The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Klub malam



"Aku semakin tidak percaya kalau kau menyukai seorang wanita. Kelakuan mu ini terlalu kekanak-kanakan untuk remaja berumur 18 tahun."


"Jadi maksud kakak aku harus tampil keren dan cool seperti kakak?"


"Aku tidak mengatakan itu."


"Iya, iya. Tidak salah aku meminta nasehat dari kakakku yang tampan ini," kata Yuval pada diri sendiri.


"Otak bocah ini sudah rusak," batin Hedrick. "Yuval, aku tidak melarangmu menyukai seorang wanita tapi satu nasehatku, berhati-hatilah."


"Berhati-hati?"


"Kebanyakan wanita itu licik. Mereka tidak sungguh-sungguh menyukai pria karna perasaan. Banyak diantara mereka yang cuman mendekati pria hanya untuk menguras harta bendanya saja."


"Kakak jangan khawatir. Gadis yang aku sukai ini sangat baik, tutur katanya lembut dan wajahnya begitu manis. Dia sudah menjadi temanku sejak masuk universitas."


"Lantas kenapa kau tidak segera menembaknya?"


"Aku takut dia menolak ku."


"Hah? Adik sepupuku ini ternyata bisa penakut juga."


"Bukan begitu! Lagi pula..." Yuval tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tertunduk murung sambil memalukan muka dari Hedrick.


"Oh... Apa gadis yang kau taksir itu sudah punya pacar?" tebak Hedrick


"Tidak."


Mereka terdiam sebentar untuk beberapa saat. Raut wajah Yuval masih terlihat murung. Sepertinya ada yang mengganggu dalam hatinya.


"Hei, mau ikut aku ke klub malam hari ini?" kata Hedrick coba menghibur Yuval.


"Apa boleh?"


"Asalkan ibumu tidak tahu dan kau tetap ada disampingku, aku rasa tidak masalah."


Malamnya, seperti yang Hedrick janjikan, ia mengajak Yuval pergi ke salah satu klub malam yang cukup terkenal di kota. Mereka hanya pergi berdua. Veeno tidak bisa ikut karna harus kerja lembur di laboratorium. Iya, walau tidak terlalu asik tanpa kehadiran Veeno tapi ya sudahlah. Lagian malam ini cuman mau menemani Yuval bersenang-senang. Sebagai salah satu tuan muda misterius, Hedrick tidak segan-sengan menggunakan identitas samarannya dihadapan adik sepupunya. Yuval cukup dibuat terkaget kalau ternyata kakaknya ini begitu disegani di klub malam yang mereka datangi tersebut. Disaat melihat mobil Hedrick berhenti di depan klub malam itu, mereka segera disambut dengan hormat.


"Selamat datang Mr. Auxerrois. Sudah lama sejak terakhir anda datang klub malam kami yang sederhana ini. Em... Apa anda datang sendirian?" tanya penanggung jawab klub itu sambil celingak-celinguk mencari keberadaan mobil Veeno.


"Aku datang bersama adikku," Hedrick memperkenalkan Yuval pada penanggung jawab klub malam itu.


"Oh... Ternyata anda adalah adik Mr. Auxerrois Suatu kehormatan dapat berjumpa dengan anda. Silakan masuk. Nikmatilah pesta malam ini. Kami akan menyediakan anggur terbaik kami. Saya harap anda suka," pria itu mempersilakan Hedrick dan Yuval masuk.


"Bisa dibilang aku cukup disegani di dunia malam. Sekarang nikmatilah pesta ini."


Pria yang bertugas menjadi penanggung jawab klub malam tersebut menuntuk Hedrick dan Yuval menuju meja mereka. Bersamaan dengan mereka datang, beberapa wanita yang berkerja di klub malam itu segera menghampiri sambil membawa botol anggur. Pakaian mereka teramat seksi sekali dengan gaya berjalan yang melengang. Sudah tugas mereka melayani para tamu sambil menggoda. Sungguh suatu keberuntungan jika tamu tersebut menyukai mereka dan mau menghabiskan malam bersama. Mereka bisa mendapat bayaran yang tinggi. Tapi Hedrick tidak terlalu suka bersenang-senang bersama wanita yang ada di klub malam. Tidak seperti Veeno yang bisa menarik dua sampai tiga wanita sekaligus hanya untuk menemaninya minum. Hedrick paling memilih satu wanita yang cukup pemalu diantaranya. Setidaknya wanita tersebut tidak terlalu berisik.


Seperti klub malam pada umumnya, semua yang datang kesini khusus untuk berpesta. Musik tidak henti-hentinya dimainkan. Aroma alkohon menyebar begitu kuat diantara orang-orang yang menari sambil bermandikan cahaya dari lampu warna-warni. Bagi Yuval yang jarang pergi ke klub malam, ini merupakan pengalaman baru yang mengasikan. Biarpun umur Yuval telah menginjak usia 18 tahun tapi ibunya masih melarang Yuval pergi ke tempat-tempat seperti itu. Bukan tanpa alasan, ibunya takut terjadi apa-apa pada putra semata wayangnya ini. Ia belum berani membiarkan Yuval mengenal dunia malam yang menurutnya tempat dimana kelompok anak-anak nakal berkumpul. Tapi Yuval bukan anak kecil lagi yang senan tiasa terus dikhawatirkan. Ia sudah tumbuh menjadi remaja yang mampuh menjaga dirinya sendiri. Tidak heran ia beberapa kali diam-diam pergi ke klub malam bersama teman-temannya atau bersama Hedrick seperti malam ini.


Ditengah asiknya berpesta tiba-tiba datang pengacau. Tiga orang remaja datang menghampiri meja mereka. Ketiga remaja ini sepertinya mengenal Yuval. Iya, karna tidak mungkin juga ketiganya datang mencari masalah dengan Hedrick.


"Wah... Apa aku tidak salah lihat? Si cupu Yuval ternyata bisa datang ke klub malam juga," ejek salah satu remaja.


"Nolan?! Kau juga ada di kota ini?" Yuval cukup dibuat terkejut bertemu dengan salah satu musuhnya di kampus. Ia sontak langsung berdiri.


"Siapa dia Yuval?" tanya Hedrick yang mulai tidak senang dengan kehadiran bocah ingusan menurutnya.


"Dia Nolan, salah satu teman sekelas ku. Dia selalu mengganggu ku di kampus," jelas Yuval pada Hedrick. "Apa maumu? Bagaimana bisa kau ada disini?"


"Bagaimana bisa aku ada disini? Klub malam ini milik teman papaku. Tidak ada yang bisa melarang ku ada disini. Sebaliknya kau, orang miskin sepertimu tidak cocok ada di klub berkelas ini, tahu!" Nolan mendekatkat wajahnya ke telinga Yuval lalu berbisik dengan nada mengancam. "Dan lagi, sebaiknya kau jauhi Trisha, dia itu tunanhanku."


"Ooh... Apa karna ini Yuval tidak berani menembak gadis yang disukainya itu," batin Hedrick yang mendengar bisikan tersebut. "Perhatikan ucapanmu, bocah. Kau tidak tahu siapa yang kau singgung. Sebaiknya kau segera minta maaf pada adikku sebelum menyesal," kata Hedrick sambil menatapan tajam pada Nolan. Ia masih mencoba menahan diri.


"Kaulah yang tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Memintaku minta maaf padanya? Yang benar saja. Tapi aku tidak akan mempersoalkan perkataanmu tadi, tuan. Asalkan kalian pergi dari sini karna kalian sangat mengganggu pemandangan ku."


"Tch! Kau beruntung berasal dari keluarga kalangan atas, kalau tidak... Aku pasti sudah menghajarmu! Sebaiknya aku segera mengajak kakak pergi dari sini. Aku tidak terima kakakku terus dihina olehnya," geram Yuval dalam hati. "Ayok kak, kita pergi. Masih banyak tempat lain di kota ini."


"Kau benar Yuval. Masih banyak tempat hiburan lain di kota ini," Hedrick berdiri menghampiri Yuval yang telah melangkah pergi.


"Aku pikir kakak Yuval ini hebat. Ia sempat membuatku takut tapi nyatanya sama saja dengan adiknya yang pengecut itu," batin Nolan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε