
"Oh," Mr. Hatcher menghampiri foto itu lalu mengambilnya. Ditatapnya foto tersebut dengan kerinduan. "Ini adalah foto putra pertama saya. Ia meninggalkan rumah kurang lebih 10 tahun yang lalu."
"Banar juga. Kenapa aku bisa lupa?" batin Hedrick. "Maafkan saya Mr. Hatcher. Saya tidak bermaksud..."
"Tidak apa. Dia sendiri yang memutuskan pergi untuk dari rumah."
Suasana disekitar mereka berubah redup. Untuk mencairkan suasana Hedrick mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mempertanyakan salah satu barang antik di ruangan itu. Mr. Hatcher menanggapinya dengan ramah. Ia tidak segan membahas barang antik tersebut sampai ke sejarahnya. Dengan kecakapan bahasa Hedrick yang terlatih dalam menghadapi berbagai watak kliennya membuat ia dengan mudah bersahabat pada siapa saja. Tidak sampai beberapa menit obrolan mereka tentang barang antik berubah menjadi asik. Yang jadi canggung hanyalah Anita. Ia tidak terlalu paham tentang barang-barang antik. Ia cuman mengangguk sana sini dan sedikit memberi pendapat.
...⚛⚛⚛⚛...
Berkat keberhasilan kerja sama dengan Mr. Hatcher siang tadi, Mr. Adams mentraktir mereka makan malam. Jam 20.30 Hedrick pamit pulang pada semuanya dengan alasan anjing di rumahnya tidak suka ditinggal lama-lama sendirian di malam hari. Dengan sedikit kecewa Mr. Adams mempersilakan Hedrick pulang. Sampai di rumah, Hedrick cukup dikagetkan begitu melihat lampu depan menyala. Max memang sudah terlatih untuk menekan sakral lampu tapi cuman lampu ruang tamu saja. Kira-kira siapa yang datang bertamu ke rumahnya? Apa itu paman Theodor dan bibi Maria? Tidak ada cara lain selain masuk dan mencari tahu. Begitu pintu dibuka Max langsung menyambut tuannya.
"Akhirnya kau pulang juga Hedrick. Aku sudah lama menunggumu" sambut Veeno yang duduk di sofa dengan mulut penuh keripik kentang.
"Apa yang kau lakukan di rumahku dan sejak kapan?" tanya Hedrick sambil mengambil tempat duduk di sebelah Veeno.
"Aku bosan sendirian di rumah. Jadi aku datang kemari setelah pulang kerja. Kemana saja kau? Kenapa jam segini baru pulang?"
"Bosku mentraktir kami makan malam. Mau tidak mau aku harus ikut."
"Tumben. Memangnya ada acara apa?"
"Tidak acara apapun. Siang tadi aku cuman mampir ke kediaman Hatcher untuk membahas tentang rancangan iklan untuk produk minuman beralkohol mereka dan Mr. Hatcher menyukai rancangan ku."
"Hanya itu? Bosmu ternyata terlalu berlebihan cuman karna keluarga Hatcher memilih biro periklanan mereka untuk membuat iklan produk terbaru perusahaan Hatcher."
"Tidak mengherankan juga karna keluarga Hatcher merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di ibu kota. Memiliki koneksi dengannya merupakan suatu keuntungan besar bagi perusahaan."
"Iya mereka memang kaya," jawab Veeno tampak tidak tertarik sama sekali.
"Kau tahu Veeno. Aku melihat Mr. Hatcher masih menyimpan foto putra pertamanya. Ia terlihat begitu merindukan putranya itu."
"Apa peduli ku soal itu? Kenapa kau mengatakan ini padaku? Aku saja tidak mengenal mereka."
"Tidak, aku cuman bermaksud..."
Kriiiing......
Hp Veeno berdering membuat Hedrick tidak melanjutkan kalimatnya. Veeno segera mengangkat telpon tersebut.
"Halo. Iya Mr. R, ada yang bisa kami bantu?"
"..."
"Kapan kau membutuhkannya?"
"..."
"Ah, baiklah Mr. R. Kami akan mendapatkannya dan segera mengirimkannya padamu."
"..."
"Ooh... Apa itu? Apa Mr. R meminta mencarikan organ tubuh lagi?" tebak Hedrick.
"Iya, tapi kali ini cukup banyak. Ia meminta beberapa organ tubuh terutama ginjal."
"Berapa banyak? Kita saja belum menemukan target yang cocok beberapa hari ini."
"Dia tidak minta sekarang. Semua organ tersebut cuman untuk menambah persedianya yang kosong."
"Baguslah kalau begitu. Itu berarti kita tidak perlu terburu-buru."
...⚛⚛⚛⚛...
Dua hari setelahnya Veeno menelpon kalau ia telah menemukan target baru. Seorang mahasiswi semester pertama yang sering bolos hanya agar dapat keluar bersama pacarnya. Hari ini Veeno mengajak Hedrick memata-matai target mereka itu namun Hedrick menolak. Bukan tanpa alasan, ia masih harus membahas tentang rancangan iklan bersama Mr. Hatcher. Kemungkinan besok mereka baru akan memantau target yang dimaksud. Veeno menyetujuinya walau sedikit kecewa. Ia sebenarnya tidak sabar ingin bermain lagi.
Untuk menghibur dirinya Veeno pergi ke suatu tempat di pinggiran kota. Tempat yang kumuh dan banyak bangunan terbengkalai. Setiap bangunan di sana bercoretkan kreatifitas para remaja-remaja nakal yang tidak bertanggung jawab. Di dinding bangunan itulah mereka mengutarakan ide-ide liar mereka dari tahun ke tahun. Veeno sering datang ke tempat itu hanya untuk mengenang masa lalu. Dulu tempat itu bisa dibilang sebagai rumahnya. Sekarang banyak yang telah berubah.
Bangunan-bangunan rumah penduduk kini tinggal dinding-dindingnya saja yang diselimuti semak belukar. Masih ada sisa-sisa kebakaran dan puwing-puwing yang berserakan dijalanan berdebu. Benar, dulu perna terjadi kebakaran di sana. Kebakaran yang sangat hebat. Veeno tidak dapat melupakan peristiwa itu, karna kebakaran itulah ia harus kehilangan rumah serta harta bendanya. Baru dua tahun ini dia dapat membeli rumah baru. Selama ini ia tinggal bersama Hedrick.
"Hei, kau tidak boleh berada di sini."
"Iya. Ini wilayah kami."
Lamunan Veeno buyar saat beberapa pria datang menghampiri. Segerombolan pria berpakaian seperti preman itu tampak menenteng tongkat baseball. Veeno cuman tersenyum kecil. Kebetulan sekali suasana hatinya sedang tidak baik dan orang-orang ini datang dengan sendirinya mencari masalah.
"Benarkah? Aku tidak melihat tanda dilarang masuk. Dan lagi pula sejak kapan tempat ini menjadi wilayah kalian?"
"Itu tak penting. Karna kau telah masuk ke wilayah kami maka kau tidak akan kami biarkan dapat keluar dari sini dengan mudah," ancam pemimpin dari kelompak tersebut menakut-nakuti.
"Tapi jika kau memberikan kami sejumlah uang mungkin kami akan sedikit mempertimbangkan untuk mengampunimu," sambung salah satu pria yang lain.
"Hehe... Mengampuniku? Aku rasa kata pengampunan itu lebih cocok untuk kalian. Tapi biarpun kalian bersujud sambil membenturkan kepala kalian ke tanah, aku tidak akan mengampuni kalian sedikitpun. Karna suasana hatiku tidak sedang baik hari ini, jangan salahkan aku malah melampiaskannya pada kalian semua telah."
Aura membunuh seketika bangkit dari diri Veeno. Tatapan matanya yang tajam menambah tekanan yang begitu kuat. Tubuh para preman jalanan itu merespon rasa takut. Ini ditandai dengan tubuh mereka yang gemetar dan tanpa sadar mundur selangkah.
"Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku gemetar begini? Siapa pria ini sebenarnya? Kenapa aura nya begitu kuat? Tatapan itu... Aku belum perna melihat tatapan mata yang seperti dua buah bila pisau yang telah banyak membunuh orang. Tidak! I-ini pasti hanya perasaanku saja. Jumlah kami jauh lebih banyak darinya yang cuman sendirian," pikir bos preman itu meyakinkan dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε