The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Project penelitian



"Irina!" panggil Jordan sambil bergegas menghampiri Irina. Ia lalu menarik Irina dalam pelukannya.


"Irina, apa yang terjadi?" tanya kepala polisi pada Irina.


"Da-dalam ba-gasi mobil," tunjuk Irina dengan tubuh gemetar hebat sangking takutnya.


Kepala polisi itu melirik ke dalam bagasi mobil. Ia terentak saat melihat kepala manusia berlumuran darah ada di dalam bagasi.


"Mereka pasti meletakan saat kita masih ada di taman hiburan. Sewaktu kita tahu lokasi selanjutnya adalah kantor polisi, sudah dapat dipastikan kita akan kembali kesini. Jika seperti ini, jadi seolah-olah kita lah yang membawanya ke kantor polisi," ujar Jordan sambil masih mendekap Irina dalam pelukannya.


"Sudah aku duga mereka punya cara. Dasar orang-orang licik!"


"Ada pesan yang ditinggalkan."



...⚛⚛⚛⚛...


Sudah hampir seminggu ini Felicia tidak bicara dengan Hedrick. Hubungan mereka semakin rengang apalagi Hedrick tidak terlihat lagi mengunjungi vila. Terakhir ia datang pada saat mengadakan pesta BBQ, itupun pagi-pagi buta ia telah kembali ke kota. Perkataan Hedrick waktu itu masih membekas di hati Felicia. Ia benar-benar tidak menyangka Hedrick akan berkata demikian. Namun anehnya Felicia sama sekali tidak marah. Memang benar hatinya tersakiti tapi... Tidak seperti dulu-dulu yang setiap kali Hedrick berkata kasar padanya, darahnya seketika naik. Emosinya meluap-luap. Lontaran kata-kata yang lebih kasar dan biadab meluncur keluar begitu saja dari mulut. Bahkan sangking bencinya, tidak ada setetespun air mata yang mengalir dari mata Felicia.


Tapi sekarang Felicia lebih memilih menangis saat mendengar kalimat tersebut. Apa yang terjadi? Apa mungkin Felicia perlahan-lahan mulai memiliki perasaan terhadap Hedrick? Jika itu benar, bagaimana dengan Hedrick sendiri? Memikirkannya saja membuat Felicia dilanda kegelisahan. Ingin rasanya Felicia mengatakan hal ini, ngobrol bersama hanya mereka berdua saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Namun sikap Hedrick saja terlihat acuh tak acuh padanya. Ia semakin menjaga jarak dan sebisa mungkin menghindari kontak mata langsung dengan Felicia. Ini membuat Felicia menjadi canggung jika harus berhadapan dengan Hedrick lagi.


Rutinitas keseharian Hedrick jalani seperti hari-hari biasa. Bangun tidur, pergi kerja dan pulang, atau sesekali di sore hari ia mengajak Max jalan-jalan di taman. Saat ini ia belum memikirkan pertunjukan seni mereka selanjutnya, walau sebenarnya target mereka telah ditetapkan sesuai kode yang telah mereka tinggalkan. Untuk sekarang Hedrick masih malas ingin bermain. Ia mau menikmati hari paralel nya dengan santai. Tapi sepertinya hal itu akan berakhir sudah saat Veeno tiba-tiba mampir ke rumahnya dengan raut wajah masam.


"Ada apa denganmu? Wajahmu seperti lemon," tanya Hedrick sambil menyajikan secangkir kopi untuknya.


"Hedrick, bagaimana kalau eksekusinya dipercepat saja? Aku sudah tidak tahan ingin mencincang gadis itu," kata Veeno dengan aura membunuh yang kuat.


"Beritahu aku dulu alasannya."


"Hari ini aku benar-benar kesal melihatnya. Bisa-bisa ia menghancurkan project penelitian ku yang sudah aku kerjakan lebih dari sebulan yang lalu!"


"Tunggu dulu, tenangkan dirimu. Bagaimana bisa ia menghancurkan project penelitian mu? Secara dia adalah seorang mahasiswa."


"Hari ini aula laboratorium digunakan sebagai tempat digelarnya perlombaan sains, dan bocah itu ikut karna perlombaan tersebut berkelompok. Ditengah-tengah acara tidak tahu apa yang ia dan salah seorang temannya lakukan tiba-tiba datang ke ruang kerjaku. Mereka mengutak-atik barang-barang ku lalu mengambil sesuatu. Disaat itulah mereka kemudian menjatuhkan project penelitian yang sedang aku kembangkan. Dan yang lebih menjengkelkan lagi mereka malah kabur begitu saja tanpa mau bertanggung jawab! Aku melihat semua itu melalui rekaman ulang cctv."


"Jika terekam cctv, tinggal panggil saja mereka untuk mempertanggung jawabkan kesalahan mereka."


"Tentu saja mereka berdua telah dipanggil. Tapi aku tetap tidak terima. Apa kau tahu betapa sulitnya aku menyelesaikan penelitian itu dan sekarang aku harus mengulanginya dari awal karna kecerobohan mereka. Tidak, kata minta maaf saja tidak akan cukup."


"Ya sudah kalau begitu acara balas dendam mu kita lakukan besok saja."


"Hei, boleh aku menginap disini malam ini?"


"Kenapa kau masih bertanya?"


...⚛⚛⚛⚛...


"Apa yang kau inginkan memanggil kami kemari? Bukankah kami sudah minta maaf padamu, profesor?" kata Irina sedikitpun tampa sopan santun.


"Kau pikir minta maaf saja sudah cukup?"


"Lalu kau maunya apa? Minta ganti rugi? Baik. Kami akan mengganti rugi project penelitian mu itu. Memangnya berapa banyak uang yang kau keluarkan?"


"Aku sama sekali tidak memerlukan uang mu yang sedikit itu."


"Nada bicaramu itu sombong sekali ya."


"Sudahlah, Irina. Profesor Veeno adalah senior kita.," kata Cika menepuk bahu temannya. "Kami mengaku salah atas perbuatan kami kemarin. Profesor tinggal meminta apa saja agar mau memaafkan kami. Atau kami bisa membantu anda menyelesaikan project penelitian anda?"


"Tch, dengan otak kalian yang tidak sebesar biji ek itu mau melakukan penelitian? Ya benar saja. Project penelitian ku bisa bertambah hancur jika aku membiarkan kalian membantu."


"Veeno, kau tidak boleh kasar begitu. Mereka masih gadis-gadis yang lugu," kata Hedrick mencoba menenangkan Veeno. "Bagaimana kalau kalian ikut kami saja?"


"Ikut kalian? Kemana? Jangan berpikir mau melakukan hal yang aneh-aneh pada kami. Aku bisa melaporkan kalian pada ayahku," ancam Irina.


"Otakmu yang terlalu berpikiran aneh-aneh. Aku memiliki satu project penelitian yang belum aku uji coba. Kalian berdua harus suka rela membantuku."


"Cuman melakukan uji coba, baiklah kami akan membantumu. Jika dengan begitu bisa membuatmu puas."


"Baguslah kalau kau kalian tidak bersikeras menolak dan langsung menyetujuinya."


"Kita berangkat sekarang."


Mereka keluar dari restoran tersebut setelah membayar pesanan mereka. Hedrick dan Veeno sengaja meminta Irina dan Cika satu mobil bersama mereka. Kedua gadis itu menyetujuinya walau dengan sangat terpaksa. Hedrick melajukan mobilnya memasuki jalan raya. Setelah berkendara selama 15 menit, mobil yang mereka tumpangi kini keluar dari area perkotaan. Masih belum dilanda curiga, Irina dan Cika sama sekali tidak mempertanyakan kemana kedua pria ini akan membawa mereka. Mobil terus melaju memasuki hutan belantara. Tak berapa lama kemudian akhirnya Hedrick memarkirkan mobilnya di depan sebuah sebuah bangunan kosong. Bangunan tersebut tampak sudah sangat tua dengan lumut dan rumput liar memenuhi dinding.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε