The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Ajakan



"Baiklah. Kenapa juga aku harus repot-repot mengurusi si pengganggu itu? Dia seorang pria dewasa bukan anak kecil lagi," Monica mengambil tempat duduk disebelah Hedrick sambil menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut.


"Si pengganggu? Julukan yang cukup unik untuk atasanmu sendiri."


"Jangan bilang siapa-siapa. Sebenarnya aku benar-benar jengkel dengan orang itu. Ia selalu mengganggu urusan pribadiku dan mengaitkannya dengan pekerjaan. Masa iya aku dilarang berpacaran karna alasan bisa mengganggu fokus dan kinerja ku dalam berkerja? Itukan aneh."


"Mungkin ia suka padamu sebab itu kau dilarang mendekati pria lain. Dia cemburu."


"Suka? Haha... Dia itu pria menjengkelkan. Biarpun dia menyukaiku, belum tentu aku menyukainya. Lagi pula aku sudah memiliki orang yang aku sukai."


Monica tampak tersenyum begitu mengingat wajah orang yang ia sukai itu namun ada sedikit kerinduan terpancar dari wajahnya.


"Oh... Beruntung sekali pria itu dapat disukai oleh gadis pekerja keras sepertimu."


"Dia teman masa kecilku. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya."


"Memangnya dia pergi ke mana?"


"Dia seorang prajurit tentara angkatan udara," jawab Monica. Ia terdiam sebentar lalu melanjutkan." Ya... Walaupun begitu dia tidak perna lupa untuk menghubungi temannya ini. Dia masih sempat-sempatnya meneleponku diwaktu luang nya hanya untuk bergurau dan bercerita mengenai banyak hal."


Nada bicara Monica seketika berubah semata-mata hanya ingin menyembunyikan perasaannya. Biarpun Hedrick berhati dingin namun ia masih bisa memahami sedikit apa yang dirasakan Monica. Ia sadar kalau hatinya tidak sebeku yang ia kira.


"Kau sama sekali tidak perna mengungkapkan perasaan mu padanya?" tebak Hedrick membuat Monica tersentak kaget.


"Apa?! I-itu... Soal itu..." mendengar pertanyaan tersebut membuat Monica gugup. Tapi ia tidak dapat menyangkal hal itu. "Mana ada seorang wanita yang duluan menyatakan perasaannya," sambung kemudian dengan suara pelan.


"Kenapa tidak?" tanya Hedrick.


Tanpa sadar Hedrick membetulkan helaian rambut Monica yang tertiup angin. Monica menoleh begitu menyadari sentuhan tersebut. Sontak Hedrick tersadar dan langsung menjauhkan tangannya.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud."


"Tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Monica sambil tersenyum.


Hedrick membalas senyuman tersebut. "Jujur saja sejak pertama kali melihatmu aku merasa tidak asing denganmu."


"Kenapa? Apa aku mirip dengan orang yang kau kenal atau memang kita perna bertemu sebelumnya?


"Kau mirip sekali dengan kakak perempuanku. Dari wajah dan sifat kalian juga sama."


"Eh.... Ternyata kau memiliki seorang kakak perempuan?"


"Iya. Tapi dia telah meninggal saat umurku 12 tahun."


"Maaf. Aku tidak tahu itu."


"Tak apa."


Senyap sesaat. Tidak ada percakapan diantara mereka. Hedrick dan Monica sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Hei, apa kau suka bermain kartu?" tanya Hedeick memecah keheningan.


"Itu berarti kau bisa. Mau ikut kami ke Casino malam ini?" ajak Hedrick.


"Em... Boleh. Tapi aku ajak satu temanku, ya?"


"Ramai-ramai lebih bagus. Setelah makan malam kita langsung ke Casino. Aku akan mentraktirmu."


"Sepakat. Aku menantikannya. Sampai jumpa nanti malam," Monica beraja dari kursi lalu melangkah pergi.


"Nanti malam."


Sebuah janji. Hedrick tidak menyangka akan membuat janji dengan seorang wanita tanpa ada maksud tertentu di baliknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasakan perasaan keterbukaan dan bisa bersikap lembut pada wanita. Selamat ini ia cuman memandang wanita sebagai makhluk murahan, yang tahunya cuman menghamburkan uang saja dan bodoh. Tapi setelah bertemu dengan Monica entah mengapa membuat ia yakin kalau masih ada wanita baik di luar sana. Mungkin perjalanan ini sedikit mengubah pandangan terhadap wanita. Setelah melamun sesaat Hedrick kembali ke kabinnya.


"Kenapa kau begitu lama?" tanya Veeno tanpa melirik Hedrick yang melangkah masuk.. Matanya terfokus pada video game yang ia mainkan.


"Aku bertemu Monica. Ia menyadari ketidakhadiran Ricardo hari ini dan menanyakan keberadaannya padaku."


"Lalu apa kau jawab?"


"Ya tentu saja aku menjawab tidak melihatnya. Dan tadi aku sedikit menyakinkan Monica agar tidak terlalu mempedulikan orang itu."


"Hei, kau tidak jatuh cinta padanya, 'kan?"


Hedrick menatap Veeno dengan dingin. "Memanya aku orang yang seperti itu? Perasaan itu telah hilang dalam diriku sejak kejadian 13 tahun yang lalu."


"Bercanda. Ayok lah, jangan menatapku seperti itu. Kau seolah-olah ingin membunuhku."


...⚛⚛⚛⚛...


Jam 19.50 setelah makan malam Hedrick menepati janjinya mengajak Monica bermain kartu di Casino. Mereka tentu tidak sendirian. Selain Veeno dan satu teman Monica bernama Poppy, Mereka juga mengajak Hazel, Lily dan Ted. Sampai di Casino itu mereka dimanjakan dengan semua kemewahan yang ada. Ruangan sangat luas begitu ramai oleh pengunjung yang mencari peruntungan atau sebenarnya menghamburkan uang mereka dalam jumlah besar tanpa sadar. Hedrick dan yang lain pergi ke ruang penukaran chip. Menonton saja tidak seru, ikut bermain itu baru menyenangkan. Saatnya mencoba berbagai macam bentuk perjudian yang ada. Tak lupa Hedrick juga menempati janjinya yang lain pada Monica untuk mentraktirnya malam ini. Seratus chip Hedrick berikan secara cuma-cuma untuk Monica dan Poppy.


Malam itu mereka semua bersenang-senang sambil menikmati minuman beralkohol yang ditawarkan oleh para pelayan wanita di Casino itu. Awalnya mereka masih satu kelompok tapi lama-kelamaan mereka mulai berpencar. Veeno mengajak Hazel ke sisi kiri Casino. Disana terdapat permainan kesempatan dan deretan game judi digital. Sedangkan Ted dan Lily, tidak ada yang tahu mereka pergi kemana. Mereka tidak perna menetap di satu tempat permainan dalam jaka waktu lama. Tinggallah Hedrick bersama Monica dan Poppy. Ia cukup beruntung mendapatkan dua gadis sekaligus yang menemaninya malam ini.


Hedrick mengajak Monica dan Poppy mencoba permainan kartu. Mereka berdua menyetujuinya. Dengan kepingan chip sebagai taruhannya, mereka mulai ikut dalam permainan. Setelah kartu dikocok dealer casino membagikan kartu tersebut ke semua pemain. Keberuntungan cukup diandalkan dalam permainan ini. Namun itu tidak berlaku bagi Hedrick. Ia telah sering sekali bermain permainan kartu seperti ini. Trik-trik sederhana telah dikuasai nya dengan sangat baik agar bisa menang. Trik seperti ini sudah biasa digunakan oleh pejudi-pejudi ahli. Dengan hanya mengandalkan keberuntungan saja kecil kemungkinan untuk menang. Sejak awal permainan ini memang tidak ada yang jujur.


Berkat keahliannya Hedrick berhasil memenangkan permainan dalam beberapa kesempatan. Ia juga membantu mengajari Monica dan Poppy bermain. Namun seperti yang dikatakan tadi tanpa melakukan trik tersembunyi sangat sulit memenangkan permainan ini. Monica cuman perna menang sekali sementara Poppy tidak perna. Semua pemain di meja tersebut terlalu licik. Mereka bahkan tidak akan memberi celah sedikitpun pada setiap lawan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε