The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Penyusup



Setelah berpikir sesaat Hedrick memutuskan untuk menggendong Daisy. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh mungil Daisy lalu memapanya dalam pelukannya. Melihat tuanya sedang kesusahan, bukannya masuk membantu Tina malah cekikikan sambil merekam Hedrick. Ini merupakan kesempatan langkah melihat tuan mereka yang dingin harus dihadapkan dengan tugas mengurus bayi.


"Tina, apa yang kau lakukan?" tanya Felicia yang telah berdiri dibelakang Tina.


"Ah, Miss. Felicia. Lihat siapa yang ada di dalam," tunjuk Tina pada pemandangan langkah tersebut sambil terus merekam.


"Hedrick? Apa yang terjadi?"


"Ketika tiba disini kulihat Mr. Hedrick sudah ada di dalam. Lalu tak berapa lama Miss. Daisy terbangun dan menangis. Saat ini Mr. Hedrick sedang menenangkannya."


Melihat Hedrick yang begitu berusaha menenangkan Daisy yang sedang menangis membuat Felicia merasa bersalah telah menuduh Hedrick sebagai pembunuh waktu itu. Watak Hedrick memang dingin dan tidak berperasaan tapi ia cukup peduli di beberapa kesempatan. Walau Hedrick tidak perna menunjukan perhatiannya namun Felicia tahu akan hal itu.


"Oh... Jadi begitu. Lalu apa yang kau lakukan dengan hpmu itu, Tina?" tanya Veeno yang kehadirannya sendari tadi tidak di sadari keduanya. Itu membuat Tina dan Felicia terkejut.


"Veeno?!"


"Mr. Veeno?!


"Sutt..." dengan cepat Veeno menutup mulut keduanya sebelum Hedrick menyadari keberadaan mereka. "Apa kalian mau Hedrick tahu kalau kalian sedang mengintipnya dan bahkan sampai merekamnya? Hedrick bisa marah."


Veeno menurukam tangannya dari mulut Tina dan Felicia. Ia kemudian melangkah masuk menghampiri Hedrick. Felicia dan Tina menghela nafas lega karna Veeno tidak memberitahu pada Hedrick kalau mereka sedang mengintipnya.


"Hedrick, rupanya kau disini. Aku mencarimu kemana-mana."


"Jangan berisik! Dia baru saja diam," kata Hedrick dengan tatapan mengancam.


"Dia tidak kembali tidur?" lirik Veeno pada Daisy yang hendak menggapai-gapai wajah Hedrick.


"Aku rasa dia sudah tertidur cukup lama dan sekarang ingin bermain."


"Hedrick, menunduklah sedikit," pinta Veeno.


"Menunduk?"


Walau tidak mengerti apa yang Veeno rencanakan namun tanpa sadar Hedrick malah menundukkan kepalanya. Hedrick dibuat tersentak begitu tangan mungil Daisy menyentuh pipinya. Daisy terlihat tersenyum karna berhasil menggapai wajah sang ayah.


"Haha... Sepertinya Daisy menyukai wajah tampan ayahnya."


"He, masih bayi saja kau sudah suka mencolek wajah seorang pria. Bagaimana kalau sudah besar nanti?"


Melihat raut wajah Hedrick yang semakin dingin bukannya takut, Daisy malah tersenyum dan semakin berkeinginan untuk menyentuh pipi ayahnya lagi. Hedrick terpaksa membiarkan itu karna kalau tidak Daisy akan menangis. Lebih baik menahan diri dari pada mendengar suara tangisnya.


"Daisy sepertinya menyukaimu," ujar Felicia yang baru berani melangkah masuk.


Melihat Felicia masuk membuat Hedrick mengangkat kepalanya. Hal itu membuat Daisy menangis. "Kemana saja kau? Seharusnya kau menjaganya bukan meninggalkannya sendirian."


"Maaf. Aku tadi turun sebentar untuk makan siang."


Felicia hendak menggantikan Hedrick menggendong Daisy namun tangis Daisy malah semakin kencang. Ia ingin terus digendong ayahnya. Terlihat jelas Daisy merentangkan kedua tangannya kepada Hedrick sambil terus menangis saat berada dalam pelukan Felicia.


"Tidak. Aku adalah pria yang kasar. Seharusnya kau membenciku gadis kecil," tunjuk Hedrick pada Daisy.


Tidak disangka Daisy malah kembali tersenyum sambil menggenggam erat telunjuk Hedrick menggunakan kedua tangannya. Hedrick memalingkan wajahnya lalu menarik tangannya kembali. Daisy pun dibuat kembali menangis.


"Tidak ada alasan bagi dia untuk membenci ayahnya sendiri," kata Felicia tanpa melirik Hedrick.


"Aku tidak mau ia membuat ikatan atau kenangan bersamaku karna aku tidak akan bisa terus ada di sisi nya."


"Tapi kenapa?"


"Kenapa kau tanya? Sepertinya kau sangat suka menjadi tahanan kami."


Felicia sedikit tersentak mendengarnya. "Apa yang Hedrick maksud kemungkinan ia akan membebaskan aku dan Daisy? Tapi... Kenapa hati ini sama sekalk tidak senang?" batin Felicia menjadi gelisah. "Aku cuman menjadi tahananmu. Kau lah yang membawaku ke vila ini. Dan mau atau tidaknya kau membebaskan kami, tidak ada kaitannya kau tidak bisa terus bersama dia."


Hedrick hanya diam. Baru pertama kali ini dia dibuat tidak bisa menjawab kalimat yang dilontarkan seseorang padanya. Tiba-tiba salah seorang pengawal yang berjaga masuk ke kamar tersebut.


"Maaf mengganggu Mr. Hedrick, Mr. Veeno dan Miss. Felicia. Saya mau melaporkan kalau ada pengerat dengan beraninya masuk ke area terlarang," kata penjaga tersebut.


"Oh, benarkah? Sepertinya para tikus itu bersedia mengantarkan nyawa mereka sendiri," aura membunuh seketika terpancar dari tubuh Hedrick. "Ayok kita bereskan mereka Veeno."


"Baiklah," dengan riang Veeno mengikuti Hedrick keluar dari kamar itu.


"Tikus apa yang mereka maksud sampai kalian berdua sendiri turun tangan?" tanya Felicia penasaran sebelum Veeno keluar.


"Kami memang tidak perna memberitahu mu soal ini, Felicia. Tapi sesekali di hutan ini ada pengerat yang suka mengacau. Para pengerat ini harus dibasmi jika tidak bisa memancing hewan buas datang ke mari," jelas Veeno lalu berlalu pergi.


"Memangnya pengerat apa yang bisa memancing hewan buas? Kenapa aku belum perna mendengarnya sama sekali?"


Sebelum Felicia mendapat jawaban, Veeno telah menghilang dari hadapannya. Felicia tidak terlalu mau memusingkan soal itu. Ia lebih memilih untuk menenangkan Daisy yang masih menangis. Daisy tampaknya begitu suka dekat dengan ayahnya. Namun Hedrick terlihat enggan berinteraksi bersama Daisy lebih lama. Felicia sangat menyayangkan hal ini. Biarpun sudah ada harapan kalau nanti mereka dapat bebas dari tempat itu tapi sebenarnya Felicia mau Hedrick juga bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah. Bukannya egois namun ini demi kebahagian putri mereka. Suatu hari nanti Daisy akan tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria dengan semua pertanyaan keingintahuannya. Dalam masa ini peran seorang ayah juga sama besarnya bagi tumbuh kembang seorang anak.


Hedrick dan Veeno menyiapkan peralatan mereka untuk membasmi hewan pengerat. Hewan pengerat yang dimaksud disini bukanlah sejenis hewan pengerat yang sering ditemukan. Pengerat yang mereka maksud lebih merujuk pada orang-orang yang berani memasuki kawasan satu kilometer dari vila.


Ingat bagian betis Natasya yang tidak dijahit kembali ke tubuhnya di episode 36? Di episode ini aku akan menjelaskannya kegunaan gumpalan daging itu bagi Hedrick dan Veeno. Sebelum mereka mendapat ide membuat karya seni dari mayat korban mereka, Hedrick dan Veno biasa memotong-motong bagian tubuh mayat korbannya, setelah itu potongan-potongan tersebut ditebar disekelilingan vila sejauh 500 meter lebih dari halaman vila. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian binatang buas mendekat. Binatang buas yang biasa terlihat di dalam hutan itu kebanyakan adalah serigala.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε