The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Pemantauan target



Besoknya mereka pergi ke salah satu universitas di kota, tempat dimana target mereka berkuliah. Demi melancarkan aksi pengintaian mereka, Hedrick dan Veeno menyamar sebagai Office boy di universitas tersebut. Dengan pakaian serta perlengkapan Office boy semakin menyakinkan penyamaran mereka. Target terlihat keluar dari kelas. Hedrick dan Veeno menggunakan kode mata lalu mengikuti target secara diam-diam. Seorang wanita berambut pirang bergelombang terlihat melengan menuju halaman belakang universitas. Disana ternyata telah menunggu seorang pria yang dipastikan adalah pacar dari wanita itu. Mereka sudah berjanji bertemuan disana. Mereka saling menyapa lalu berciuman layaknya sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.


"Baru bertemu mereka langsung lengket seperti perangko," gumang Hedrick yang mengintip dibalik tembok.


"Pantas saja mereka mengajak temuan di tempat sepi seperti ini. Aku jadi sedikit penasaran apa mereka berani berbuat lebih berani?"


"Melihat dari raut wajah mereka pastinya mereka sudah perna melakukan itu."


"Mereka bergerak. Ayok kita ikuti."


Hedrick dan Veeno kembali mengikuti gerak gerik dari sepasang kekasih itu. Tidak ada yang menarik mereka temukan selain informasi kebiasaan keduanya, alamat rumah dan orang-orang terdekat mereka. Hedrick dan Veeno memutuskan untuk mengakhiri penyelidikan hari ini. Tapi tampa diduga mereka menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Disaat mereka berpencar mengikuti sepasang kekasih itu yang telah berpamitan. Rupa-rupanya perpisahan itu merupakan awal pertemuan keduanya dengan pacar mereka yang lain. Hedrick dan Veeno benar-benar tidak percaya akan hal ini. Dibalik kemesraan yang ditunjukan sepasang kekasih itu ternyata menyimpan suatu penghianatan.


"Ooh... Ini benar-benar gila. Mereka ternyata saling berselingkuh," kata Hedrick setelah mendengar kabar dari Veeno kalau si wanita bertemu dengan pria lain.


"Dimana kemesraan mereka sebelumnya? Semua itu palsu. Aku rasa dia cocok untuk menjadi karya seni kita selanjutnya," ujar Veeno melalui telpon.


"Aku punya ide yang lebih bagus."


"Ooh... Apa itu?"


"Bagaimana kalau kita jadikan keduanya sebagai seni? Mr. R bilang 'kan ia menginginkan sejumlah organ tubuh dalam jumlah banyak," saran Hedrick.


"Boleh juga. Jika kita bisa mendapatkan dua, kenapa harus memilih satu."


...⚛⚛⚛⚛...


Jam 20.30 di hari berbeda. Hedrick dan Veeno siap melancarkan aksi mereka. Sepanjang hari ini mereka telah mengikuti sepasang kekasih itu untuk menunggu waktu dan tempat yang tepat. Sekembalinya dari bioskop mereka tancap gas menuju hotel di pinggiran kota. Hotel yang tampak sepi dari para pengunjung. Sepertinya hotel ini memang dikhususkan untuk pemesan yang ingin menikmati kesenangan dunia. Pria itu mengandeng tangan sang pacar masuk hotel lalu melakukan pemesanan kamar. Mereka terlihat sudah biasa memesan kamar di hotel tersebut. Tak jauh di belakang sepasang kekasih itu, Hedrick dan Veeno telah mengikuti. Di dalam kamar bercahaya redup itu, si pria terus menggoda pacarnya. Keduanya bermesraan tanpa perlu takut dilihat oleh orang lain.


"Kau cantik sekali Teresa," kata si pria merayu pacarnya yang tersipu.


"Ah! Jangan terus menggodaku saja Iden," teriak Teresa tertahan begitu tangan pacarnya menyelinap masuk dibalik bajunya.


"Teriaklah semau mu. Tidak akan ada yang mendengarnya.


"Ahh...."


Suara itu terdengar lantang saat tangan Iden mulai memainkan gumpalan lemak yang kenyal itu. Puas memainkannya tangan Iden berbalik menyelinap ke rok mini Teresa. Tubuh Teresa begetar begitu dua jari Iden masuk dan mulai bergerak di dalam sana. Teresa memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tak tertahan lagi itu.


"Ohhww.... Pelan-pelan Iden. Ahh....." rintih Teresa.


Mendengar itu bukannya menuruti perkataan pacarnya, Iden malah memasukan satu jarinya lagi dan percepat gerakannya. Teresa mengerangan sambil meracau tak karuan. Melihat Teresa sudah mencapai batasnya, Iden menarik tangannya. Tampak Teresa terengah-engah karna permainan Iden. Tapi permainan sesungguhnya baru dimulai. Iden mendorong tubuh Teresa sampai terbaring di tempat tidur. Ia lalu melapaskan seluruh pakaian Teresa. Iden menelan ludah saat melihat tubuh Teresa yang begitu menggoda.


"Kau siap?"


"Pelan-pelan okey."


Teresa melebarkan kedua pahanya memamerkan itu pada pacarnya. Tanpa pikir panjang lagi Iden melepaskan pakaiannya dan langsung mengarahkan miliknya dan menodongnya masuk dalam sekali hentakan.


"AHH!!"


Teriakan Teresa terdengar nyaring atas perbuatan kasar tersebut. Ia mencengkram kuat seprei sambil memejamkan mata. Namun saat Iden baru hendak bergerak, mereka dikagetkan dengan suara di belakang mereka.


"Astaga, kau kasar sekali pada pacarmu itu," kata Hedrick yang telah duduk di kursi sambil merokok. Ia menghembuskan asap rokok tersebut ke udara.


"Ah..." rintih Terasa tertahankan.


Teresa sedikit malu mengeluarkan suara indah itu dihadapan pria yang tidak dikenal. Iden menarik selimut untuk menutupi tubuh Teresa. Ia bergegas mengenakan kembali celananya lalu turun dari tempat tidur.


"Jangan hiraukan aku. Silakan dilanjutkan. Malam masih panjang kawan."


"Iya. Bermainlah sepuasnya. Setelah ini kami ada hadiah untuk kalian berdua," sambung Veeno yang muncul di sudut lain kamar yang gelap.


"Sejak kapan kalian bedua ada disini?" tanya Teresa yang cuman tampak kepala saja dari balik selimut itu.


"Itu tak penting. Tapi kalau boleh aku katakan suaramu tadi sungguh sangat indah."


"Dasar berdebah kalian berdua! Berani sekali menggangu kesenangan ku dan malah menggoda pacarku!!" bentak Iden. Ia bergerak maju menyerang Veeno dengan kepalan tinjunya.


"Et, tenangkan dirimu dulu," Veeno menangkis serangan tersebut lalu berbalik memukul perut Iden.


"Argh!" Iden meringkuk kesakitan dengan darah keluar dari mulutnya.


"Iden!" panggil Teresa histeris.


"Yang benar saja kau langsung tumbang hanya dalam satu pukulan," Hedrick bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Iden yang masih terbaring di lantai. "Kalau aku jadi kau, aku malu loh kalah seperti itu dihadapan seorang wanita. Apalagi di depan pacar sendiri."


"Sungguh menyedihkan," timpal Veeno.


"Kurang ajar kalian!" Iden menatap benci pada Hedrick dan Veeno. Ia berusaha berdiri sambil berpengangan pada ranjang.


"Apa yang sebenarnya kalian mau dari kami?" tanya Teresa dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Maafkan kami karna membuat wanita sepertimu jadi takut. Tapi kedatangan bermaksud baik. Kami cuman ingin memberikan ini padamu."


Hedrick menyodorkan selembar foto pada Teresa. Betapa terkejutnya Teresa saat melihat siapa yang ada di foto tersebut. Itu adalah foto Iden yang sedang berciuman dengan wanita lain.


"Iden! Apa maksudnya foto ini? Siapa wanita itu?" bentak Teresa minta penjelasan.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Iden malah lebih kaget lagi begitu melihatnya. "Teresa, dengarkan aku dulu. I-ini tidak seperti yang kau pikir. Wa-wanita itu... Dia..."


"Sudah cukup Iden! Kau tidak perlu mencari alasan lagi!! Jelas-jelas kau ternyata telah berselingkuh di belakangku! Tidak aku sangkah ternyata selama ini kau menipuku!" teriak Teresa marah-marah sampai ia lupa kalau sebenarnya ia masih belum berpakaian. Buah dada yang montok bergoyang saat Teresa menghempaskan foto itu ke lantai.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε