The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Riang penyimpanan jetski



"Tidak aku sangka ia akan muncul dengan sendirinya. Tapi dimana orang yang aku perintahkan untuk membuntuti Hedrick?" batin Ricardo.


"Aku juga tidak. Jadi tuan muda, apa tujuanmu datang kemari dan mencari ku?"


"Dari raut wajahmu seharusnya kau sudah tahu apa tujuanku mencarimu. Tentu saja ingin membalas dendam. Kau mempermalukanku dihadapan semua pengunjung kapal dan juga kau telah membunuh dua anak buahku!!" tunjuk Ricardo pada Hedrick.


"Kau benar. Aku sudah tahu semuanya sejak awal. Bahkan sebenarnya aku sengaja menunggumu disini."


"He. Jika kau sudah sejak awal tahu, kenapa kau tidak lari? Lihatlah semua orang dibelakang ku ini. Mereka merupakan pengawal pribadi yang telah terlatih secara khusus dan kau hanya sendirian. Kau tidak akan memiliki kesempatan untuk lari lagi Hedrick. Aku pastikan kau mati hari ini!!"


"Hahaha.... Mau membunuhku? Butuh waktu seratus tahun bagimu untuk dapat membunuh ku. Asal kau tahu saja, aku sendiri yang memanggilmu kemari," Hedrick menunjukan hp anak buah Ricardo yang membuntuti mereka.


"Tidak mungkin?! Bagaimana bisa? Kau... Hp itu..." dari raut wajahnya Ricardo cukup terkejut mendengarnya.


"Sangat mungkin. Siapa mengirah kalau bawahanmu itu begitu lemah. Dia berhasil dikalahkan dengan sangat mudah."


"Dimana dia sekarang?!!" tanya Ricardo dengan nada tinggi.


"Maaf saja, aku tidak bisa mempertemukan ia denganmu karna dia sudah mati. Mungkin saat ini mayatnya telah dicabik-cabik oleh ikan."


"Kurang ajar kau Hedrick!!! Kalian semua serang dia! Balas kan dendam kematian rekan kalian!" perintah Ricardo pada semua anak buahnya.


Lima orang yang ada dibelakang Ricardo segera maju hendak menyerang Hedrick. Namun di waktu bersamaan Veeno muluncurkan tembakan dan seketika melumpuhkan seluruh pengawal yang tampak Ricardo bangga-banggakan. Melihat sebuah bawahannya tewas membuat Ricardo gemetar ketakutan. Sudah terlambat baginya untuk menyadari kalau yang sedang dihadapainya saat ini bukanlah manusia tapi melainkan iblis berdarah dingin.


"Ini sangat mudah," ujar Veeno yang keluar dari tempat persembunyiannya.


"Sekarang giliranmu," Hedrick berjalan mendekati Ricardo yang tampak perlahan telah melangkah mundur dengan kaki gemetar. "Tidak apakan Veeno kau membereskan ke lima mayat itu sendirian?"


"Jangan pedulikan aku. Selamat bersenang-senang kawan."


"A-apa yang mau kau lakukan padaku? Kuperingatkan kau! Aku adalah tuan muda dari..."


Dor!


Sebelum Ricardo menyelesaikan kalimatnya, Hedrick telah menembak kaki Ricardo. Hal itu membuat Ricardo terjatuh dengan darah mengalir dari kakinya yang terluka.


"ARGHH ! ! !" pekik Ricardo kesakitan. "Ka-kau berani menembak ku?!! Lihat saja aku akan melaporkanmu pada polisi! Kalian pasti dihukum sangat berat atas tindak pembunuhan!" ancam Ricardo sambil mengeluarkan hpnya.


Dor!


Dengan ekspresi dingin Hedrick kembali meluncurkan satu tembakan dan kali ini mengenai tangan kanan Ricardo. Hp yang ia keluarkan terpental jauh.


"AAAHHHH ! ! !"


"Memangnya kau memiliki kesempatan untuk melapor pada polisi? Kalaupun bisa, sudah lama aku dan Veeno tertangkap selama ini. Ketahuilah, kami ini profesional dan kau bukan orang pertama yang menjadi korban kami. Jadi tidak perlu repot-repot mengganggu orang-orang di kantor kepolisian. Kami akan mengurus mayatmu dengan baik. Tapi sebelum itu kau harus menderita dulu."


Dor!


Satu tembakan kembali terdengar. Tima panas itu menembus perut Ricardo. Darah berwarna merah terang telah menodai pakaiannya. Tidak sampai disitu, tanpa basa basi lagi Hedrick terus menembakan seluruh peluru yang ada di dalam pistol nya sampai habis. Namun walaupun begitu tidak ada satu pun peluru yang melukai organ vital Ricardo. Tapi tetap saja tubuhnya melemah akibat semua lukanya mengeluarkan banyak darah. Ini lah yang Hedrick mau. Ia ingin membuat Ricardo tersiksa terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mati karna kehabisan darah.


Sambil menunggu Ricardo mati, Hedrick membantu Veeno membereskan kelima mayat anak buah Ricardo. Karna minimnya alat yang dimiliki, Veeno jadinya tidak dapat memotong bagian-bagian tubuh dari mayat-mayat tersebut. Memutilasi tubuh manusia merupakan kesenangan Veeno tersendiri. Tidak heran kalau semua korbannya selalu ditemukan dalam keadaan tidak berbentuk lagi.


Selesai membantu menyurus kelima mayat itu, Hedrick berbalik untuk memeriksa kondisi Ricardo. Saat didekati keadaan Ricardo terlihat memprihatinkan. Matanya telah terpejam namun nafasnya masih ada walau sangat lemah. Hedrick menyeret seongok daging tak berarti baginya itu lalu melemparkannya begitu saja ke laut. Dengan begini tugas mereka selesai. Tinggal membereskan tempat kejadian perkara dan menghilangkan seluruh bukti yang mengarah pada mereka. Hampir jam tujuh malam mereka baru kembali ke kamar. Mereka bergegas mandi secara bergantian sebelum pergi ke ruang makan. Seperti tidak perna terjadi apa-apa Hedrick dan Veeno dengan santai nya pergi ke meja mereka seperti biasa.


...⚛⚛⚛⚛...


Pagi ini Hedrick bangun pagi sekali hanya untuk jogging sebentar mengitari kapal. Cahaya mentari perlahan mulai menghangat begitu menyentuh kulit. Angin laut bertiup kencang memainkan helaian rambut Hedrick yang telah basa oleh keringat. Ia istirahat sebentar di sebuah kursi yang tersedia dibeberapa tempat di penjuru kapal. Sambil melepas lelah Hedrick meneguk minuman kemasannya untuk menghilakan dahaga.


"Hedrick!" panggil Monica


Hedrick menoleh begitu namanya di panggil. Terlihat Monica berlari menghampirinya.


"Kebetulan kita bertemu disini," ujar Monica dengan nafas yang lelah akibat berlari.


"Ada apa mencariku?"


"Tidak. Aku cuman mau tanya. Apa kau melihat Ricardo? Sejak kemarin sore aku tidak melihatnya."


"Oh, kalau soal itu aku juga tidak tahu," bohong Hedrick.


"Begitu ya."


"Kenapa tidak kau telpon saja dia?"


"Sudah berkali-kali aku aku menelpon dia namun tidak diangkat. Bahkan seluruh pengawal yang mendampinginya juga tidak ada. Ini aneh sekali."


"Ricardo mengajak pengawal?"


"Iya. Kau tahu 'kan kalau dia itu tuan muda dari keluarga kaya, tidak mengherankan dia memiliki sejumlah pengawal untuk melindunginya."


"Kalau begitu tidak perlu mengkhawatirkan dia. Ricardo memiliki pengawal yang dapat melindunginya. Tidak akan terjadi sesuatu padanya, iya 'kan?" Hedrick mencoba meyakinkan Monica agar tidak terus memikirkan Ricardo.


"Mungkin kau benar tapi Ricardo itu sedikit sombong orangnya. Aku takut dia nanti menyinggung orang yang salah."


"Dia memang telah menyinggung orang yang salah dan telah menerima akibatnya," batin Hedrick. "Itu masalahnya, kenapa kau malah sibuk memikirkannya? Dia berani berbuat juga harus berani menerima akibatnya. Lebih baik kau menikmati sisa liburan ini dengan bahagia."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε