The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Tawa dalam goa



"Amel! Bajingan kau!! Lepaskan dia!" bentak Aurel hendak menyelamatkan temannya namun Veeno sudah mengacukan pedangnya ke tenggorokan Aurel.


"Kau bermain denganku manis. Jangan coba-coba untuk melawan atau kau akan mendapatkan penderitaan yang lebih kejam lagi," ancam Veeno dengan tatapan membunuh.


"Lakukan saja! Langsung bunuh aku jika kau mau! Tapi jangan perna berpikir ingin melecehkan ku!" teriak Aurel sambil melotot pada Veeno.


"Hah? Apa yang kau pikirkan nona?" tanya Hedrick menoleh pada Aurel dengan raut wajah datar. Itu membuat Aurel bingung.


"Frrt... Hahaha......" Veeno tertawa terbahak-bahak semakin membuat Aurel bertambah bingung.


"Apanya yang lucu?!"


"Kau lah yang lucu. Siapa juga yang mau melecehkan mu? Kau pikir dengan tubuhmu itu dapat menarik perhatianku? Sama sekali tidak ada yang menarik!"


"AAH!!"


Teriakan Aurel menggema di dalam goa begitu Veeno menggoreskan pedangnya dari bawah tenggorokan Aurel sampai ke perut. Goresan tersebut cuman sebatas ujung pedangnya saja, tidak sampai melukai organ vital Aurel. Tapi tetap saja menyakitkan. Bahkan tubuh Aurel sampai melemah drastis akibat darah terus-menerus keluar dari tubuhnya. Ia tergeletak di tanah tak berdaya dengan nafas tak berarturan.


"Au-rel..." panggil Amel dengan susah payahnya menahan sakit ketika ia menggerakkan mulutnya.


"Tak pelur sedih. Kau juga akan merasakannya."


Hedrick menyeringai lalu mengayunkan pedangnya menebas tangan kanan Amel. Tak dipungkiri Amel berteriak kesakitan. Tidak cukup sampai disitu Hedrick juga menebas tangan kiri serta kedua kaki Amel. Setelah itu Hedrick memungut sebelah kaki Amel dan menggoyang-goyangkannya dihadapan pemiliknya. Amel hanya memalingkan muka tak sanggup melihat tubuhnya telah terpotong-potong.


"Ambil ini Max.".


Hedrick melemparkan kaki tersebut ke arah Max. Dengan beringas Max mengoyak-ngoyak kaki itu dan terkadang melemparkannya ke udara seperti mainan saja. Tidak hanya itu Max malah membawa potongan kaki Amel yang lain keluar dari goa. Entak kemana ia membawanya, Hedrick membiarkan itu.


"Hei, kau jangan mati dulu. Ayok bangun," kata Veeno mencoba membangunkan Aurel dengan cara menendang-nendang bagian tubuhnya. Namun Aurel tidak kunjung terbangun.


"Dia masih bernapas," kata Hedrick saat meletakan telunjuknya di bawah hidung Aurel. Terasa hembusan kecil nafas disana.


"Karna itu aku coba membangunkannya tapi ia tidak kunjung membuka mata."


"Punyaku juga sudah memejamkan mata. Bagaimana kalau kita lihat jantungnya apa masih berdetak atau tidak?" saran Hedrick.


"Ide bagus."


Hedrick dan Veeno sepakat membedah tubuh Amel dan Aurel untuk melihat detak jantung mereka. Tapi karna terlalu bersemangat Hedrick malah tidak sengaja memotong jantung Amel sampai terbelah dua. Darah seketika mencrat menutupi hampir seluruh wajah Hedrick. Veeno yang melihat itu dibuat tak kuasa menahan tawa. Wajah Hedrick benar-benar lucu diselimuti darah segar sampai ke rambutnya. Hedrick menyekat darah di wajahnya menggunakan tangan tapi bukannya menghilangkan darah tersebut, wajah Hedrick sepenuhnya ditutupi warna merah. Tak ayal tawa Veeno semakin menjadi.


"Berhentilah tertawa!" bentak Hedrick sangking kesalnya.


"Maaf, maaf. Habis wajahmu sungguh lucu sekali. Aku tidak bisa berhenti tertawa melihatnya. Hahaha......"


Veeno masih terus tertawa dengan lucunya. Apa lagi ditambah raut wajah Hedrick yang cemberut itu semakin membuat Veeno terbahak-bahak. Muncul ide jahil dalam kepala Hedrick. Ia melumuri tangannya dengan darah Amel lalu mengoleskannya ke wajah Veeno sampai seluruh wajah serta rambut Veeno berwarna merah.


"Haha... Rasakan itu. Sekarang wajahmu juga bermandikan darah."


"Hedrick!"


"Sial, pedangku jadi hilang terbawa arus. Padahal aku baru membelinya bulan lalu," keluh Hedrick sambil memeras bajunya.


"Ini juga karnamu yang mendorong ku. Pedangku juga hilang tahu."


"Kau yang jatuh, kenapa ikut menariku?"


"Alah, untuk apa juga memikirkan soal pedang itu. Aku bisa membelikan yang baru untukmu. Ada untungnya juga kita kecebur di sungai. Itu membantu menghilangkan sisa darah ditubuh kita. Dengan begini kita bisa pulang tanpa harus dicurigai Felicia. Sebaiknya kita kembali ke vila. Aku ingin mengeringkan tubuhku dan minum secangkir kopi panas."


"Aku masih harus mencari Max. Dia mungkin sedang memancing para serigala ke goa."


"Tidak perlu mencarinya. Itu dia disana," tunjuk Veeno ke arah Max yang muncul keluar dari dalam hutan.


Max bergegas berlari menghampiri tuannya. Mumpung mereka masih di dekat aliran air, sebelum kembali Hedrick terlebih dahulu membersikan bulu-bulu Max dari sisa darah yang menempel. Hari telah menjelang malam disaat Hedrick dan Veeno sampai di vila. Mereka lewat pintu belakang untuk mencegah Felicia tahu kepulangan mereka. Tapi sewaktu mereka sampai di tangga yang menghubungkan lantai atas dan bawah, mereka dikagetkan dengan suara dari atas.


"Dari mana saja kalian? Kenapa kalian pulang dalam keadaan basa kuyup seperti itu?" tanya Felicia yang berdiri ujung tangga atas.


"Ini semua karna suamimu. Dia mendorong ku jatuh ke sungai," kata Veeno mengaduh duluan.


"Kau menyalahkan ku duluan? Aku ikut basa juga karna kau menarik ku jatuh ke sungai," protes Hedrick.


"Aku tidak mau basa sendirian."


Saling cek-cok kembali terjadi antara Hedrick dan Veeno. Mereka terus saling menyalahkan dan siapa yang mulai duluan. Felicia hanya bisa menghela nafas sambil berbalik pergi mengambil handuk.


"Hah... Entah mengapa terkadang mereka seperti anak kecil," gumang Felicia. Saat ia kembali Hedrick dan Veeno terlihat masih bertengkar. "Ini tangkap!"


Felicia melemparkan handuk yang diambilnya begitu saja ke arah Hedrick dan Veeno secara bergilir. Karna Felicia lebih dulu melemparkan handuk itu dari pada memberitahu, hal hasil handuknya malah mendarat di kepala keduanya. Pertengkaran mereka seketika terhenti. Hedrick menurunkan handuk dari kepalanya lalu melirik tajam pada Felicia yang ada di lantai dua.


"Begitukah caramu memberikan handuk padaku?! Dengan melemparkannya begitu saja!"


"Salah sendiri tidak menangkapnya. Sebaiknya kalian keringkan tubuh kalian dan ganti baju. Jika tidak kalian bisa masuk angin," Felicia berlalu pergi meninggalkan Hedrick yang bermuka masam.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε