sejumlah air seperti hujan. Mr. Hatcher terdiam diri dalam guyurang air yang terus berjatuhan membasahi mereka semua.


"Kau menipuku!! Sejak awal memang tidak perna ada bom diruangan ini!" bentak Mr. Hather meluapkan emosinya yang sendari tadi tertahan.


"Mungkin Soal bom itu aku memang menipumu tapi tentang pilihanmu tidak. Sejak awal aku sama sekali tidak melibatkan seluruh nyawa tamu undangan. Seandainya kau memilih antara perusahaan atau putramu, semua tamu undangan tetap tidak akan terancam bahaya. Tapi kau lebih memilih menyelamatkan perusahaan dari pada putramu sendiri."


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan ini?"


"Yang mau aku katakan adalah Mr. Hatcher bahwa putramu telah tewas. Sesuai pilihan mu."


"Apa?! Tidak mungkin. Kau bercanda, 'kan?" Mr. Hatcher tersentak tak percaya.


"Tidak perlu kaget seperti itu. Kau juga tidak mengakuinya lagi sebagai putramu, 'kan? Aku rasa sudah cukup sampai disini. Selamat tinggal."


Si pengancam itu memutuskan telponnya seperti tidak merasa bersalah. Mr. Hatcher yang menerima kabar kematian putranya dibuat terduduk lemas di lantai yang dingin dan basa. Ia tak menyangka orang yang pengancamnya itu benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Mr. Hatcher tidak peduli dengan kericuhan yang ada sekitarnya akibat sistem pendeteksi asap yang masih menyemprotkan air. Putra pertama yang pergi meninggalkan rumah sejak 10 tahun yang lalu kini akan pergi selamanya dan tak akan mungkin kembali lagi. Ia memang masih tidak bisa memaafkan keputusan putranya itu yang tidak mau melanjutkan bisnis keluarga namun dalam hati kecilnya sebenarnya ia menyayangi putranya itu. Rasa penyesalan kini menyelimuti hatinya. Sementara itu Hedrick yang ikut terjebak dalam ruang perjamuan hanya bisa terdiam dalam guyuran air. Ia mulai menyadari sesuatu yang janggal dari apa yang terjadi malam ini.


"Tunggu dulu kenapa aku merasa tahu siapa yang mengancam Mr. Hatcher dan dalang dibalik semua ini. Tidak salah lagi pasti Veeno yang melakukannya! Hanya dia yang berani mengerjai Mr. Hatcher di kota ini. Dan lagi ia juga memiliki dendam dengan keluarga Hatcher. Pantas saja dia tidak mau ikut saat aku mengajaknya, ternyata ia memiliki rencana lain. Eee....! Veeno!! Dia tahu aku ada di pesta ini tapi masih melancarkan aksi jahilnya! Atau, jangan-jangan dia sengaja? Veeno....!! Aku akan menghajarmu!"


...⚛⚛⚛⚛...


Setelah malam pesta perjamuan itu Veeno tiba-tiba menghilang tampa kabar. Sudah lebih dari lima hari Veeno tidak dapat dihubungi. Hal itu semakin meyakinkan Hedrick kalau kejadian waktu itu memang ulah Veeno. Ia sengaja menghilang untuk menggindari amarah Hedrick. Rencananya Veeno tidak ingin bertemu Hedrick paling tidak lebih dari seminggu sambilan mencari target baru mereka.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε