The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Ada yang berubah



"Ini dia Sir, istri anda. Bagaimana menurutmu?"


Untuk sesaat Hedrick terdiam melihat perubahan berbeda dari penampilan Felicia. Wajahnya tampak lebih segar dengan rambut pirang panjang bergelombang itu terurai rapi. Felicia tampak seperti putri yang baru bebas dari penjara di menara tertinggi.


"Uhuk! Lumayan," jawab Hedrick sambil berbalik. "Ayok pergi."


"Wah... Seperti suamimu sangat puas dengan pekerjaanku. Dia bahkan sampai terpesona begitu saat melihatmu."


"Apa kau yakin? Menurutku tidak seperti itu."


"Sudah. Ayok cepat susul suamimu itu," pegawai salon tersebut mendorong Felicia untuk segera menyusul Hedrick yang telah melangkah menuju pintu keluar. "Lain kali datang lagi ya!"


"Iya. Terima kasih banyak," balas Felicia.


Diparkiran, Hedrick memasukan semua barang belanjaan di bagasi mobil. Setelah itu Hedrick menancap gas meninggalkan parkiran bawah tanah mall tersebut.


"Apa kita akan pulang?" tanya Felicia saat mobil telah memasuki jalan raya.


"Belum. Masih ada satu tempat yang harus kau datangi," jawab Hedrick tanpa menoleh sedikitpun.


Hedrick menambah kecepatan mobilnya memotong kendaraan lain di depan. 15 menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit. Felicia semakin bingung. Apa yang mereka lakukan datang ke tempat itu?


"Rumah sakit? Tapi aku tidak sakit. Untuk apa kita datang kesini?"


"Kau baru melahirkan sebulan yang lalu. Sudah seharusnya kau memeriksakan kesehatanmu."


Hedrick turun dari mobil disusul Felicia di belakangnya. Max dibiarkan tetap duduk di kursi belakang mobil dengan kondisi kaca mobil diturunkan seperempat agar udara bisa masuk. Coba saja kalau ada orang iseng yang berani macam-macam, Max pasti mengigit putus jarinya.


"Hah? Sejak kapan kau tiba-tiba bersikap baik seperti ini padaku? Bisanya juga setelah aku lahiran kau tidak perna datang untuk menjengukku lagi."


"Sejak Daisy hadir."


Felicia tersentak mendengarnya. "Apa benar lahirnya Daisy telah membuat Hedrick berubah? Dia memang tidak perna kasar lagi padaku. Walaupun ia terlihat cuek dan dingin, tapi kalau diingat-ingat dia cukup pengertian."


"Siapa yang akan merawatnya jika kau sakit dan akhirnya kau malah mati," sambung Hedrick kemudian tanpa perasaan.


"Aku salah. Dia masih menjadi pria yang menjengkelkan!" kata Felicia dalam hati dengan wajah cemberut.


Kemarin Hedrick telah membuat jadwa bertemu dengan dokter kandungan di rumah sakit tersebut. Jadi mereka tidak perlu mengambil nomor antrian lagi. Sambil mengandeng tangan Felicia, Hedrick melangkah masuk ke ruangan dimana dokter berada. Seorang dokter mempersilakan mereka duduk. Hedrick menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk melakukan pemeriksaan kesehatan Felicia paska melahirkan. Setelah mendengar menjelaskan dan keluhan langsung dari Felicia, dokter tersebut mempersilakan Felicia berbaring di ranjang yang telah tersedia. Dokter itu mulai melakukan pemeriksaannya. Setelah selesai ia mempersilakan Felicia duduk kembali di sebelah Hedrick.


"Menurut hasil pemeriksaan, ibu dalam kondisi baik. Hanya saja tubuhnya terbilang masih cukup lemah," kata dokter itu.


"Lemah? Dia bahkan sanggup mengelilingi mall seharian. Apanya yang lemah?" batin Hedrick.


"Disarankan perbanyak istirahat dan makan-makanan yang bergizi. Kurangi mengangkat beban yang berat, serta sebaiknya tidak perlu melakukan diet terlebih dahulu. Saya akan berikan obat penambah darah dan vitamin untuk membantu memulihkan kondisi ibu paska melahirkan."


Setelah dari rumah sakit barulah mereka pulang ke vila. Ditengah perjalanan Felicia tertidur sangking lelahnya jalan-jalan hari ini. Hampir menjelang malam mereka akhirnya sampai di vila. Hedrick tidak langsung membangunkan Felicia. Ia lebih memilih membopong Felicia kebali kamarnya. Sementara itu dua orang penjaga segera membantu membawakan semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Karna sudah malam Hedrick memutuskan untuk menginap saja di vila. Kebetulan Tina dan Amy baru selesai menyiapkan makan malam.


...⚛⚛⚛⚛...


Beberapa jam berkendara memasuki hutan Elly dibuat terpukau begitu melihat bangunan putih yang tersembunyi dibalik hutan belantara. Ia tidak menduga akan ada vila secantik itu di tengah hutan seperti ini. Mobil yang Hedrick kendarai berhenti tepat di depan vila. Seorang penjaga langsung membantu membukakan pintu mobil bagi Elly. Hedrick tidak akan sudi membukakan pintu bagi wanita yang akan menjadi teman mainnya. Hedrick mempersilakan Elly masuk. Elly semakin dibuat tak bisa berkata-kata saat melihat bagian vila yang mewah.


"Wow... Vila ini benar-benar mewah. Aku sepertinya sangat beruntung dapat menarik hati seorang pria kaya. Dengan begini hidupku akan terjamin tanpa harus bersusah payah lagi," batin Elly sambil melirik kesana kemari.


"Kau tunggulah disini. Aku mau ambil barangku yang tertinggal di dalam mobil," kata Hedrick yang dibalas anggukan.


Hedrick bergegas kembali keluar. Ia melupakan hadiah kecil untuk Daisy di mobilnya. Tak berselang lama tiba-tiba Elly dikagetkan dengan suara dari arah belakangnya. Hal itu sontak membuat ia berbalik.


"Siapa kau?" tanya Felicia saat melihat ada wanita asing di vila ruang tamu vila.


"Kau lah yang siapa? Bagaimana bisa kau ada di vila ini? Oh... Aku tahu. Kau pasti pembantu di vila ini, iya 'kan?" tebak Elly dengan nada sombong.


"Pembantu?"


"Elly, maaf aku..." kalimat Hedrick terputus saat melihat Felicia. "Oh, kalian sudah bertemu rupanya."


"Albert, kemana saja kau?" Elly seketika merangkulkan tangannya di leher Hedrick dengan manja seperti sepasang kekasih.


"Albert? Hedrick sejak kapan namamu berubah?" tanya Felicia pada Hedrick. "Siapa sih wanita ini? Kenapa lengket sekali sama Hedrick?"


"Tidak ada yang berubah. Namaku memang Albert Hedrick," jawab Hedrick datar seperti biasa.


"Hei, kau pembantu! Lancang sekali kau menyebut langsung nama tuan mu seperti itu!" bentak Elly tiba-tiba sambil menunjuk Felicia.


"Apa?! Kau..."


"Tidak usah pedulikan dia," potong Hedrick. "Ia memang selalu memanggilku seperti itu. Mari aku antar kau ke kamar mu," Hedrick merangkul bahu Elly mengajaknya naik ke lantai dua.


"Ah... Albert. Kau ini benar-benar pria yang baik. Dengan pembantu kurang ajar seperti itu saja kau tidak memarahi dia. Aku sungguh beruntung dapat berkenalan denganmu," Elly malah semakin menempelkan tubuhnya.


"Eee....! Dasar Hedrick. Sudah punya anak masih berani mendekati wanita lain!" geram Felicia sambil mengepalkan tangannya. Hening sebentar. Tak berapa lama Felicia sadar atas apa yang ia ucapkan. "AHH......! Apa yang aku pikirkan barusan?! Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Dia mau dekat dengan wanita lain silakan saja. Tidak ada urusannya denganku."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε